Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar mendorong kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) guna memperkuat daya saing rendang melalui keamanan pangan, sertifikasi, teknologi pengolahan, dan akses pasar ekspor.
Rendang telah diakui sebagai salah satu makanan terbaik dunia. Namun bagi Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar, reputasi rasa saja tidak cukup. Untuk menembus pasar global, rendang harus ditopang keamanan pangan, teknologi, standardisasi, pembiayaan, serta kolaborasi Academia, Business, dan Government (ABG).
menitindonesia, PADANG — Rendang selama ini dikenal sebagai mahakarya kuliner Minangkabau yang telah melampaui batas geografis Indonesia. Namun di balik popularitasnya, masih terdapat pekerjaan besar agar rendang tidak hanya menjadi ikon gastronomi, melainkan juga mampu berkembang sebagai produk pangan global yang memenuhi standar internasional.
Pandangan itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dalam Dialog Interaktif bersama pelaku usaha Rendang dan Akademisi yang mengangkat tema: ABG (Academia, Business, Government) untuk Akselerasi Produk Gastronomi Nusantara di Universitas Andalas, Selasa (15/9/2026).
Hadir mendampingi Kepala BPOM RI itu, Sekretaris Utama Irjen. Pol. Dr. Jayadi, S.I.K., Deputi 2Mohamad Kashuri, S.Si., Apt., M.Farm., Deputi 4 Irjen Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.I.K., S.Sos., Direktur Investigasi dan Penindakan Brigjen Pol Partomo, Pakar Ahli Wachyudi Muchsin, Tim Ahli kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas Akbar Endra, serta Kepala Balai Besar POM Padang Irwan, S.Si., Apt., MKM.
Bagi Taruna, terdapat tiga fondasi yang tidak bisa ditawar jika rendang ingin menjadi kekuatan ekonomi nasional berbasis ekspor: keamanan, nilai gizi, dan kualitas.
“Kami harus memastikan kualitasnya. Kemudian harus dipastikan khasiatnya, termasuk nilai gizinya,” kata Taruna.
Keamanan menjadi syarat pertama. Sebab pangan yang dikonsumsi masyarakat harus terbebas dari berbagai cemaran yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Melalui sistem pengawasan yang dimiliki BPOM, berbagai parameter keamanan pangan dapat dipastikan, mulai dari mikroorganisme berbahaya, Salmonella, aflatoksin, histamin, hingga berbagai kontaminan lainnya.
Setelah aspek keamanan terpenuhi, produk harus memiliki nilai gizi yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kandungan protein, lemak, vitamin, maupun nutrisi lainnya harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium yang sesuai.
Tahap berikutnya adalah kualitas. Menurut Taruna, ketiga unsur tersebut menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
Dari Dapur Minangkabau Menuju Pasar Dunia
Persoalan rendang kemudian tidak lagi berhenti pada soal cita rasa. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat rendang mampu bertahan enam bulan, satu tahun, atau bahkan lebih lama tanpa kehilangan mutu, keamanan, maupun karakteristik rasanya.
Di sinilah teknologi memainkan peran penting. Taruna menjelaskan bahwa teknologi sterilisasi komersial dan sistem pengemasan modern dapat membantu memperpanjang umur simpan produk pangan. Namun proses tersebut harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang ketat.
“Namanya uji tahan pangan. Kita pastikan berapa lama dia bisa bertahan, itu ada ujiannya,” ujarnya.
Dengan pendekatan berbasis evidence-based dan scientific-based, rendang tidak hanya dapat memiliki daya tahan lebih panjang, tetapi juga tetap memenuhi standar mutu dan keamanan yang dipersyaratkan pasar internasional.
Menurut Taruna, jika aspek teknologi, pengujian, dan standardisasi berjalan baik, maka rendang memiliki peluang besar untuk berkembang dari produk rumahan menjadi produk industri yang mampu bersaing secara global.
Karena itu, keberhasilan rendang menembus pasar internasional tidak dapat dibebankan kepada satu pihak semata.
Di sinilah konsep Academia, Business, Government (ABG) menjadi penting. Perguruan tinggi menyediakan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi teknologi. Pemerintah menghadirkan regulasi, standardisasi, dan fasilitasi. Dunia usaha menjadi penggerak produksi dan pengembangan pasar.
Dalam forum tersebut hadir Wakil Rektor I Universitas Andalas Prof. Dr. Syukri Arief, M.Eng., yang menilai tantangan UMKM rendang saat ini, selain bertahan di pasar lokal, juga harus naik kelas menjadi pemain global.
Menurut Syukri, Universitas Andalas siap membangun program kolaboratif untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha rendang melalui pelatihan ekspor, penguatan manajemen bisnis, pemanfaatan teknologi pangan, hingga pemasaran digital.
“Kalau kita buat pelatihan ekspor sesuai kebutuhan para pengusaha rendang, tentu akan lebih mudah menindaklanjutinya dan bagi pengusaha akan lebih terasa manfaatnya,” kata Syukri.
Rektor
Universitas Andalas Dr. Efa Yonnedi, SE. MPPM, Akt., menambahkan, bahwa Universitas Andalas memiliki lebih dari 154 program studi dan sekitar 1.500 proyek riset setiap tahun yang dapat diarahkan untuk membantu pengembangan industri pangan, termasuk rendang.
Mahasiswa juga dinilai dapat menjadi bagian penting dalam transformasi tersebut, terutama melalui pemanfaatan platform digital dan pemasaran berbasis media sosial.
Namun di lapangan, tantangan yang dihadapi pelaku usaha ternyata lebih kompleks. Rina, pengusaha rendang yang mewakili asosiasi pengusaha rendang, mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku usaha telah memiliki berbagai sertifikasi yang dipersyaratkan, mulai dari BPOM hingga sertifikat halal. Tantangan berikutnya adalah kapasitas produksi dan akses pasar global.
“Kalau sertifikasi sudah banyak kami dapat. Sekarang kita berbicara bagaimana kita bersaing di pasar global,” ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah fasilitas produksi berskala besar yang mampu memenuhi permintaan ekspor dalam jumlah besar dengan biaya yang tetap kompetitif.
Selain itu, pelaku usaha juga masih membutuhkan pendampingan untuk memahami regulasi di negara tujuan ekspor.
Rina mencontohkan pengalamannya ketika berupaya memperluas pasar ke Arab Saudi yang memiliki persyaratan khusus melalui otoritas pangan setempat, Saudi Food and Drug Authority (SFDA).
Menanggapi hal tersebut, Taruna menegaskan bahwa BPOM siap memberikan fasilitasi sesuai kewenangannya. Menurutnya, eksportir dapat memanfaatkan Surat Keterangan Ekspor (SKE) dari BPOM dan membangun kemitraan dengan importir di negara tujuan agar proses registrasi berjalan lebih mudah.
“Kita sudah ada kerja sama antara Indonesia dengan Saudi Arabia,” kata Taruna.
Ia melihat pasar Arab Saudi memiliki potensi besar, tidak hanya karena keberadaan jutaan jamaah haji dan umrah setiap tahun, tetapi juga karena besarnya komunitas masyarakat Indonesia yang tinggal di sana.
“Kalau orang Indonesia di Arab Saudi, seenak-enaknya nasi kebuli, tentu kalau ada rendang, kenapa tidak?” ujarnya.
Selain fasilitasi regulasi, Taruna juga menjelaskan bahwa BPOM telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perbankan nasional seperti Bank Mandiri dan BRI untuk membantu memperluas akses pembiayaan bagi UMKM.
Skema tersebut diperkuat melalui konsep Orang Tua Angkat, di mana industri besar mendampingi pelaku usaha kecil melalui pembinaan, peningkatan kapasitas, akses pasar, dan dukungan permodalan.
Taruna menegaskan bahwa keberpihakan kepada UMKM merupakan bagian dari kebijakan nasional yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Bukan maunya saya. Itu sudah perintah Bapak Presiden kepada saya,” tegasnya.
Karena itulah rendang dinilai layak mendapatkan perhatian strategis. Rendang adalah identitas budaya, simbol gastronomi Nusantara, sumber penghidupan ribuan UMKM, sekaligus peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pengaruh ekonominya di pasar global.
Jika keamanan pangan terjamin, teknologi mampu memperpanjang daya simpan, kampus menghadirkan inovasi, pemerintah membuka akses regulasi, perbankan memperkuat pembiayaan, dan pelaku usaha mampu memenuhi kebutuhan pasar, maka rendang berpeluang menempuh perjalanan yang jauh lebih besar.
Dari dapur Minangkabau menuju rak-rak supermarket dunia. Dari produk UMKM menjadi industri bernilai tambah tinggi. Dan dari warisan budaya menjadi kekuatan ekonomi nasional yang mendunia. (AE)