Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., berdialog dengan salah seorang santri dalam kegiatan BPOM Menyapa Santri di Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI, Narmada, Lombok Barat, Kamis (8/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Taruna menginspirasi para santri untuk berani bermimpi besar dan menuntut ilmu hingga ke tingkat dunia.
Dari Niigata di Jepang, Bologna di Italia hingga Amerika Serikat, perjalanan panjang Taruna Ikrar melintasi tiga benua menjadi kisah tentang keberanian bermimpi, menuntut ilmu ke dunia, dan kembali membawa pengetahuan untuk Indonesia.
menitindonesia, MATARAM — Ribuan santri Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI, Narmada, Lombok Barat, Kamis (8/10/2026), mendengar sebuah kisah yang jauh melampaui ruang kelas.
Di hadapan mereka, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengisahkan perjalanan hidupnya menempuh pendidikan dan membangun pengalaman akademik hingga melintasi tiga benua: Asia, Eropa dan Amerika.
Dari Jepang, perjalanan itu membawanya ke Italia. Dari Eropa, langkahnya berlanjut ke Amerika Serikat. Puluhan tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia dan menerima amanah memimpin BPOM RI.
Bagi Taruna, perjalanan tersebut bukan soal jarak dan waktu yang ditempuh, tapi soal seorang pria yang dijuluki Pulando –seorang anak yang cerdik–dari Pulau Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan, berani punya bermimpi.
Karena itu, di hadapan ribuan santri, Taruna menyampaikan pesan sederhana tetapi kuat: “Jangan pernah membatasi masa depan hanya karena melihat dari mana seseorang berasal,” katanya.
Pesan itu terasa semakin kuat karena pertemuan berlangsung setelah Taruna memberikan kuliah umum di Universitas Mataram (Unram). Dari aula kampus, ia bergerak menuju pesantren. Dari mahasiswa, ia berbicara kepada para santri. Dua lingkungan pendidikan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu titik: membangun manusia yang memiliki ilmu, karakter dan keberanian untuk mengambil peran.
Di Nurul Haramain, Taruna disambut Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI, TGH Khairi Habinullah, S.Ag., bersama ribuan santri. Di tengah lingkungan pesantren yang hijau, Taruna bahkan turun langsung menanam pohon bersama pimpinan pesantren.
Ia mengenakan sarung tangan, menanam pohon dan menyiramnya dari atas ke bawah. Bagi Taruna, pohon itu menjadi simbol perjalanan manusia. “Pohon itu harus menjulang, membumi, dan mengakar,” ujar dia.
“Menjulang berarti berani memiliki cita-cita tinggi. Membumi berarti memastikan ilmu dan cita-cita tetap berpijak pada realitas serta menghasilkan manfaat bagi masyarakat,” lanjut Taruna.
Ia menjelaskan, sedangkan mengakar berarti memiliki fondasi yang kuat—agama, karakter, ilmu pengetahuan, budaya dan nilai kehidupan.
“Kita boleh punya cita-cita setinggi langit, tetapi kaki tetap harus berpijak di bumi. Ilmu yang kita miliki harus kembali memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya. Filosofi pohon itu kemudian menjadi jembatan menuju perjalanan hidupnya.
Menaklukkan Tiga Benua, dari Niigata hingga Amerika
Taruna mengajak para santri melihat dunia sebagai ruang belajar yang luas. Ia mengisahkan bagaimana perjalanan akademiknya dimulai di Asia, tepatnya Jepang. Di negeri Sakura itu, ia menempuh pendidikan hingga meraih gelar Ph.D. dari Niigata University.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke Eropa. Di Bologna, Italia, Taruna menjalani program post-doctoral selama sekitar satu tahun. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat.
Di negeri Paman Sam tersebut, Taruna kemudian tinggal dan membangun perjalanan akademik serta profesional selama lebih dari 20 tahun. Asia, Eropa dan Amerika menjadi tiga ruang besar yang membentuk perjalanan intelektualnya.
Tiga benua itu memberinya pengalaman tentang riset, teknologi, tradisi akademik, budaya ilmiah dan kehidupan global. Namun perjalanan tersebut tidak membuatnya kehilangan arah untuk kembali.
Setelah lebih dari dua dekade berada di Amerika Serikat, Taruna akhirnya kembali ke Indonesia. Ia dipanggil Presiden Prabowo Subianto untuk kembali ke Indonesia, mengemban amanah sebagai Kepala BPOM RI.
Di hadapan para santri, pengalaman itu ia jadikan pelajaran. Bahwa seseorang boleh pergi jauh untuk mencari ilmu. Boleh menembus batas geografis dan akademik. Tetapi ilmu yang diperoleh pada akhirnya harus kembali kepada masyarakat.
“Saya belajar di berbagai tempat, bertemu dengan banyak orang dan mendapatkan pengalaman dari berbagai negara. Tetapi pada akhirnya ilmu itu harus kembali memberikan manfaat bagi Indonesia,” ujar Taruna.
Kisah tersebut membuat ribuan santri seakan diajak melihat dunia dari halaman pesantren. Tidak ada jarak yang terlalu jauh bagi seseorang yang memiliki kemauan belajar.
Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi selama diperjuangkan dengan kerja keras, disiplin dan fondasi nilai yang kuat.
“Jangan pernah merasa bahwa kalian hanya anak pesantren. Kalian harus punya mimpi besar. Kalian bisa menjadi apa saja, sepanjang mau belajar, bekerja keras dan tetap memegang nilai-nilai agama.”
Kalimat itu bukan hanya motivasi. Itu adalah pengalaman hidupnya yang sedang dibagikan.
Taruna telah melewati perjalanan dari Asia ke Eropa, kemudian Amerika. Ia menempuh pendidikan, riset dan pengalaman profesional di lingkungan internasional sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
Karena itu, ketika ia meminta para santri bermimpi besar, pesan tersebut datang dari perjalanan yang telah ia jalani sendiri.
Dari perjalanan tiga benua itu, Taruna kemudian membawa para santri pada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia diberi ilmu?
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 30: Innī jā‘ilun fil-arḍi khalīfah. Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Bagi Taruna, manusia memiliki amanah untuk menjaga bumi, mengembangkan ilmu dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
“Kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk diri sendiri. Kita memiliki tanggung jawab sebagai khalifah untuk menjaga bumi, mengembangkan ilmu dan memberikan manfaat kepada sesama,” kata Taruna.
Pesan tersebut terasa semakin kuat karena disampaikan setelah kegiatan menanam pohon. Sebuah pohon membutuhkan akar agar kokoh, batang untuk menopang pertumbuhan dan dahan yang terus menjulang menuju cahaya.
Manusia pun demikian. Ia membutuhkan akar nilai untuk menjaga arah, ilmu untuk memperkuat langkah dan cita-cita untuk membawanya menuju masa depan.
Filosofi itu pula yang kemudian ia hubungkan dengan gagasan ABG—Academia, Business and Government. Menurut Taruna, kemajuan bangsa membutuhkan keterhubungan antara dunia akademik, dunia usaha dan pemerintah.
“Academia melahirkan ilmu dan inovasi. Business mengembangkan dan memberikan nilai tambah. Government menghadirkan kebijakan dan tata kelola. Ketiganya harus bergerak bersama untuk memberikan manfaat bagi bangsa.”
Dari Unram hingga Nurul Haramain, perjalanan Taruna Ikrar di Lombok hari itu seperti mempertemukan dua dunia: kampus dan pesantren, ilmu dan spiritualitas, pengalaman global dan pengabdian nasional.
Di tengah semuanya, sebuah pohon baru saja ditanam. Kelak, pohon itu mungkin tumbuh jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang menanamnya. Tetapi pesan yang ditinggalkan Taruna kepada ribuan santri telah lebih dahulu tumbuh:
“Beranilah bermimpi besar. Taklukkan dunia dengan ilmu. Tetap membumi dalam pengabdian dan mengakar pada nilai-nilai kehidupan. Sebab perjalanan sejauh apa pun pada akhirnya menemukan maknanya ketika ilmu yang diperoleh kembali menjadi manfaat bagi tanah air,” pungkas Taruna. (AE)