Di Tengah Perayaan HUT ke-81 RI, Gempa di NTT jadi Ujian Negara, Taruna Ikrar: BPOM Harus Hadir di Tengah Rakyat

Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., berjalan di tengah deretan bendera Merah Putih dalam suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum kemerdekaan tahun ini menjadi pengingat bahwa persatuan bukan hanya dirayakan, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian dan kehadiran negara bagi masyarakat, termasuk saudara-saudara kita yang tengah menghadapi bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
  • Gempa NTT bukan hanya menguji ketangguhan warga, tetapi juga menguji seberapa jauh negara hadir ketika rakyat sedang berada dalam situasi paling rentan.
menitindonesia, JAKARTA — Di tengah peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, suasana kebangsaan tahun ini datang dengan wajah berbeda. Ketika sebagian masyarakat bersiap memperingati hari kemerdekaan, saudara-saudara mereka di Nusa Tenggara Timur (NTT) justru sedang menghadapi duka akibat bencana gempa.
Dalam situasi seperti itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemerdekaan tak hanya diterjemahkan melalui kemeriahan. Makna kemerdekaan justru menemukan bentuk paling nyata ketika negara hadir, masyarakat saling menopang, dan tidak ada warga yang merasa ditinggalkan.
BACA JUGA:
Fakta Sejarah 24 Jam Sebelum Indonesia Merdeka, Apa Yang Terjadi?
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyampaikan duka mendalam kepada masyarakat NTT yang terdampak bencana.
“Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Dalam situasi bencana, kita harus hadir dan bekerja bersama untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan,” ujar Taruna.
Situasi bencana, menurut dia, menghadirkan kerentanan yang tidak berhenti pada persoalan keselamatan fisik. Ketika masyarakat kehilangan tempat tinggal, berpindah ke pengungsian, dan menghadapi keterbatasan akses kebutuhan sehari-hari, aspek keamanan pangan, obat dan produk kesehatan juga menjadi bagian penting dari perlindungan masyarakat.
Karena itu, BPOM menempatkan perlindungan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab negara yang harus tetap berjalan dalam situasi apa pun.
“Dalam kondisi darurat, masyarakat membutuhkan rasa aman. Termasuk rasa aman terhadap pangan yang dikonsumsi serta obat dan produk kesehatan yang digunakan. BPOM akan terus menjalankan fungsi perlindungan sesuai kewenangan dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan,” kata Taruna.
Situasi NTT yang dicatat dalam strategi komunikasi pemerintah menunjukkan sedikitnya 47 korban jiwa dan sekitar 2.000 warga mengungsi. Angka tersebut merupakan data yang bergerak mengikuti proses pendataan dan penanganan di lapangan.
Karena itu, Taruna menilai respons terhadap bencana membutuhkan empati sekaligus kehati-hatian. Informasi mengenai korban, pengungsi dan kerusakan harus bersumber dari data resmi yang terkoordinasi dan disampaikan secara transparan sesuai waktu pemutakhirannya.

WhatsApp Image 2026 08 17 at 11.50.19 e1786942367853

Ketika Kemerdekaan Diuji oleh Duka NTT

Bagi Taruna, momentum HUT ke-81 RI justru menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali makna persatuan.
Kemerdekaan tidak hanya dirayakan ketika keadaan baik-baik saja. Persatuan bangsa justru diuji ketika sebagian masyarakat sedang menghadapi musibah.
BACA JUGA:
Gempa Guncang NTT, Pemerintah Pusat Siagakan Bantuan dari Jakarta
“Kita boleh memperingati kemerdekaan dengan rasa syukur. Tetapi ketika saudara-saudara kita sedang berduka, bentuk persatuan yang paling nyata adalah hadir dan saling menopang,” tegasnya.
Ia mengatakan, masyarakat NTT harus merasakan bahwa mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Kehadiran negara tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus diterjemahkan melalui kerja bersama dan perlindungan yang dapat dirasakan masyarakat.
“Ketika sebagian dari kita mengalami kesulitan, bagian Indonesia yang lain harus bergerak mendekat, bukan berjarak. Kita Indonesia. Kita rawat bersama,” ujar Taruna.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat komunikasi kebangsaan HUT ke-81 RI yang menempatkan empati sebagai sikap awal, solidaritas sebagai aksi nyata, dan persatuan sebagai kekuatan bangsa. Peringatan kemerdekaan diarahkan bukan pada kemeriahan semata, melainkan pada kepedulian yang dapat dirasakan masyarakat.
Bagi BPOM, perlindungan masyarakat dalam situasi bencana juga menuntut koordinasi. Tidak boleh ada informasi yang simpang siur, klaim berlebihan, maupun pesan yang membuat masyarakat semakin cemas.
“Yang paling penting adalah masyarakat tahu bahwa mereka tidak sendirian. Pemerintah dan seluruh komponen bangsa harus bergerak bersama menopang mereka,” kata Taruna.
Di titik itulah bencana NTT menjadi lebih dari sekadar persoalan geografis. Ia menjadi cermin tentang bagaimana Indonesia memperlakukan rakyatnya ketika mereka sedang berada dalam keadaan paling rentan.
Harapan, kata Taruna, tidak boleh berhenti sebagai slogan. Harapan harus hadir dalam kepedulian, gotong royong, koordinasi, dan tindakan nyata.
“Harapan tumbuh dari kepedulian. Ketika kita hadir untuk saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah, di situlah persatuan Indonesia menjadi nyata,” ujarnya.
Di tengah duka NTT, kemerdekaan akhirnya menemukan makna yang paling sederhana sekaligus paling dalam: ketika satu bagian Indonesia terluka, bagian Indonesia yang lain datang untuk menopangnya.
Kita Indonesia. Kita rawat bersama. Kita melangkah dengan harapan.