Wabup Sulsel menyerahkan bantuan pompa ke petani di Sidrap. (ist)
menitindonesia, SIDRAP – Kekeringan tak menghalangi petani di Desa Takalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, memanen padi.
Hasil panen bahkan menunjukkan peningkatan signifikan. Produktivitas padi di lahan tersebut mencapai 10,4 ton per hektare, naik dari sekitar 7 ton per hektare pada musim tanam sebelumnya.
Panen raya tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi, Selasa (18/8/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan Pertanian Modern Advance Agriculture System (PMAAS) dan program percepatan swasembada pangan nasional.
Fatmawati juga menyaksikan pengoperasian Program Listrik Masuk Sawah serta menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa pompa berukuran 3 inci kepada petani.
“Di tengah kekeringan, ternyata kita masih panen. Ini bukti nyata sinergi yang baik seluruh pihak dalam penanganan kekeringan di Kabupaten Sidrap,” kata Fatmawati.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa produktivitas pertanian tetap bisa dijaga meski petani menghadapi tantangan perubahan musim dan keterbatasan air.
Fatmawati mengapresiasi kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sidrap, Kementerian Pertanian, PLN, penyuluh, kelompok tani, hingga para petani yang bersama-sama menjaga produksi pangan.
“Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu kita bersama-sama mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu penopang pangan nasional,” ujarnya.
Program Listrik Masuk Sawah menjadi salah satu solusi untuk mendukung kebutuhan energi pompanisasi lahan pertanian, terutama di wilayah yang menghadapi persoalan kekeringan.
Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN UID Sulselrabar Albert S mengatakan terdapat 1.471 titik layanan pompanisasi untuk irigasi pertanian di wilayah kerja UP3 Parepare. Sebanyak 1.073 titik di antaranya berada di Kabupaten Sidrap.
Dukungan tersebut membutuhkan daya sekitar 3,4 MVA untuk mengoperasikan layanan pompanisasi di wilayah tersebut.
Fatmawati berharap bantuan pompa dan dukungan elektrifikasi dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga petani tetap mampu mengairi sawah, menjaga waktu tanam dan menekan risiko gagal panen.
“Semoga dengan adanya bantuan pompa ini bisa bermanfaat bagi masyarakat, bisa tetap panen tepat waktu dan kita bisa meminimalisir kegagalan panen,” katanya.
Albert mengatakan dukungan listrik kini tidak hanya difokuskan untuk kebutuhan rumah tangga, bisnis, dan industri, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian dan perkebunan.
“Semoga hal ini dapat membantu sektor pertanian menjadi lebih produktif, tangguh, dan tahan terhadap perubahan musim,” ujarnya.
Dukungan dari pemerintah pusat juga terus digelontorkan untuk memperkuat sektor pertanian di Sidrap.
Kepala Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Kelas I Makassar, Dr Rustan Massinai, mengatakan dukungan Kementerian Pertanian untuk Kabupaten Sidrap pada 2026 mencapai sekitar Rp65 miliar.
Anggaran tersebut mencakup sejumlah program, di antaranya cetak sawah sekitar 606 hektare, optimalisasi lahan 3.120 hektare, pembangunan sekitar 150 unit irigasi pompa, irigasi tersier di 38 titik, irigasi pipa 10 titik, hingga pembangunan konservasi.
Sidrap juga mendapatkan dukungan optimalisasi lahan rawa sekitar 3.000 hektare.
Rustan mendorong Pemkab Sidrap terus mengusulkan kebutuhan pengembangan pertanian agar bisa mendapatkan dukungan pada program tahun berikutnya.
“Silakan diusulkan. Kami siap membantu untuk menambah tahun 2027, baik cetak sawah, Oplah, maupun irigasi pertanian,” katanya.
Sementara itu, Kepala BRMP Sulawesi Selatan Dr Zainal Abidin mengatakan program PMAAS pada 2026 ditargetkan mencakup 91 ribu hektare lahan yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulsel.
Khusus Sidrap, alokasi PMAAS ditingkatkan dari target awal 7.000 hektare menjadi 10.000 hektare setelah adanya usulan dari pemerintah daerah.
“Dengan PMAAS ini kita berharap produktivitas bisa mencapai 10 ton per hektare. Kemarin di Desa Majelling kita sudah mendapatkan 11,2 ton per hektare,” jelas Zainal.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan keberhasilan panen di Takalasi tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak.
Desa Takalasi sebelumnya menjadi salah satu wilayah yang terdampak kekeringan. Namun, keberadaan sumur bor, Program Listrik Masuk Sawah, bantuan pertanian, serta kerja keras petani membuat lahan tetap produktif.
Pemkab Sidrap juga mendorong perluasan PMAAS di Desa Takalasi hingga sekitar 395 hektare yang mencakup 13 kelompok tani.
Selain itu, pemerintah daerah menyiapkan penguatan infrastruktur kelistrikan untuk mendukung sekitar 120 hektare lahan yang masih membutuhkan peningkatan kapasitas listrik.
Panen raya di Takalasi menjadi gambaran bagaimana kolaborasi teknologi, infrastruktur pengairan, elektrifikasi, dan inovasi pertanian dapat menjaga produksi pangan di tengah ancaman kekeringan.
Dengan produktivitas yang meningkat dari sekitar 7 ton menjadi 10,4 ton per hektare, program pertanian modern di Sidrap dinilai membuka peluang peningkatan produksi sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah penopang pangan nasional.