Warga Adat Jembrana Sambut PLTS 100 GW: Bukan Cuma Listrik, tapi Buka Lapangan Kerja

Tokoh Adat Jembrana. (ist)
menitindonesia, JEMBRANA – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt peak (GWp) di Kabupaten Jembrana, Bali, tak hanya dipandang sebagai proyek energi bersih.
Bagi masyarakat adat setempat, kehadiran PLTS tersebut juga membawa harapan baru: listrik bertambah, lapangan kerja terbuka, dan ekonomi warga ikut bergerak.
Ketua Adat Desa Tegal Cangkring, Ketut Suwarno (51), menyambut positif pengembangan energi surya di wilayahnya. Ia berharap proyek tersebut benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Jembrana.
“Kami sebagai masyarakat adat di Jembrana khususnya, sangat-sangat berterima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Pak Prabowo (Presiden RI Prabowo Subianto) karena sudah membuat panel surya di wilayah kami. Itu nantinya bisa membantu warga, khususnya di Jembrana,” kata Ketut.

BACA JUGA:
Luncurkan PLTS 100 GWp, Prabowo Target Indonesia Tak Lagi Impor Minyak dan LPG

Menurutnya, pengembangan energi surya sejalan dengan cita-cita pemerintah untuk membangun kemandirian energi nasional. Namun, manfaatnya juga diharapkan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar lokasi proyek.
Ketut bahkan berharap pembangunan PLTS tidak berhenti pada kapasitas yang ada saat ini.
Ia ingin pengembangan energi surya terus diperluas sehingga semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat.
Bagi Ketut, ukuran keberhasilan proyek tersebut bukan hanya seberapa besar energi listrik yang dihasilkan.
Ia juga melihat peluang ekonomi yang bisa muncul dari pembangunan dan pengembangan PLTS.
Salah satunya adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi warga lokal.
“Hingga nantinya, khususnya di daerah kami di Jembrana, semua masyarakat yang tidak bisa bekerja, bisa bekerja. Dapat manfaat dari adanya panel surya ini,” tuturnya.
Ketut berharap pemerintah dapat melibatkan masyarakat sekitar dalam berbagai aktivitas ekonomi yang muncul seiring pengembangan energi surya.
Dengan begitu, proyek energi bersih tersebut tidak hanya menjadi infrastruktur pembangkit listrik, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.
Ia juga menyampaikan harapan agar pembangunan nasional tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan atau pusat pemerintahan.
Menurut Ketut, masyarakat di pelosok dan daerah juga berhak merasakan langsung manfaat pembangunan.
“Mudah-mudahan juga Bapak Presiden bisa memimpin dengan adil, dengan datang ke pelosok-pelosok wilayah Indonesia ini,” ujarnya.
Ketut berharap perhatian pemerintah terhadap masyarakat adat di Bali juga terus diperkuat. Menurutnya, pembangunan energi dan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Ia ingin masyarakat adat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi ikut mendapatkan manfaat ekonomi dari proyek-proyek strategis yang hadir di daerah mereka.
Bagi masyarakat Jembrana, kehadiran PLTS 100 GWp akhirnya tidak hanya berbicara tentang energi masa depan.
Ada harapan agar energi bersih tersebut juga menjadi energi baru bagi ekonomi warga lokal.