Prof. Taruna Ikrar saat menyampaikan pidato akademik di Malaysia. Bagi Kepala BPOM RI tersebut, pengakuan global terhadap regulator Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan kepercayaan dunia terhadap sistem kesehatan nasional.
Oleh: Akbar Endra (Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Media Sosial dan Hubungan Masyarakat)
menitindonesia, OPINI — Ada satu hal yang selalu menarik dalam perjalanan sebuah bangsa. Pengakuan terbesar sering kali tidak datang dari apa yang kita katakan tentang diri sendiri, melainkan dari kepercayaan yang diberikan dunia kepada kita.
Karena itu, ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memperoleh pengakuan internasional melalui status WHO Listed Authority (WLA) dan pencapaian Maturity Level 4 (ML4), saya melihatnya bukan hanya sebagai keberhasilan sebuah lembaga negara. Lebih dari itu, capaian tersebut merupakan pengakuan dunia terhadap kemampuan Indonesia membangun sistem regulasi kesehatan yang kredibel, modern, dan memenuhi standar global.
Dalam berbagai kesempatan, apresiasi atas capaian tersebut datang dari banyak pihak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan penghargaan atas keberhasilan BPOM meningkatkan posisi Indonesia dalam tata kelola kesehatan global. Apresiasi serupa juga disampaikan Hashim S. Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, yang menilai penguatan institusi dan tata kelola nasional menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia.
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi. Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan BPOM menembus standar regulator kesehatan berkelas dunia. Baginya, capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan yang mampu memenuhi standar internasional.
Bagi sebagian orang, capaian tersebut mungkin dipahami sebagai prestasi birokrasi. Namun jika ditelaah lebih dalam, maknanya jauh melampaui urusan kelembagaan.
Di era global yang semakin kompetitif, kepercayaan internasional tidak diberikan berdasarkan narasi atau klaim semata. Kepercayaan lahir dari proses panjang yang dibangun melalui konsistensi, integritas, kualitas tata kelola, serta kemampuan memenuhi standar yang berlaku secara universal.
Ketika dunia memberikan pengakuan kepada BPOM, yang sedang dinilai bukan hanya kemampuan mengawasi obat dan makanan. Yang sedang diakui adalah kapasitas Indonesia dalam membangun institusi publik yang mampu bekerja dengan standar internasional dan memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat.
Pengakuan tersebut menjadi semakin penting karena menyangkut sektor yang sangat strategis, yakni kesehatan. Dalam dunia yang terus menghadapi ancaman penyakit baru, perubahan teknologi kesehatan, hingga kompleksitas rantai pasok global, keberadaan regulator yang kuat merupakan bagian penting dari ketahanan nasional.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa mempertahankan kepercayaan jauh lebih sulit dibanding meraihnya.
Menjaga Kepercayaan, Menyiapkan Masa Depan
Karena itulah saya melihat cara pandang Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menjadi menarik untuk dicermati. Di tengah berbagai apresiasi yang diterima BPOM, beliau justru lebih banyak berbicara tentang masa depan.
Dalam audiensi bersama Universitas Pertahanan Republik Indonesia yang mengangkat tema Sinergi Pengembangan SDM di Bidang Pengawasan Obat dan Makanan untuk Mendukung Ketahanan Kesehatan Nasional, fokus pembahasan bukan pada capaian yang telah diraih, melainkan pada generasi yang akan menjaga capaian tersebut.
Menurut beliau, regulator yang kuat pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh regulasi, laboratorium, teknologi, atau sistem digital yang modern. Regulator yang kuat ditentukan oleh kualitas manusia yang menggerakkannya.
Pandangan itu berangkat dari realitas bahwa tantangan pengawasan obat dan makanan akan semakin kompleks pada masa depan. Perkembangan bioteknologi, kecerdasan buatan, terapi berbasis gen, perdagangan digital lintas negara, hingga inovasi produk kesehatan yang berkembang sangat cepat membutuhkan sumber daya manusia dengan kapasitas yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Indonesia membutuhkan regulator yang tidak hanya memahami ilmu farmasi dan kesehatan, tetapi juga menguasai analisis risiko, sistem mutu, pengelolaan data, teknologi digital, serta dinamika kesehatan global.
Atas dasar itulah Prof. Taruna Ikrar mendorong penguatan kerja sama antara BPOM dan dunia pendidikan. Pengayaan kurikulum, penelitian bersama, kuliah praktisi, pemanfaatan laboratorium, hingga Praktik Kerja Profesi Apoteker menjadi instrumen penting untuk menyiapkan talenta-talenta regulator masa depan.
Dalam berbagai kesempatan, beliau juga memperkenalkan konsep ABG (Academic, Business, Government) sebagai pendekatan pembangunan yang harus diperkuat Indonesia. Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin dibangun oleh satu institusi saja.
Dunia akademik menghasilkan ilmu pengetahuan dan inovasi. Dunia usaha menghadirkan investasi, hilirisasi, dan penciptaan nilai tambah. Pemerintah membangun regulasi, tata kelola, serta perlindungan publik. Ketika ketiga unsur tersebut bekerja dalam satu ekosistem yang saling memperkuat, lahirlah fondasi pembangunan yang kokoh dan berkelanjutan.
Dalam perspektif yang lebih luas, pendekatan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan visi pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Penguatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan sains dan teknologi, kemandirian sektor strategis, serta peningkatan daya saing bangsa merupakan fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.
Karena itu, keberhasilan BPOM memperoleh pengakuan global tidak dapat dipandang sebagai tujuan akhir. Pengakuan tersebut harus menjadi energi untuk membangun kapasitas yang lebih besar, memperkuat institusi, dan menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga bahkan melampaui standar yang telah diraih hari ini.
Pada akhirnya, status WHO Listed Authority bukan hanya tentang pengakuan internasional. Ia adalah simbol kepercayaan. Dan kepercayaan, sebagaimana kita pahami bersama, hanya dapat dipertahankan melalui kompetensi, integritas, inovasi, dan kerja keras yang dilakukan secara konsisten dari generasi ke generasi.
Di situlah letak makna sesungguhnya dari kebanggaan atas capaian BPOM hari ini. Bukan hanya karena Indonesia telah memperoleh pengakuan dunia, melainkan karena bangsa ini sedang menunjukkan kemampuannya membangun institusi yang dipercaya dunia sekaligus mempersiapkan manusia-manusia terbaik untuk menjaga kepercayaan tersebut pada masa depan.
Ketika dunia memberi kepercayaan kepada BPOM, sesungguhnya dunia sedang memberi kepercayaan kepada Indonesia.