Dinkes Makassar Genjot Layanan Kesehatan: PMT Aktif, Fogging Diperkuat, Puskesmas Dibenahi

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nursaidah Sirajuddin.
menitindonesia, MAKASSAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Makassar mulai menjalankan sejumlah program strategis pada 2026. Program tersebut meliputi pengaktifan kembali Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Penyuluhan, penguatan layanan fogging, hingga percepatan pembangunan dua puskesmas besar yang menjadi prioritas.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nusaidah Sirajuddin, mengatakan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari berbagai masukan yang diterima dalam forum perangkat daerah dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun sebelumnya.
Salah satu usulan utama yang akhirnya terealisasi adalah pengaktifan kembali PMT penyuluhan yang sempat dihentikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Alhamdulillah, janji kami tahun lalu akhirnya terwujud. Tahun ini PMT penyuluhan sudah kembali berjalan. Ini menjadi pemantik agar masyarakat lebih aktif datang ke posyandu,” ujar Nusaidah, Selasa (2/2/2026).

BACA JUGA:
Hadiri Rakornas di Bogor, Pemkot Makassar Siap Dukung Program Prioritas Presiden

Perempuan yang akrab disapa dr Ida itu menjelaskan, selama ini Dinkes Makassar hanya menjalankan PMT pemulihan yang difokuskan pada anak dan ibu hamil dengan status gizi kurang. Dengan kembali hadirnya PMT penyuluhan, diharapkan angka kunjungan posyandu meningkat signifikan.
“Kami menargetkan angka D/S kunjungan posyandu bisa melampaui 90 persen di tahun-tahun berikutnya,” jelasnya.
Selain PMT, pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) juga menjadi perhatian utama. Makassar, kata dr Ida, rutin menghadapi peningkatan kasus DBD pada musim pancaroba dan musim hujan.
Untuk itu, Dinkes memastikan ketersediaan alat fogging di seluruh wilayah.
“Kebutuhan alat fogging sudah kami penuhi di seluruh pos. Setiap kecamatan dan kelurahan bisa bergerak cepat,” katanya.
Meski demikian, dr Ida menegaskan fogging bukan metode pencegahan utama DBD.
“Fogging hanya memutus mata rantai penularan, bukan mencegah. Tindakan ini dilakukan jika ada hasil laboratorium yang menunjukkan indikasi kasus DBD,” tegasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya melalui gerakan 3M, yakni menutup, menguras, dan menimbun barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.
Terkait layanan fasilitas kesehatan, dr Ida mengungkapkan masih banyak usulan masyarakat yang berkaitan dengan sarana dan prasarana di 47 puskesmas di Makassar. Dua puskesmas yang menjadi perhatian khusus adalah Puskesmas Jumpandang Baru dan Puskesmas Batua.
“Kami berharap dua puskesmas ini bisa segera dimaksimalkan agar memenuhi standar ATRM. Usulannya sudah berulang kali dan terus kami upayakan,” pungkasnya.