Bupati Maros, Chaidir Syam saat mengunjungi sekolah Kolong di Tompobulu. (ist)
menitindonesia, MAROS – Sebanyak 45 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Maros tercatat memiliki jumlah pendaftar yang sangat minim dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025.
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maros menunjukkan, tiga SD hanya mendapatkan dua pendaftar. Sementara tujuh sekolah lainnya mencatatkan tiga murid baru, dan dua sekolah hanya memiliki empat pendaftar.
Sebaran pendaftar minim terus berlanjut. Lima sekolah hanya menerima lima calon siswa, dua sekolah mendapatkan enam pendaftar, lima sekolah tujuh pendaftar, enam sekolah delapan pendaftar, dan empat sekolah sembilan pendaftar. Sebanyak 11 sekolah lainnya hanya mencatatkan 10 pendaftar.
“Sekolah-sekolah ini umumnya berada di wilayah pegunungan dan memang jumlah penduduknya sangat sedikit,” ujar Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Maros, Asri Rajab, Selasa (8/7/2025).
Meski jumlah siswa sangat terbatas, ia menegaskan seluruh sekolah tetap akan menjalankan proses belajar mengajar seperti biasa. “Tetap berjalan seperti sekolah lain,” katanya.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maros, Zainuddin, menyebutkan fenomena ini sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di wilayah Camba, Cenrana, dan Mallawa.
“Banyak warga di wilayah pegunungan merantau dan baru kembali setelah pensiun. Anak-anak mereka lebih banyak disekolahkan di kota,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini juga berdampak pada pendanaan sekolah. Jumlah siswa yang sedikit berbanding lurus dengan rendahnya Dana BOS yang diterima sekolah. Selain itu, permintaan perbaikan gedung dari sekolah dengan jumlah siswa banyak juga lebih diprioritaskan.
“Tapi kami tetap melihat kondisi bangunan secara objektif. Jika kerusakannya parah, tetap bisa diprioritaskan, meskipun siswanya sedikit,” tutup Zainuddin.