Belum Urus Kontrak Karya, PT Vale Fokus Proyek 140 Triliun, PILHI: Ini Hanya Gombal ke Elit Politik

Direktur PILHI, Syamsir Anchi dan Direktur PT Vale Indonesia, Febriany Eddy. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Direktur Eksekutif Pusat Informasi Lingkungan Hidup Indonesia (PLIHI), Syamsir Anchi, mengungkapkan kalau PT Vale Indonesia Tbk (Inco) belum mengurus usulan perpanjangan kontrak karya (KK) pertambangan yang segera berakhir pada 2025, mendatang.
“Idealnya, lima tahun sebelum kontrak karyanya berakhir, mestinya PT Vale sudah mengajukan permohonan perpanjangan kontrak karya pertambangan, justru ini diabaikan dengan alasan lagi menyelesaikan investasi senilai Rp140 T,” kata Syamsir Anchi kepada jurnalis media ini, Rabu (28/9/2022).
Aktivis anti korupsi ini mencurigai, dengan alasan investasi senilai Rp140 T, jangan sampai hanya  retorika gombal untuk para elit politik agar mau mendukung perpanjangan kontrak karyanya saat mereka ajukan tahun depan.
“Kan banyak politisi partai sekarang sedang gentayangan cari dukungan logistik untuk Pileg. Ya, mereka pasti siap perjuangkan Vale kalau dibantu, ini yang kami pantau, jangan sampai ada partai atau Caleg yang dibiayai khusus untuk menyuarakan perpanjangan kontrak PT Vale di Parlemen,” ucap Syamsir.
Sementara itu, Direktur Utama PT Vale Indonesia, Febriany Eddy mengatakan pihaknya belum mengajukan perpanjangan kontrak karya karena masih fokus untuk merampungkan tiga proyek besar dengan total instasi Rp140 Triliun.
“Perusahaan saat ini masih fokus untuk merampungkan beberapa pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan. Beberapa di antaranya yakni seperti tiga proyek smelter triliunan. Kami lakukan ini karena negara ini sangat butuh investasi,” kata Febriany Eddy, di Gedung DPR RI, Selasa (27/9/2022).
Selain itu, dia juga mengaku berkomitmen menggelontorkan investasi dengan prinsip tambang berkelanjutan. Hal tersebut, kata dia, dapat dilihat dari pembangkit listrik yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan ketiga smelter itu.
“Kami sudah komit di pabrik baru tidak akan ada pembangkit listrik batu bara tapi harus memakai pembangkit listrik rendah karbon, ini penting sekali Indonesia ke penambangan nikel yang berkelanjutan,” pungkasnya. (roma)