Taruna Ikrar Bongkar Strategi Besar BPOM di Singapura, Indonesia Kini Diakui Dunia

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyampaikan kuliah pakar mengenai transformasi sistem pengawasan obat dan makanan Indonesia di National University of Singapore (NUS), Singapura.
  • Forum internasional di Singapura menjadi panggung Taruna Ikrar menampilkan lompatan transformasi BPOM dan kekuatan baru Indonesia di sektor kesehatan global.
menitindonesia, SINGAPURA — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., memaparkan arah besar transformasi lembaganya dalam forum internasional bergengsi di National University of Singapore, Selasa (21/4/2026).
Dalam kuliah pakar di salah satu kampus terbaik Asia itu, Taruna menegaskan bahwa Indonesia sedang membangun sistem pengawasan obat dan makanan yang modern, adaptif, transparan, serta berstandar global.
BACA JUGA:
Bakom RI Tetapkan BPOM Masuk 3 Besar Performa Medsos Pemerintah, Taruna Ikrar Raih Kepercayaan Publik
Pemaparan tersebut menandai semakin kuatnya posisi Indonesia dalam percaturan kesehatan dunia. Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, kehadiran pimpinan BPOM RI di forum akademik internasional menunjukkan bahwa kapasitas regulasi Indonesia mulai diperhitungkan.
Taruna menyoroti capaian penting lembaganya setelah meraih status WHO Listed Authority pada Desember 2025. Pengakuan itu menjadi indikator meningkatnya kepercayaan internasional terhadap kemampuan Indonesia dalam mengawasi mutu, keamanan, dan khasiat produk kesehatan.
“Capaian ini bukan tentang individu, tetapi hasil kerja kolektif seluruh insan BPOM. Ini bukti bahwa integritas dan dedikasi akan mendapat pengakuan global,” ujar Taruna.
Picsart 26 04 22 14 48 54 063 11zon e1776846662384
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar berfoto bersama jajaran akademisi dan peserta usai kuliah pakar tentang transformasi BPOM di National University of Singapore (NUS), Singapura.

Dua Jurus Transformasi BPOM

Di hadapan sivitas akademika National University of Singapore, Taruna menjelaskan dua strategi utama yang kini dijalankan BPOM RI. Pertama, digitalisasi pengawasan melalui sistem berbasis teknologi untuk meningkatkan efisiensi layanan, transparansi, dan akuntabilitas publik.
Kedua, penerapan reliance mechanism, yakni percepatan registrasi produk dengan memanfaatkan hasil evaluasi regulator internasional yang kredibel. Pendekatan ini diyakini mampu mempercepat akses masyarakat terhadap obat dan produk kesehatan tanpa menurunkan standar keamanan.
BACA JUGA:
Kejar Target Jumbo, Prabowo Minta BKPM Bersihkan Regulasi Penghambat Investasi
“Kolaborasi antarregulator menjadi kebutuhan di era global. Dengan cara itu, akses kesehatan bisa hadir lebih cepat dan lebih luas,” katanya.
Selain itu, Taruna juga memperkenalkan konsep sinergi ABG (Academic, Business, Government). Menurut dia, kolaborasi kampus, dunia usaha, dan pemerintah merupakan fondasi penting untuk mendorong inovasi nasional serta memperkuat daya saing Indonesia.
Taruna turut menyoroti besarnya nilai ekonomi sektor yang berada dalam ruang lingkup pengawasan BPOM RI, mulai dari obat, vaksin, pangan olahan, kosmetik, hingga suplemen kesehatan, yang mencapai sekitar Rp6.000 triliun.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa BPOM RI bukan hanya lembaga pengawas, tetapi juga pilar strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi, melindungi konsumen, dan memperkuat industri nasional.
Kehadiran Taruna Ikrar di forum internasional ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak lagi dipandang hanya sebagai pasar besar, melainkan mitra strategis dengan kapasitas regulasi yang terus menguat.