Bukan Talk Show Biasa! Ferry Bicara Koperasi, Taruna Ikrar Bongkar “Superkomputer” di Kepala Mahasiswa

Di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Andalas, Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar mengajak generasi muda berani berpikir berbeda, membangun koneksi, dan mengoptimalkan 'superkomputer' yang ada di dalam otak manusia untuk menciptakan inovasi menuju Indonesia Emas 2045.
  • Dua pesan besar lahir dari panggung Garuda TV di Universitas Andalas. Ferry Juliantono mengajak generasi muda menghidupkan kekuatan ekonomi rakyat melalui koperasi, sementara Prof. Taruna Ikrar mengingatkan bahwa setiap mahasiswa membawa “superkomputer” di kepalanya sendiri. Dari Universitas Andalas, Padang, pesan menuju Indonesia 2045 itu menemukan bentuknya: berpikir berbeda, membangun koneksi, dan berani menciptakan perubahan.
menitindonesia, PADANG — Ribuan mahasiswa dan alumni Universitas Andalas memenuhi Auditorium Universitas Andalas, Selasa (15/9/2026). Suasana kampus hari itu berubah menjadi ruang perjumpaan lintas generasi.
Garuda TV bersama Universitas Andalas menghadirkan talk show “Indonesia Punya Kamu: Connecting Generations dengan menghadirkan Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.
BACA JUGA:
Mafia Beras Fortifikasi Tipu Emak-emak, Negara Taksir Konsumen Rugi Rp89 Triliun
Hadir pula jajaran pimpinan dan manajemen Garuda TV, pimpinan Universitas Andalas, Forkopimda Sumatera Barat, pejabat pemerintah daerah, alumni, serta ribuan mahasiswa yang memadati auditorium.
Forum tersebut menjadi pertemuan antara pengalaman, gagasan dan energi anak muda. Alumni membawa pengalaman. Profesional membawa perspektif. Mahasiswa membawa keberanian, kreativitas dan masa depan.
Direktur Garuda TV mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan alumni, mahasiswa, dan kalangan profesional.
Tema “Connecting Generations” menjadi benang merah acara: bagaimana pengalaman generasi sebelumnya dapat terhubung dengan energi generasi muda untuk melahirkan gagasan dan kontribusi bagi Indonesia.
Rektor Universitas Andalas Dr. Efa Yonnedi, SE. MPPM, Akt, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia unggul serta inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa menuju Indonesia emas 2045.
Pesan tersebut kemudian diteruskan Ferry Juliantono. Ferry memberikan apresiasi kepada keluarga besar Garuda TV, para alumni Universitas Andalas, jajaran Forkopimda Sumatera Barat, kepala dinas, serta seluruh mahasiswa dan mahasiswi.
Ferry kemudian membawa mahasiswa kembali kepada satu fondasi penting dalam perjalanan ekonomi Indonesia: Pasal 33 UUD 1945.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah mengingatkan kembali pentingnya koperasi sebagai badan usaha yang harus diperkuat dan dihidupkan kembali. Bagi Ferry, koperasi tidak dapat dipisahkan dari gagasan Mohammad Hatta, tokoh asal Sumatera Barat yang memiliki perhatian besar terhadap ekonomi berbasis kekeluargaan.
Ia kemudian mengajak mahasiswa melihat perjalanan sistem ekonomi Indonesia dan tantangan ketika mekanisme pasar berkembang tanpa pengaturan yang memadai.
“Pasar itu sebenarnya bukan entitas yang independen. Ada yang mengatur dan punya stratifikasi sosial. Ada pelaku pasar besar, ada pelaku pasar yang ukurannya lebih kecil dan kemudian lebih kecil,” ujarnya.
Menurut Ferry, apabila mekanisme pasar tidak dikelola secara baik, pelaku usaha besar dapat semakin kuat dan menggeser pelaku usaha yang lebih kecil. Di sinilah, menurutnya, penguatan koperasi menjadi penting.
Koperasi Merah Putih (KMP), kata Ferry, dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat sekaligus memiliki peran dalam distribusi kebutuhan masyarakat, termasuk barang-barang bersubsidi, sehingga manfaat kebijakan pemerintah dapat semakin dekat dengan masyarakat.
Ferry juga menegaskan pentingnya mempertahankan sumber daya alam Indonesia untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Pesannya kepada mahasiswa: kekayaan alam Indonesia harus dikelola untuk membangun kesejahteraan dan memperkuat kemandirian bangsa.

WhatsApp Image 2026 09 16 at 05.03.49 1 e1789509868322

Taruna Ikrar: Superkomputer Itu Ada di Kepala Kita

Setelah Ferry berbicara tentang kekuatan ekonomi rakyat dan pentingnya menjaga sumber daya alam, Prof. Taruna Ikrar membawa mahasiswa pada sumber daya yang jauh lebih dekat: otak manusia.
Ia membuka paparannya dengan menguji semangat mahasiswa.
“Mana suaranya mahasiswa Andalas? Kok suaranya kurang, sini. Apa tidur?” katanya.
Auditorium langsung bergemuruh. Taruna kemudian mengajak mahasiswa memahami betapa luar biasanya sistem biologis yang mereka bawa sejak lahir.
BACA JUGA:
LPG 3 Kg Langka di Makassar, Appi Desak Pertamina Investigasi Total Pangkalan
Ia menjelaskan mengenai jumlah sel saraf di dalam otak manusia dan ribuan koneksi yang menghubungkan sel-sel tersebut. Ia mengaitkannya dengan bidang riset konektivitas saraf yang dikembangkannya, termasuk konsep neurosinaptik yang ia sebut dalam paparannya.
Menurut Taruna, kompleksitas otak manusia membuatnya layak dianalogikan sebagai sebuah superkomputer biologis.
“Satu sel saraf itu lebih canggih daripada handphone tercanggih sekarang. iPhone 18 pun kalah canggih dengan sel saraf kita,” ujarnya.
Ia lalu memberikan gambaran sederhana. Jika manusia membayangkan setiap sel saraf sebagai sebuah komputer yang saling terhubung, maka di dalam kepala manusia terdapat jaringan komputasi biologis yang luar biasa kompleks.
“Kalau mau dikatakan di mana letak superkomputer itu, ada di kepala Bapak, Ibu, adik-adik semuanya,” kata Taruna.
Bagi Taruna, kemampuan luar biasa tersebut merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Dari sana ia memperkenalkan konsep neurodiversity—keragaman cara manusia berpikir, belajar, memproses informasi, melihat persoalan dan menemukan solusi.
Pesannya kepada mahasiswa sangat jelas: jangan takut berbeda. Setiap mahasiswa memiliki potensi, cara berpikir, dan keunggulan yang tidak selalu sama dengan orang lain. Perbedaan tersebut bukan kelemahan, tetapi dapat menjadi sumber kekuatan dan inovasi.
Mahasiswa tidak perlu menjadi salinan orang lain untuk berhasil. Mereka justru perlu mengenali potensi dirinya, mengembangkan kemampuan tersebut, lalu menghubungkannya dengan orang lain untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar.
Di titik inilah pesan Connecting Generations menemukan maknanya. Generasi muda, ujar Taruna, tidak cukup hanya terkoneksi melalui teknologi. Mereka harus mampu menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan, kreativitas dengan kebutuhan masyarakat, serta keberanian berpikir dengan tanggung jawab kepada bangsa.
Ferry berbicara tentang bagaimana Indonesia mengelola kekuatan ekonominya. Taruna berbicara tentang bagaimana manusia mengelola kekuatan pikirannya.
Dua perspektif berbeda itu bertemu pada satu pesan yang sama: Indonesia 2045 membutuhkan manusia unggul yang berani berpikir, mampu terkoneksi, dan siap menciptakan inovasi.
Dari Auditorium Universitas Andalas, panggung Garuda TV menyampaikan pesan kepada generasi muda: Indonesia punya kamu.
Bukan untuk menjadi penonton masa depan, tetapi menjadi bagian dari generasi yang menentukan masa depan Indonesia. (akbar endra)