menitindonesia, Makassar Program “Well-being and AI Camp” yang digagas PT Telkom Indonesia bersama Yayasan Maleo Talenta Cendekia tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga melibatkan guru sebagai peserta pelatihan. Langkah ini diambil setelah ditemukan fakta bahwa pelaku bullying di sekolah tidak selalu berasal dari sesama siswa.
Manajer Economic Law & Governance Development Telkom Indonesia Unit Social Responsibility Center, Aline Zivana, mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, sekitar 56 persen kasus bullying ternyata melibatkan guru sebagai pelaku.
“Berdasarkan data yang kami miliki, pelaku bullying ternyata tidak hanya berasal dari sesama siswa, tetapi sekitar 56% kasus juga melibatkan guru,” ungkap Aline.
Ia mencontohkan pengalaman program serupa yang lebih dulu dilaksanakan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Menurutnya, ada korban bullying yang mengalami luka fisik serius, bahkan sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Yang lebih memprihatinkan, pelaku dalam salah satu kasus tersebut adalah seorang guru.
“Salah satu pengalaman kami saat menjalankan program di Bukittinggi adalah adanya korban bullying yang mengalami putus pada jari kelingkingnya, bahkan ada siswa yang sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Yang lebih memprihatinkan, dalam salah satu kasus tersebut pelakunya adalah seorang guru,” katanya.
Berangkat dari temuan tersebut, Aline menegaskan program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan pemahaman antargenerasi antara guru dan siswa Generasi Z. Guru diikutsertakan agar dapat lebih memahami karakter Generasi Z, meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan mental, serta mendampingi siswa dengan cara yang lebih tepat.
“Karena itu, program ini tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru. Kami mengundang para guru agar mereka dapat memahami perbedaan karakter antar generasi, khususnya Generasi Z, serta meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan mental dan cara mendampingi siswa secara lebih baik,” ujar Aline.
Sebagai bagian dari ekosistem pendukung, Telkom bersama Yayasan Maleo Talenta Cendekia juga mengembangkan platform EduMind yang dapat diakses melalui perangkat mobile maupun desktop. Melalui aplikasi ini, siswa dapat melaporkan kejadian bullying atau kekerasan yang dialami maupun disaksikan, yang kemudian diterima pihak sekolah agar guru dapat segera melakukan intervensi.
Aplikasi ini juga dilengkapi fitur asesmen kesehatan mental. Apabila hasil asesmen menunjukkan adanya gangguan pada kondisi well-being siswa, termasuk indikasi tingkat kecemasan tertentu atau potensi menyakiti diri sendiri, sekolah dapat segera melibatkan psikolog untuk melakukan intervensi secara daring, dengan tetap dimonitor pihak sekolah. Orang tua turut memperoleh laporan perkembangan pendampingan tersebut.
Dengan pendekatan yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua sekaligus, Aline berharap program ini dapat menciptakan ekosistem sekolah yang lebih aman dan suportif secara menyeluruh, bukan hanya menyasar salah satu pihak saja.
(YUKI)














