
-
Pertemuan di Kantor BPOM membuka jalan percepatan kerja sama regulatori Indonesia–Pakistan yang diproyeksikan menjadi fondasi penguatan industri vaksin, transfer teknologi, dan perluasan akses pasar kesehatan kedua negara.
menitindonesia, JAKARTA — Di tengah meningkatnya kebutuhan kolaborasi global di sektor kesehatan, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menerima kunjungan Duta Besar LBBP Republik Indonesia untuk Republik Islam Pakistan, Letjen TNI (Purn) Chandra W. Sukotjo, M.Sc., di Kantor BPOM, Jumat (28/8/2026).
BACA JUGA:
Kunjungi Lokasi Pengungsian, Prabowo Janji Pemerintah Terus Bantu Warga Terdampak Gempa
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat diplomasi kesehatan Indonesia dengan Pakistan. Tidak hanya membahas hubungan antarlembaga regulator, diskusi juga diarahkan pada pengembangan industri vaksin, harmonisasi standar regulasi, peningkatan perdagangan produk kesehatan, hingga perluasan akses pasar bagi kedua negara.
Dalam pertemuan itu, Duta Besar RI untuk Pakistan didampingi Counsellor (Politik) sekaligus Kepala Kanselerai KBRI Islamabad, Ferry Junigwan Murdiansyah, S.H., LL.M., yang turut membahas langkah-langkah percepatan kerja sama regulatori antara BPOM dan Drug Regulatory Authority of Pakistan (DRAP).
Salah satu agenda utama yang menjadi fokus pembahasan adalah percepatan finalisasi Memorandum of Understanding (MoU) antara BPOM dan DRAP. Kesepakatan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Taruna Ikrar dengan Chief Executive Officer DRAP pada Januari 2026.
Secara teknis, substansi kerja sama dalam draf MoU telah diselesaikan dan memperoleh kesepahaman dari kedua regulator. Ruang lingkupnya mencakup kerja sama regulatori untuk mendukung pengembangan manufaktur vaksin, pertukaran informasi pra dan pascaperedaran, farmakovigilans, pengujian laboratorium, harmonisasi standar, hingga peningkatan kapasitas regulator.
BPOM juga menyatakan kesiapan memberikan technical assistance dan capacity building kepada DRAP dalam berbagai bidang strategis, mulai dari proses Marketing Authorization, penerapan Good Manufacturing Practice (GMP), penguatan laboratorium pengujian, hingga pengembangan sistem regulatori menuju standar internasional WHO Global Benchmarking Tool (GBT) Level 3 dan WHO-Listed Authority (WLA).
Kerja sama regulatori tersebut memiliki arti penting karena berkaitan langsung dengan agenda penguatan kolaborasi vaksin Indonesia dan Pakistan yang saat ini tengah didorong kedua negara.













