Taruna Ikrar Gandeng Fadli Zon dan Abdul Mu’ti, Sekolah Jadi Titik Awal Gerakan Pangan Aman Nasional

Kepala BPOM Taruna Ikrar bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memimpin Gebyar Sapa Sekolah dalam rangka Hari Keamanan Pangan Sedunia 2026 sebagai penguatan budaya pangan aman sejak dini menuju Indonesia Emas 2045.
  • Kolaborasi BPOM, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Kebudayaan menjadi langkah strategis membangun budaya keamanan pangan sejak usia dini. Gerakan ini diharapkan melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
menitindonesia, JAKARTA — Membangun generasi unggul tidak cukup hanya dengan pendidikan yang berkualitas. Fondasinya juga dimulai dari pangan yang aman dan bergizi. Berangkat dari gagasan tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat gerakan nasional pembudayaan keamanan pangan di lingkungan sekolah.
Kolaborasi tersebut mengemuka dalam Gebyar Sapa Sekolah yang digelar BPOM dalam rangka memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) 2026, Senin (29/6/2026). Momentum ini menjadi penanda bahwa keamanan pangan bukan lagi sekadar isu pengawasan produk, melainkan bagian dari pembangunan karakter generasi bangsa.
BACA JUGA:
Tongkat Estafet dari Eko Patrio ke Uya Kuya, PAN DKI Bidik 3 Besar pada Pemilu 2029
Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menegaskan, pangan aman merupakan investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, generasi yang sehat, cerdas, dan produktif hanya dapat diwujudkan apabila anak-anak Indonesia sejak dini memperoleh pangan yang aman, bermutu, dan bergizi.
“Pangan aman adalah investasi menuju Indonesia Emas 2045. Generasi unggul hanya dapat diwujudkan apabila anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. Untuk itu, setiap anak harus memperoleh pangan yang aman, bermutu, dan bergizi,” ujar Taruna Ikrar.
Taruna menjelaskan, tantangan keamanan pangan masih menjadi persoalan serius. Selain jutaan kasus penyakit akibat pangan tidak aman setiap tahun, Indonesia juga menghadapi meningkatnya angka obesitas dan penyakit tidak menular pada anak. Karena itu, sekolah dipandang sebagai ruang paling strategis untuk membangun kebiasaan memilih pangan yang aman, sekaligus mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui kegiatan tersebut, BPOM bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menandatangani Nota Kesepahaman tentang pemberdayaan sumber daya manusia di bidang obat dan makanan. Selain itu, BPOM meluncurkan tiga pedoman pembudayaan keamanan pangan serta Gerakan 1000 Kader untuk Pangan Aman dengan Bahasa Daerah sebagai pendekatan baru dalam edukasi masyarakat.

Picsart 26 06 29 14 11 33 087 1

Kolaborasi Lintas Kementerian Bangun Budaya Pangan Aman

Menteri Kebudayaan Prof. Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc., yang menyampaikan sambutan secara daring, menilai keamanan pangan merupakan hak dasar setiap warga negara. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah dalam edukasi keamanan pangan menjadi pendekatan yang mampu menjaga sekaligus melestarikan kebudayaan Indonesia.
“Saya memandang bahwa edukasi keamanan pangan dengan bahasa daerah adalah menjaga dan melestarikan kebudayaan.”
BACA JUGA:
Taruna Ikrar Gandeng Dokter Umum Perkuat Pelayanan Kesehatan Preventif demi Indonesia Sehat
Fadli mengatakan, peluncuran Gerakan 1000 Kader untuk Pangan Aman menjadi inovasi penting karena pesan keamanan pangan dapat disampaikan sesuai dengan bahasa dan budaya masyarakat di berbagai daerah. Kementerian Kebudayaan, kata dia, akan terus bersinergi dengan BPOM dalam membangun masyarakat Indonesia yang sehat, cerdas, dan tetap berakar pada budaya bangsa.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menyebut gerakan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun sekolah yang sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Menurut Abdul Mu’ti, budaya hidup sehat harus ditanamkan sejak dini melalui kebiasaan sederhana, seperti bangun pagi, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, hingga memahami pentingnya memilih pangan yang aman dan bergizi.
“Kita harus membangun budaya dan karakter anak-anak dalam mengonsumsi makanan. Gerakan ini harus berlangsung secara berkesinambungan, bukan sekadar seremonial,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif mengenai keamanan pangan, baik di sekolah maupun di rumah. Anak-anak perlu dibiasakan memeriksa masa kedaluwarsa, memahami kandungan gizi, serta menjadi konsumen yang cerdas agar lahir generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.