Suasana Kick Off Project Landscape Inception Workshop-Proyek Strengthening Capacity for Management of Invasive Alien Species in Indonesia (SMIAS) di Hotel Mercure Makassar. (RIka)
menitindonesia, MAKASSAR – Sebanyak 438 hektare kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Sulawesi Selatan, teridentifikasi terinvasi tumbuhan asing Spathodea campanulata.
Tanaman invasif tersebut menjadi perhatian karena berkembang cepat dan telah ditemukan hampir di seluruh kawasan TN Babul yang memiliki luas total 43.750 hektare.
Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung Abdul Rajab mengatakan, angka 438 hektare itu merupakan hasil identifikasi yang dilakukan sejak 2016. Hingga kini, belum ada identifikasi terbaru untuk memastikan apakah luasan kawasan yang terinvasi Spathodea mengalami peningkatan.
“Tanaman ini berkembang cepat dan sudah ditemukan hampir di seluruh kawasan TN Babul,” kata Rajab dalam kegiatan Project Landscape Inception Workshop-Proyek Strengthening Capacity for Management of Invasive Alien Species in Indonesia (SMIAS) di Hotel Mercure Makassar, Jumat (4/9/2026).
Menurut Rajab, keberadaan Spathodea tidak hanya mengganggu pertumbuhan vegetasi lain, tetapi juga berdampak pada habitat satwa di kawasan konservasi.
Salah satu satwa yang terdampak adalah kera Macaca maura. Kerusakan habitat membuat ketersediaan tumbuhan yang menjadi sumber pakan satwa tersebut ikut terganggu.
“Salah satu yang terdampak yakni habitat (kera) Macaca maura. Kerusakan habitat membuat ketersediaan pakan satwa tersebut ikut terganggu,” ujarnya.
Dampak Spathodea juga terlihat dari kemampuannya menghambat pertumbuhan vegetasi di sekitarnya. Tanaman ini diketahui mengeluarkan cairan alelopati dari bunganya yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain.
Kondisi tersebut ditemukan salah satunya di kawasan Karaenta. Vegetasi lantai hutan di bawah tegakan Spathodea bahkan sulit tumbuh.
Perubahan habitat itu juga diduga berkaitan dengan perilaku Macaca maura yang kerap turun ke jalan untuk mencari makan. Rajab menyebut perilaku tersebut telah terjadi sejak 2012.
Salah satu penyebabnya diduga akibat perubahan struktur jalan yang membuat tajuk antarpohon tidak lagi tersambung. Di sisi lain, tanaman yang menjadi sumber pakan kera juga berkurang akibat kerusakan habitat.
Karena itu, pemulihan habitat Macaca maura dinilai harus dimulai dengan mengendalikan tanaman invasif tersebut.
“Kalau tanaman pakan ini sudah bisa kita pulihkan kembali, tentunya kita harus mulai dari pengendalian tanaman invasifnya dulu,” katanya.
TN Babul saat ini telah melakukan penanganan Spathodea menggunakan metode suntikan. Metode tersebut mulai diterapkan sejak 2025.
Hasilnya mulai terlihat setelah enam bulan. Sejumlah tanaman mengalami peranggasan mulai dari batang hingga cabang. Beberapa di antaranya bahkan telah tumbang dan tidak lagi memunculkan cabang baru.
Penanganan Spathodea selanjutnya akan diperluas melalui proyek SMIAS.
Direktur Perencanaan Konservasi Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir mengatakan, proyek tersebut akan mendukung penanganan jenis asing invasif melalui riset, penguatan regulasi, pelibatan masyarakat, hingga penanganan langsung di lapangan.
“Target kita adalah untuk Bantimurung melakukan mitigasi dan penanganan terhadap adanya jenis invasif alien species,” kata Ahmad.
Dia mengatakan, penanganan spesies invasif tidak bisa hanya mengandalkan riset. Tiga langkah akan dilakukan secara paralel, yakni penguatan regulasi, penanggulangan di lapangan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Di kawasan TN Babul sendiri terdapat sekitar 44 jenis invasif, baik jenis lokal maupun alien species. Spathodea campanulata menjadi salah satu jenis yang dinilai memiliki proses invasi paling cepat.
Untuk tahap awal proyek SMIAS tahun ini, empat lokasi di TN Babul menjadi fokus penanganan, khususnya di wilayah Kabupaten Maros.
Proyek tersebut tidak hanya diarahkan untuk menemukan metode pengendalian Spathodea. Kementerian Kehutanan juga membuka peluang penelitian mengenai potensi pemanfaatan tanaman tersebut, termasuk dari sisi bioekonomi dan bioprospeksi.
Rajab berharap proyek SMIAS dapat mendorong lebih banyak perguruan tinggi melakukan penelitian terhadap Spathodea, sehingga penanganannya tidak berhenti pada upaya pengendalian.
“Perlu kajian yang lebih mendalam dan kami berharap dari proyek SMIAS itu bisa difasilitasi, khususnya untuk perguruan-perguruan tinggi yang ingin melakukan kegiatan penelitian terkait ini,” pungkasnya.