Prof Taruna Ikrar menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda ke II Universitas Insan Cita (UIC) di Auditorium BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (22/4/2026) malam. Kehadirannya sebagai Anggota Senat Guru Besar menegaskan komitmen terhadap penguatan mutu akademik dan pengembangan SDM unggul di era digital.
Prof Taruna Ikrar menegaskan masa depan pendidikan tinggi harus berpijak pada neurosains, teknologi digital, dan kecerdasan buatan.
menitindonesia, JAKARTA — Transformasi pendidikan tinggi memasuki babak baru. Perguruan tinggi tak lagi cukup hanya membuka program studi konvensional, tetapi dituntut menghadirkan disiplin ilmu yang relevan dengan perubahan zaman. Dalam konteks itulah, Prof Taruna Ikrar terus mengambil peran strategis di Universitas Insan Cita (UIC).
Terbaru, Prof Taruna menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda ke II UIC yang digelar di Auditorium BKKBN, Jalan Permata I, Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur, Rabu malam (22/4/2026).
Kehadiran Taruna Ikrar memiliki arti penting. Selain dikenal sebagai ilmuwan nasional dengan reputasi internasional, ia juga merupakan Anggota Senat Guru Besar Universitas Insan Cita (UIC), posisi strategis yang berperan menjaga arah akademik, mutu pendidikan, serta pengembangan keilmuan kampus.
Sebelumnya, Taruna juga terlibat aktif dalam pengawalan penyusunan kurikulum Program Studi Psikologi UIC. Menurutnya, pengembangan pendidikan tinggi harus mengarah pada model modern berbasis platform digital yang menekankan efisiensi, fleksibilitas, dan produktivitas.
Ia menilai perubahan pola belajar global sejak pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa sistem pendidikan harus adaptif terhadap teknologi dan kebutuhan masyarakat.
“Output-nya tentu akan lebih produktif, karena tidak tergantung pada tempat, tetapi bisa di mana saja,” ujarnya.
Psikologi Masa Depan Berbasis Neurosains
Taruna Ikrar mendorong agar Program Studi Psikologi UIC memiliki kekhasan melalui pendekatan Digital Neuro Psikologi. Menurut dia, neurosains akan menjadi salah satu bidang ilmu paling menentukan di masa depan karena aplikasinya luas dalam kehidupan manusia.
Bidang itu mencakup perilaku sosial, kesehatan mental, pengambilan keputusan, hingga integrasi antara kerja otak manusia dengan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Ia menilai kampus yang berani masuk ke wilayah ilmu masa depan akan memiliki daya saing lebih tinggi dibanding perguruan tinggi yang masih bertahan pada pola lama.
Dengan arah pengembangan tersebut, UIC dinilai berpotensi menjadi pusat keunggulan akademik baru yang tidak hanya fokus pada sains dan teknologi, tetapi juga pengembangan manusia di era digital.
Taruna sendiri memiliki rekam jejak akademik kuat. Ia pernah berkiprah di University of California, Irvine dan dipercaya menduduki posisi penting di International Association of Medical Regulatory Authorities.
Kehadirannya dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda II UIC menegaskan bahwa penguatan kampus masa depan membutuhkan kolaborasi antara akademisi, sains, dan kepemimpinan visioner.