Taruna Ikrar Gandeng Kalbe, BPOM Pacu Revolusi Terapi Gen dan Sel di Indonesia

Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menghadiri Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 yang diselenggarakan Kalbe Farma di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Forum ilmiah ini menjadi wadah kolaborasi antara regulator, industri, dan akademisi untuk mempercepat pengembangan precision medicine, terapi gen, dan terapi sel di Indonesia.
  • Kolaborasi regulator, industri, dan ilmuwan menjadi fondasi baru untuk membawa terapi gen dan terapi sel dari laboratorium menuju harapan nyata bagi jutaan pasien Indonesia.
menitindonesia, JAKARTA — Indonesia tengah memasuki babak baru dalam dunia kesehatan. Ketika negara-negara maju berlomba mengembangkan terapi gen, terapi sel, dan precision medicine sebagai masa depan pengobatan, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memastikan Indonesia tidak akan menjadi penonton.
Melalui kolaborasi strategis antara BPOM, Kalbe Farma, komunitas ilmiah, dan dunia medis, Indonesia mulai membangun fondasi kuat untuk menghadirkan pengobatan yang lebih personal, lebih presisi, dan lebih efektif bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Taruna Ikrar saat membuka Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 yang diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk bersama Stem Cell and Cancer Institute (SCI) Jakarta. Forum ilmiah tersebut mengangkat tema “Where Science Meets Purpose, Growth, and Hope: The Next Chapter of Precision Medicine & Cell Therapy.” di The St. Regis Hotel, Jakarta, Sabtu (19/82026).
Bagi Taruna Ikrar, tema tersebut mencerminkan perubahan besar dalam lanskap kesehatan global. Dunia kedokteran tidak lagi bertumpu pada pendekatan pengobatan yang seragam untuk semua pasien. Sebaliknya, layanan kesehatan bergerak menuju sistem yang prediktif, preventif, dan personal berdasarkan karakteristik biologis masing-masing individu.
BACA JUGA:
Catatan Kuliah Umum Taruna Ikrar di Lemdiklat Polri: Kepemimpinan, Otak, dan Nurani
Transformasi itu ditopang oleh kemajuan genomik, multi-omics, kecerdasan artifisial (AI), gene editing, serta terapi berbasis sel. Teknologi-teknologi tersebut memungkinkan terwujudnya prinsip lima ketepatan dalam precision medicine, yakni memberikan obat yang tepat kepada pasien yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan dosis yang tepat, dan melalui cara pemberian yang tepat.
Potensi ekonominya pun sangat besar. Pasar precision medicine global diproyeksikan tumbuh dari USD 119 miliar pada 2025 menjadi USD 537 miliar pada 2035. Sementara penggunaan AI di sektor farmasi diperkirakan meningkat dari USD 4,35 miliar menjadi USD 34,99 miliar pada 2031.
Lebih penting lagi, berbagai terobosan terapi imun dan gene editing seperti CAR-T Therapy telah membuka harapan baru bagi pasien dengan kanker stadium lanjut, penyakit autoimun, kelainan genetik, hingga penyakit langka yang sebelumnya sulit ditangani.
WhatsApp Image 2026 08 29 at 20.03.39 e1788008657124
 

Regulator yang Mendorong Inovasi

Meski peluangnya sangat besar, Taruna Ikrar mengingatkan bahwa pengembangan Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs) tetap menghadapi tantangan kompleks. Mulai dari pembuktian ilmiah, risiko biologis, kesiapan fasilitas produksi, pengawasan regulatori, hingga memastikan terapi inovatif dapat diakses secara adil oleh masyarakat.
Karena itu, BPOM mengambil posisi yang progresif. Di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar, regulator tidak ditempatkan sebagai penghambat inovasi, melainkan sebagai enabler yang memastikan setiap terobosan teknologi kesehatan berkembang secara aman, bertanggung jawab, dan tetap menjaga kepercayaan publik.
BACA JUGA:
BRIN Diminta Prabowo Cari Teknologi Ampuh untuk Jinakkan Karhutla
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pendampingan teknis terhadap 43 fasilitas, dengan lima fasilitas terapi sel berhasil memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB/GMP). Capaian ini menjadi modal penting dalam membangun ekosistem terapi sel dan terapi gen nasional.
BPOM juga memperkuat jalur percepatan inovasi melalui Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Penilaian ATMP dan Peraturan BPOM Nomor 24 Tahun 2025 tentang Persetujuan Pengembangan Obat Baru. Regulasi tersebut dirancang untuk mendukung inovasi dalam negeri tanpa mengurangi aspek keamanan, khasiat, dan mutu produk kesehatan.
Di saat yang sama, transformasi digital menjadi bagian penting dari reformasi pengawasan. BPOM mulai mengintegrasikan AI, simulasi in silico berbasis prinsip 3R, serta predictive toxicity profiling guna mempercepat proses evaluasi dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan berbasis sains.
Pendekatan tersebut diperkuat dengan pemanfaatan Real-World Data (RWD) dan Real-World Evidence (RWE) untuk mempercepat deteksi sinyal keamanan, mendukung jalur regulasi adaptif, dan mengoptimalkan penggunaan terapi inovatif bagi pasien Indonesia.
Salah satu tonggak penting yang menandai kesiapan Indonesia memasuki era terapi gen adalah persetujuan Onasemnogene Abeparvovec sebagai terapi gen pertama di Indonesia. Menurut Taruna Ikrar, pencapaian ini membuktikan bahwa sinergi antara riset ilmiah, kesiapan manufaktur, dan kelincahan regulasi mampu menghadirkan terapi yang mengubah kehidupan pasien.
Pengakuan BPOM sebagai WHO Listed Authority (WLA) semakin memperkuat posisi Indonesia dalam peta regulasi kesehatan dunia. Status tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan internasional terhadap sistem pengawasan Indonesia, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan konvergensi regulasi global yang lebih luas.
Dalam pandangan Taruna Ikrar, masa depan kesehatan Indonesia tidak bisa dibangun oleh satu pihak. Dibutuhkan sinergi kuat antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau Academia-Business-Government (ABG) untuk menciptakan kemandirian farmasi nasional sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat inovasi kesehatan di kawasan.
Karena itu, peran Kalbe Farma sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia menjadi sangat strategis. Kolaborasi industri dengan regulator dan komunitas ilmiah akan mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa keberhasilan ilmu pengetahuan tidak diukur dari banyaknya temuan di laboratorium. Nilai sejatinya terletak pada kemampuan menghadirkan terapi yang aman, efektif, bermutu, dan dapat diakses masyarakat luas. Dari titik inilah BPOM, Kalbe Farma, dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan nasional berupaya membangun masa depan pengobatan Indonesia—masa depan yang mempertemukan sains, inovasi, dan harapan.andirian farmasi.