Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. menyampaikan kuliah umum kepada peserta Sespimti Polri Dikreg ke-36, Sespimmen Polri Dikreg ke-67, dan SPPK Angkatan ke-4 Tahun Ajaran 2026 di Sespim Lemdiklat Polri, Bandung, Jawa Barat, Kamis (27/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar membekali para calon pimpinan Polri masa depan dengan konsep Neuroleadership atau kepemimpinan berbasis neurosains sebagai strategi menghadapi era kecerdasan buatan, disrupsi global, dan Indonesia Emas 2045.
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar membekali peserta Sespimti Polri dengan kepemimpinan berbasis neurosains, sebuah pendekatan yang diyakini menjadi kunci menghadapi era kecerdasan buatan, disrupsi global, dan Indonesia Emas 2045.
menitindonesia, BANDUNG — Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat akibat revolusi teknologi, kecerdasan buatan (AI), perubahan geopolitik, hingga ancaman keamanan yang makin kompleks, lahir sebuah pertanyaan mendasar: seperti apa sosok pemimpin yang mampu bertahan dan memenangkan masa depan?
Bagi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., jawabannya tidak hanya terletak pada kemampuan menguasai teknologi atau strategi organisasi. Pemimpin masa depan, menurutnya, harus memahami cara kerja otak manusia.
Pandangan itu disampaikan Taruna Ikrar saat memberikan materi kepada peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026 di Bandung, Kamis (27/8/2026). Kedatangannya disambut Koordinator Widya Iswara Sespim Lemdiklat Polri Irjen Pol. Dr. Toni Ariadi Efendi, S.H., S.I.K., M.M., bersama para Perwira Tinggi peserta Dikreg ke-36 Sespimti Polri yang tengah dipersiapkan menjadi pimpinan strategis Polri di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar didampingi Sekretaris Utama BPOM RI Irjen Pol. Dr. Jayadi, S.I.K., Deputi Bidang Penindakan BPOM Irjen Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.Sos., S.I.K., serta sejumlah pejabat pimpinan tinggi BPOM. Di hadapan para calon pemimpin Polri itu, ia memperkenalkan konsep kepemimpinan berbasis neurosains atau Neuroleadership sebagai fondasi menghadapi tantangan nasional dan global.
Menurut Taruna, dunia menuju 2045 akan menghadapi perubahan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pertumbuhan populasi global, urbanisasi masif, pergeseran kekuatan ekonomi ke Asia, perubahan iklim, krisis sumber daya alam, hingga perkembangan AI akan membentuk lanskap baru yang penuh ketidakpastian.
Dalam situasi seperti itu, Indonesia membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu merespons perubahan, tetapi juga mampu membaca arah perubahan sebelum orang lain melihatnya. Pemimpin yang memiliki ketangguhan intelektual sekaligus kecerdasan emosional untuk mengambil keputusan dalam kondisi penuh tekanan.
Otak Sehat, Kepemimpinan Kuat
Taruna menjelaskan bahwa neurosains mempelajari sistem saraf, terutama otak, sebagai pusat pengendali pikiran, emosi, perilaku, dan pengambilan keputusan manusia. Dari ilmu inilah lahir konsep neuroleadership, yaitu pendekatan kepemimpinan modern yang didasarkan pada pemahaman mengenai cara kerja otak manusia.
Menurutnya, otak manusia memiliki kemampuan luar biasa yang dikenal sebagai plastisitas otak, yakni kemampuan untuk berubah, beradaptasi, dan membentuk jejaring baru sepanjang hidup sebagai respons terhadap pengalaman dan lingkungan. Kemampuan inilah yang memungkinkan manusia terus belajar, berkembang, dan beradaptasi menghadapi perubahan zaman.
Taruna menekankan bahwa pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang merasa paling tahu, melainkan mereka yang terus belajar. Setiap pengalaman baru, setiap pengetahuan baru, dan setiap tantangan yang berhasil diatasi sesungguhnya sedang membangun koneksi-koneksi baru di dalam otak yang memperkuat kapasitas kepemimpinan seseorang.
Dalam paparannya, Taruna memperkenalkan empat prinsip utama neuroleadership. Pertama, self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan diri dan tetap tenang ketika menghadapi tekanan. Kedua, mindfulness, yakni kesadaran penuh terhadap situasi yang sedang dihadapi. Ketiga, empathy-based leadership, kemampuan memahami kebutuhan dan perasaan orang lain. Keempat, decision based on logic, yaitu kebiasaan mengambil keputusan secara rasional berdasarkan fakta dan data, bukan berdasarkan emosi sesaat.
Keempat prinsip tersebut, kata Taruna, menjadi fondasi penting bagi pemimpin modern untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, mengelola emosi, membangun kolaborasi, dan memimpin perubahan secara efektif.
Bagi peserta Sespimti Polri, materi tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat. Tantangan keamanan masa depan tidak lagi hanya berbentuk ancaman fisik, tetapi juga perang informasi, kejahatan siber, manipulasi digital, hingga berbagai bentuk disrupsi yang menuntut kecepatan sekaligus ketepatan dalam mengambil keputusan.
Taruna menegaskan bahwa kepemimpinan berbasis neurosains mampu memperkuat kemampuan organisasi dalam mengambil keputusan yang lebih cepat dan berbasis bukti, mengelola risiko secara lebih efektif, membangun sinergi lintas sektor, serta merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.
Ia juga mengulas pentingnya sinergi antara neurosains dan kecerdasan buatan. Menurutnya, AI memiliki kemampuan mengolah data dalam jumlah besar dan menghasilkan rekomendasi dengan kecepatan luar biasa. Namun teknologi tetap membutuhkan sentuhan manusia yang memahami etika, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itu, masa depan kepemimpinan tidak akan ditentukan oleh manusia atau mesin semata. Masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu menggabungkan kecerdasan teknologi dengan kebijaksanaan manusia.
Dalam konteks pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan, sinergi AI dan neurosains diyakini mampu melahirkan kepemimpinan yang lebih adaptif, keputusan yang lebih akurat berbasis data, pelayanan publik yang semakin human-centered, serta inovasi yang berkelanjutan.
Di penghujung kuliahnya, Taruna Ikrar meninggalkan empat pesan penting kepada para calon pimpinan Polri. Transformasi, katanya, harus dimulai dari diri sendiri sebelum mengubah organisasi. Teknologi harus memperkuat nilai kemanusiaan. Keputusan terbaik lahir dari otak yang sehat dan pikiran yang jernih. Dan yang terpenting, pemimpin adaptif adalah kunci menghadapi tantangan global masa depan.
Pesan tersebut terasa relevan bagi Indonesia yang tengah bersiap menyongsong Indonesia Emas 2045. Sebab di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, kualitas kepemimpinan akan menjadi faktor penentu apakah bangsa ini mampu menjadi pemain utama dalam percaturan global.
Taruna Ikrar percaya, masa depan Indonesia membutuhkan pemimpin yang berpikir jernih, bertindak rasional, memiliki empati, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan. Pemimpin yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memahami manusia.
Karena pada akhirnya, seperti yang ditegaskannya kepada para peserta Sespimti Polri, “Neuroleadership membangun kepemimpinan yang adaptif, humanis, dan siap menghadapi tantangan global masa kini dan masa depan.”