Di Tengah Gejolak Global, Pemprov Sulsel dan BI Perkuat Benteng Ekonomi Daerah

Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman saat menghadiri Pertemuan dan Silaturahmi Tengah Tahun 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia. (ist)
menitindonesia, MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Bank Indonesia (BI) memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang memengaruhi nilai tukar, inflasi, hingga arus modal internasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Pertemuan Silaturahmi Tengah Tahun 2026 bertajuk “Memperkuat Sinergi, Menjaga Stabilitas” yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan di Makassar, Rabu (17/6/2026).
Sekretaris Daerah Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, mengatakan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, sektor perbankan, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.
Menurutnya, stabilitas ekonomi tidak hanya diukur dari indikator makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok, keterjangkauan harga, dan kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.
“Pergerakan nilai tukar rupiah sangat dinamis dan dapat berubah dengan cepat. Karena itu dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan agar ekonomi daerah tetap terjaga,” kata Jufri.

BACA JUGA:
Gubernur Sulsel Jadi Responden Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Beri Data Akurat

Ia menegaskan, salah satu indikator stabilitas yang paling dirasakan masyarakat adalah terjaminnya pasokan kebutuhan pokok.
“Yang penting bagi masyarakat itu salah satunya apa yang dibutuhkan masih ada. Jadi pentingnya menjaga ketersediaan stok,” ujarnya.
Di tengah berbagai tekanan global, perekonomian Sulawesi Selatan justru menunjukkan performa yang solid. Pada triwulan I 2026, ekonomi Sulsel tumbuh 6,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, aktivitas perdagangan yang meningkat, serta sektor pertanian dan jasa yang masih menjadi motor utama perekonomian daerah.
Menurut Jufri, capaian tersebut menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi Sulsel terhadap berbagai tekanan eksternal.
Ia juga menilai sinergi yang selama ini terbangun antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Bank Indonesia telah menghasilkan berbagai capaian positif, termasuk penghargaan Terbaik I Provinsi Creative Financing Regional Sulawesi Tahun 2026 dari Kementerian Dalam Negeri.
“Saya berharap pertemuan ini bukan hanya sekadar silaturahmi. Data dan informasi yang luar biasa dari BI dapat menjadi ikhtiar bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, memaparkan bahwa perekonomian global saat ini masih dibayangi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga energi dunia, hingga suku bunga Amerika Serikat yang masih bertahan pada level tinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan nilai tukar dan pasar keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Melalui pertemuan ini kita membahas bagaimana Bank Indonesia merespons gejolak nilai tukar,” kata Rizki.
Ia menjelaskan tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga negara-negara lain. Selain faktor eksternal, terdapat sejumlah faktor domestik yang turut memengaruhi permintaan valuta asing, seperti pembayaran dividen perusahaan, kewajiban utang luar negeri, hingga kebutuhan devisa pada musim haji.
Meski demikian, Rizki menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat. Karena itu, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sistem keuangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Sejumlah langkah yang ditempuh antara lain penguatan stabilisasi pasar valuta asing, optimalisasi instrumen moneter, peningkatan likuiditas perbankan, hingga perluasan kerja sama internasional dengan berbagai bank sentral mitra.
Selain menjaga stabilitas, BI juga terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makroprudensial, percepatan digitalisasi sistem pembayaran, serta pengembangan UMKM dan ekonomi keuangan inklusif.
Rizki menegaskan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan otoritas moneter akan menjadi kunci menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
“BI akan terus menjaga stabilitas sebagai prioritas utama, sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dengan pendekatan kebijakan yang berbasis data, berorientasi ke depan, dan responsif terhadap dinamika global,” tegasnya.
Forum tersebut turut dihadiri unsur perbankan, regulator, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan sebagai wadah bertukar informasi serta menyusun langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan ke depan.