“Air meluap, jadi pengunjung tidak bisa mandi,” katanya.
Padahal, aktivitas tersebut menjadi daya tarik utama kawasan wisata Bantimurung. Akibatnya, minat wisatawan turun drastis.
Dari total kunjungan itu, pendapatan asli daerah (PAD) yang dihasilkan hanya sekitar Rp103.640.000.
Selain faktor cuaca, wisatawan juga disebut beralih ke destinasi lain yang dinilai lebih aman.
“Ada alternatif seperti waterpark yang tetap ramai, jadi pengunjung mungkin beralih,” tambah Suwardi.
Di tengah kondisi tersebut, Pemkab Maros mulai menyiapkan langkah pembenahan. Salah satunya melalui skema kerja sama pengelolaan dengan pihak ketiga.
Suwardi mengungkapkan, proses lelang pengelolaan kawasan Bantimurung telah dibuka, namun akan diulang karena belum memenuhi syarat.
“Sudah ada dua peminat, tapi akan kita ulang sesuai aturan,” jelasnya.
Nilai kerja sama ditawarkan berdasarkan penilaian aset oleh tim independen, yakni sekitar Rp55 miliar, dengan kontribusi tetap 10 persen atau sekitar Rp5,5 miliar per tahun.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Fadli (35), mengaku tetap datang meski tidak bisa menikmati wahana utama.
“Anak-anak sebenarnya mau main air, tapi tidak memungkinkan, jadi cuma duduk-duduk saja,” tuturnya.
Ia berharap pengelola menghadirkan alternatif wahana agar wisatawan tetap bisa beraktivitas saat cuaca kurang bersahabat.