Mengenal Ahmad Mabbarani, Pendemo KPK Yang Laporkan Dugaan Kasus Korupsi di Bank Kaltim

Ketua FAKK, Ahmad Mabbarani. (Foto: Ist)
menitindonesia, JAKARTA – Nama Ahmad Mabbarani saat ini sedang populer. Keberadaannya di Ibu Kota, Jakarta, menarik banyak perhatian jurnalis. Ia, tiba-tiba datang ke KPK, membawa massa yang tergabung dalam Forum Aliansi Kontra Korupsi (FAKK), Senin (7/2/2022), kemarin,
Ia menenteng ransel di punggungnya sambil berorasi di halaman Gedung Merah Putih, Jalan Rasuna Said, Kuningan Jakarta. Tangannya terkepal meneriakkan yel-yel anti korupsi. “Ayo KPK, tetap semangat berantas korupsi!”
Usai berunjuk rasa, pria kelahiran Makassar, 2 Februari 1972 itu, mengatakan dirinya sudah mewakafkan hidup sebagai warga masyarakat, membantu kerja penegak hukum, Kejaksaan, Polri dan KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia.
Ahmad menerangkan, korupsi memiliki daya rusak yang tinggi terhadap negara, sehingga menyebabkan banyak orang jatuh miskin dan hidup susah.
“Korupsi daya rusaknya tinggi, membuat rakyat jatuh miskin, bikin hidup rakyat susah karena uang negara dicuri para koruptor itu. Ini harus dilawan. Fenomenanya, korupsi tambah subur sebab keterbatasan aparat penegak hukum untuk melakukan pencegahan dan penindakan,” ujar ayah dari Ilham Rahmatullah dan Patrian Aura Ramadani ini.
Dia menceritakan kisah hidupnya. Dahulu, ayahnya, Daeng Sanggo, memiliki lahan di Tamalanrea yang kini menjadi milik Unhas untuk dibanguni perumahan dosen dan juga sebahagian menjadi lokasi kampus Unhas. Saat itu, ia masih belia, bersekolah di SD Inpres Tamalanrea, Makassar.
Di masa masih kanak-kanak, Ahmad dibesarkan oleh ayahnya, karena ibunya Daeng Taimang, meninggal karena sakit. Di saat usia remaja, Ahmad bergaul dengan mahasiswa di Unhas. Meskipun ia berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun karena faktor biaya, Ahmad hanya bisa berteman dengan mahasiswa dan para aktivis kampus.
Pada saat aksi reformasi, Ahmad Mabbarani pun ikut bergabung dengan aksi mahasiswa Unhas menuntut reformasi, meskipun ia bukan mahasiswa, hanya teman mahasiswa saja.
“Waktu demo reformasi tahun 1998, tugas saya disuruh oleh teman-teman mahasiswa bawa ransel, pergi beli rokok atau membagikan minuman, tapi saya senang karena bisa berada di tengah-tengah mahasiswa Unhas yang berjuang meskipun saya bukan mahasiswa,” ucapnya.
Masa remaja Ahmad, kebanyakan dihabiskan di Kampus Unhas, bergaul dengan para aktivis mahasiswa di kantin Bambu House. Setelah memiliki banyak teman-teman mahasiswa, Ahmad pun mengaku mulai percaya diri.
“Saya banyak belajar dari mahasiswa. Kalau mereka berdiskusi saya menjadi pendengar dan tukang bikin kopinya atau disuruh pergi belanja kebutuhan mahasiswa,” ujar Ahmad.
Dia juga mengenang saat keluarganya harus menyingkir di pinggiran Perumahan Dosen (Perdos) Unhas di Tamalanrea. Setiap usai shalat subuh, sebelum berangkat ke sekolah di SD Inpres Tamalanrea, Ahmad diberi tugas membersihkan Mesjid Ikhtiar II Perdos Tamalanrea.
“Dari Mesjid, saya kenal banyak guru besar, dosen, sampai saat ini. Di Mesjid ini saya belajar mengaji — dan dosen yang juga jamaah Mesjid Ikhtiar II, membantu biaya sekolah saya, salah satunya Prof Basri Hasanuddin, Haris Rahim dan lain-lain,” kenang suami Suriani Iskandar ini..
Kebiasaan Ahmad memelihara Mesjid ini, di bawahnya hingga dia remaja. Dari jamaah Mesjid Ikhtiar, Ahmad mengaku banyak mendapatkan pelajaran penting, salah satunya adalah bersabar dan tidak putus asa dari rahmat Allah.
Selain memelihara Mesjid, untuk membantu keluarganya, sebagai putra bungsu, Ahmad terpaksa menggayuh becak di Perdos, pelanggannya adalah warga Perdos sekaligus jamaah Mesjid Ikhtiar II.
“Hidup ini keras, tetapi kita tidak boleh putus asa. Setelah banyak dosen punya motor, pelanggan becak menurun, saya kemudian kerja di pelabuhan sebagai buruh angkat barang, kadang kerja sebaga buruh bangunan. Saya tidak malu bekerja sebagai tukang becak, atau jadi buruh, sebab saya yakin kerja ini halal,” ucap Ahmad Mabbarani menceritakan kisahnya dengan mata berkaca-kaca saat mengenang masa kecil dan remajanya.
Meskipun teman-teman mahasiswanya sering menjadi penumpang becaknya, ia tak pernah merasa berkecil hati. Dia percaya, Allah selalu berbuat adil kepada hambaNya, sebab banyak orang kaya juga memiliki masalah hidup yang mungkin, ujar Ahmad, bisa lebih berat dari masalah hidupnya.
Bergaul di kampus, membuat Ahmad jadi lincah dalam pergaulan dengan semua kalangan, baik elit maupun proletar. Dia mengaku selalu berprasangka baik dengan Tuhan, bahwa takdir yang digenggamnya, itulah yang terbaik. Ia tak memiliki harta, namun ia diberi banyak teman, sahabat dan banyak orang besar dan kaya raya yang mau menjadikannya sebagai sahabatnya.
“Itulah harta saya. Hidup saya sekarang sudah nyaman, punya banyak teman, orang besar dan pejabat di negara ini. Padahal saya dulu tukang becak, buruh pelabuhan, tapi mereka mau menerima saya sebagai sahabatnya. Jadi saya miskin, tapi teman saya banyak yang kaya,” ucapnya.
Selain menceritakan masa lalunya, Ahmad Mabbarani, juga menerangkan jika saat ini, banyak orang kehilangan kepribadian sebab cara pandang hidupnya, seolah kebahagiaan hanya bisa dirasakan jika punya uang banyak, harta berlimpah dan istri cantik.
“Karena prinsip itu, akhirnya banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan, mengumpul uang dan harta, sekalipun dengan cara korupsi. Tapi uang dan harta, ternyata tidak menjamin mereka bahagia. Buktinya, setelah punya jabatan, punya uang dan punya harta, akhirnya berakhir tragis, ditangkap KPK. Keluarganya menanggung malu, dicap pencuri uang rakyat,” ujar Ahmad menerangkan.
Dia juga mengaku sangat muak dengan pejabat publik yang korup. Yang membuatnya miris, justru prilaku sebahagian orang, yang justru senang mendekat dengan koruptor hanya karena ingin mendapat percikan uang korupsi.
Bahkan, kata Ahmad, yang sangat memilukan, ketika masyarakat mulai mengelu-elukan koruptor dan menjadikannya sebagai idola. “Ini sangat berbahaya. Fenomena perubahan cara pikir seperti ini harus dicegah. Caranya, kita bangkit sama-sama melawan korupsi,” ucapnya.
Di usianya yang sudah setengah abad, dia mengaku, akan mewakafkan hidupnya untuk melawan korupsi. “Ini harus dilawan. Saya mengajak teman-teman lama yang dulu jadi aktivis 98 dan juga adik-adik mahasiswa, agar mau memenuhi panggilan nuraninya, membantu mencegah atau mengungkap kasus-kasus korupsi di negeri ini,” ujar Ahmad.
Begitulah. Akhirnya Ahmad Mabbarani bersama sejumlah sahabatnya, mendirikan Forum Aliansi Kontra Korupsi (FAKK). Forum ini mempercayakan Ahmad sebagai Ketua FAKK.
“Pendiri FAKK ada aktivis 98, Pak Syamsir Anchi, ada juga Pak Didies dan ada mahasiswi, Andi Esse dan ada pengacara, Mahardika, SH. FAKK ini dibikin sebagai elemen masyarakat untuk mengadukan kasus korupsi,” ujarnya.
Setelah lembaganya didirikan di notaris, Ahmad Mabbarani pun melakukan aksi demonstrasi di Gedung KPK dan sekaligus mengadukan dugaan adanya pembobolan uang negara di Bank Kaltimkaltara yang berpotensi merugikan negara sebanyak Rp240 miliar. (roma)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini