Memaknai Lukisan Zam Kamil: Nelayan Menganggur, Petani Tidur

Ilustrasi Foro Zam Kamil, memberi makna tentang laut, nelayan dan petani yang malas-malasan. Zam Kamil menggambarkan tentang masa depan nelayan dan kau tani di masa datang. Ada petani, tapi tak ada sawah, ada nelayan tapi tak ada ikan.

Oleh Andi Fadli
(Pemerhati Seni dan Budaya)

Menarik. Setiap lukisan Zam Kamil (k zam) selalu ada  keindahan manusia. “Itulah ciri khas Kak Zam,’’  kata Hasbullah Mathar,  fotografer sekaligus dosen foto, alumni Jogja, saat bersama saya menikmati deretan lukisan yang terpajang di galeri foto anjungan pantai Losari, Sabtu 3 Oktober 2020, kemarin.
Lukisan-lukisannya -maaf jika saya menyebutnya maestro- sarat dengan nilai dan makna.  Terpajang dengan rapih di galeri. Sejak kepemimpinan walikota Ilham Arief  Siradjuddin dan Danny Pomanto, memberikan tempat bagi para seniman pelukis Sulsel ini untuk melahirkan karya.
Kali ini, Zam Kamil, pelukis yang  menghabiskan masa remaja dan sekolahnya di Jogja,  dalam karyanya selalu menampilkan manusia dengan tubuh-tubuh indah dan seutuhnya. Namun kali ini, ada yang beda, dari sekian banyak lukisannya. Pelukis senyum dan keederhanaan ini, memilih tema dengan Butterfly Effect,  dengan pemaknaan ‘Nelayan Menganggur dan Petani Tidur’.
Dari cerita Zam Kamil, dia ingin memperlihatkan kondisi kekininian yang  terjadi di negeri tercinta ini. Konon, kata pelukis kondang itu, lagut bagi nelayan adalah anugerah. Laut adalah sahabat yang selalu memberi, tidak pernah marah, dan biasanya, laut hanya kadang marah karena pengaruh bulan. Tetapi kini sudah berbeda.
Bagi yang lain, laut sekarang adalah musuh bahkan bisa menjadi lawan yang harus ditaklukkan. Sekarang laut marah karena banyak hal. Misal, sampah industri  yang terus menerus menimpanya, dan karena adanya eksploitasi tiada henti serta reklamasi secara terus menerus.
Penulis bersama pelukis Zam Kamil, di depan dinding lukisan yang sarat makna.
Akhirnya, nelayan pun malas melaut. Laut marah dan laut menjadi ganas. Ikan-ikan terkena polutan dan menghilang.  Akibatnya, nelayan menganggur. Imbasnya,  tak  ada lauk-pauk di meja makan, protein untuk masyarakat terhambat, petani pun terkena dampak menjadi kurang gizi, sehingga malas bekerja.
Persawahan sebagian besar sudah terpepet perumahan. Petani tidur dan berkhayal. Menjual sawahnya, untuk sekolah anak-anaknya yang beranjak dewasa agar meraih penghidupan yang lebih baik.
Begitulah seterusnya. Hingga akhirnya, sawah-sawah menghilang dari peradaban.
Demikian sekilas Butterfly Effect bagi Zam Kamil. Sarat maknanya. Ada nuansa kritisnya. Kepeduliannya terhadap semesta, ia tuangkan ke dalam sebuah karya seni.
Bersama dengan pelukis kondang semisal Zainal Beta yang terkenal dengan lukisan tanah liatanya itu, ia memerkan sederet karya besar dengan penuh arti di galeri lukisan anjungan pantai losari.
Bukan hanya Zam dan Zainal, ternyata pelukis-pelukis muda yang sekarang, juga banyak menelorkan karya lukis, sering melakukan pameran di tempat ini. Silih bergantian mahasiswa dari seni UNM dan Unsimuh, mencermati setiap lukisan yang terpajang di dinding galeri lukisan tersebut.
Menurut penanggungjawab galeri, Muhammad Azs (62 tahun). yang selalu melakukan pameran lukisan, sudah generasi yang sudah berjenjang.  Awalnya, kata Azis, hanya beberapa orang saja. ’’Saya hanya beberapa orang saja seperti Zainal Beta (seniman lukis tanah liat) dan beberapa teman ingin memfungsikan tempat ini, sebagai wujud perhatian kepada seni dan budaya. Apalagi tempat ini sebelumnya hanya menjadi tempat nongkrong orang lewat dan terkesan jorok,’’ kata Azis yang juga adalah putra salah satu mantan walikota di Makassar ini.
Generasi seperti Zam Kamil, jelasnya, datang dari generasi ketiga. ’’Sekarang sudah generasi ketiga di bawah Zam Kamil. Kita selalu bersyukur tempat ini bisa menjadikan sarana edukasi karya  anak bangsa dari sisi seni dan budaya. Jika sabtu dan minggu, selalu ribuan orang yang datang menikmati karya-karya pelukis hebat di tanah Bugis Makassar ini,’’ ungkap Azis yang pernah mengecap pendidikan di Amerika itu.
Sore itu, jelang magrib, suasana galeri makin ramai. Cerita yang singkat tapi sungguh sarat makna dalam sebuah filosifi perabadan. ’’Kita bangsa yang sebenarnya sudah sangat maju dalam sisi peradaban. Makin tinggi bahasa suatu kelompok maupun negara makin besar kita semua. Bugis Makasar membuktikan sejak dulu,’’ ungkap Ibul seorang  Fotografer yang hadir dalam diskusi lepas hingga matahari terbenam, pertanda malam telah tiba menghiasi sudut pantai losari, Makassar.
‘’Pengakuan karya besar itu ada di luar, bukan hadir di dalam.’’ Tutup penulis kepada Zam Kamil, pelukis yang sudah memamerkan karyanya ke beberapa negara di luar dengan harga fantastis itu. Juga kepada Hasbullah – dosen fotografi di beberapa kampus ini. (*)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini