Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari menilai rangkaian kunjungan tiga pemimpin dunia ke Indonesia dalam waktu berdekatan menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan internasional terhadap Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Qodari, pertemuan bilateral yang dilakukan para kepala negara dan kepala pemerintahan tersebut menunjukkan Indonesia semakin dipandang sebagai mitra strategis yang penting, baik di tingkat kawasan maupun global.
“Intensitas pertemuan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan internasional terhadap Indonesia sebagai mitra strategis, baik di tingkat kawasan maupun global,” kata Qodari dalam keterangannya, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, kepercayaan tersebut tidak terlepas dari persepsi dunia internasional terhadap stabilitas politik dan ketahanan ekonomi Indonesia yang dinilai mampu menjadi fondasi kuat dalam membangun kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan.
Qodari memaparkan, dalam beberapa pekan terakhir Presiden Prabowo menerima kunjungan tiga pemimpin dunia dari kawasan berbeda, yakni Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Menurutnya, keberagaman asal negara para pemimpin tersebut menunjukkan Indonesia terus memperluas jejaring kemitraan strategis tanpa membatasi diri pada kawasan tertentu.
Kunjungan pertama dilakukan Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko pada Kamis (2/7). Dalam pertemuan itu, kedua negara membahas peluang kerja sama di sektor industri, alat berat, teknologi, hingga penguatan hubungan ekonomi dengan kawasan Eurasia.
Indonesia dan Belarus juga meluncurkan Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026-2030 yang menjadi kerangka kerja sama kedua negara selama lima tahun ke depan.
Selanjutnya, Presiden Prabowo menerima kunjungan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada Senin (6/7).
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Singapura menyepakati 26 kerja sama yang mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pengembangan ekonomi kawasan, energi bersih, hingga ekonomi digital.
Menurut Qodari, kedua pemimpin juga membahas berbagai perkembangan geopolitik dan menegaskan pentingnya peran ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan di tengah dinamika global yang terus berkembang.
“Tidak hanya itu, kedua pemimpin negara juga membahas berbagai isu dan perkembangan di tingkat kawasan dan global serta menegaskan pentingnya ASEAN sebagai jangkar stabilitas kawasan,” ujarnya.
Sehari setelah pertemuan dengan Lawrence Wong, Prabowo kembali menerima kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Qodari mengatakan, kerja sama Indonesia dan India tidak hanya berfokus pada sektor ekonomi, tetapi juga mencakup bidang pendidikan, penguatan kelembagaan, hubungan antarmasyarakat, hingga pelestarian budaya.
Salah satu komitmen yang menjadi perhatian adalah rencana kerja sama restorasi Kompleks Candi Prambanan sebagai bagian dari penguatan hubungan kebudayaan kedua negara.
Qodari menegaskan setiap pertemuan Presiden Prabowo dengan para pemimpin dunia selalu diarahkan pada kerja sama yang konkret dan memberikan manfaat langsung bagi kepentingan nasional.
Menurutnya, strategi diversifikasi kemitraan yang dijalankan Indonesia akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional, memperluas akses pasar ekspor, menarik investasi baru, serta meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam berbagai forum internasional.
“Diplomasi Indonesia selalu berorientasi pada hasil karena diplomasi ditempatkan sebagai instrumen untuk mendukung pembangunan nasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut seluruh kerja sama yang dibangun Indonesia merupakan implementasi dari politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi pijakan diplomasi nasional.
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memilih memperluas kolaborasi dengan berbagai negara tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar dunia.
“Prinsip tersebut sejalan dengan ungkapan Presiden Prabowo Subianto bahwa bagi Indonesia, 1.000 teman masih terlalu sedikit, sedangkan satu lawan sudah terlalu banyak,” pungkas Qodari.