Penataan Pasar Cidu Dikritik Dewan, Pemerintah Diminta Jangan Matikan Ekonomi Warga

Anggota DPRD Makassar, Ray Suryadi Arsyad (IST)
menitindonesia, MAKASSAR – Rencana Pemerintah Kota Makassar untuk mengembalikan fungsi jalan di kawasan kuliner malam Pasar Cidu menuai sorotan dari DPRD.
Anggota Komisi C, Ray Suryadi, meminta agar penataan dilakukan secara bijak dan tidak mematikan aktivitas ekonomi warga.
Ray menilai kawasan Pasar Cidu telah berkembang menjadi ikon kuliner malam di wilayah utara Makassar. Ia menyebut, kawasan ini tak hanya ramai oleh warga lokal, tapi juga menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara.
“Ini fenomena yang tumbuh secara organik. Warga punya kemampuan mengolah makanan enak dan terjangkau. Banyak pengunjung datang karena cita rasa dan suasananya,” katanya, Selasa (22/7/2025).

BACA JUGA:
Komisi D DPRD Makassar Minta Orang Tua Tak Panik, Sekolah Alternatif Masih Tersedia

Ia meminta pemerintah tidak hanya melihat dari sisi ketertiban, melainkan juga menangkap potensi ekonomi kawasan tersebut. Ray membandingkan Pasar Cidu dengan Pasar Alor di Bukit Bintang, Malaysia, yang berhasil disulap menjadi destinasi kuliner internasional.
“Kawasan itu ditutup dari sore sampai dini hari. Pemerintah Malaysia sadar manfaat ekonominya. Kenapa kita tidak bisa lakukan hal yang sama di Pasar Cidu?” kata Ketua Fraksi Mulia itu.
Terkait wacana pembongkaran, Ray menegaskan agar dibedakan antara bangunan permanen dan fasilitas portabel. Menurutnya, gerobak, meja lipat, dan lapak nonpermanen masih bisa ditata ulang tanpa dibongkar.
“Yang dibutuhkan adalah pengelolaan terpadu penerangan, toilet portable, pengolahan sampah, dan zona parkir. Bukan pembongkaran sepihak,” jelasnya.
Ray juga menekankan pentingnya koordinasi lintas OPD seperti Dinas Perhubungan, Satpol PP, dan pemerintah kecamatan dalam proses penataan agar tetap manusiawi dan memperhatikan jam operasional pedagang.
Ia mengakui adanya praktik pungutan liar dan premanisme di kawasan tersebut, namun menyebut hal itu justru terjadi akibat lambannya peran pemerintah dalam pengelolaan.
“Pungli tetap salah. Tapi jangan jadikan itu alasan menutup ekonomi warga. Pemerintah seharusnya hadir untuk menata dan membatasi ruang gerak preman, bukan pedagang,” tegasnya.
Ray pun mendorong Pemkot Makassar segera mengambil langkah solutif dan terencana. Ia yakin, jika ditata dengan baik, Pasar Cidu bisa menjadi destinasi kuliner malam kebanggaan kota.