Tak Temukan Apartemen Lorong, Erwin Aksa Malah Dapati Tong Sampah ‘Gendang Dua’ Tinggal Rangka

Erwin Aksa - usai berkeliling mencari Apartemen Lorong. Di tengah jalan ia menemukan gendang dua (tempat sampah) yang tinggal bangkai. Menurutnya, program gendang dua itu tidak tepat sasaran. (FotoTimARB)
Temukan Program Pemkot terbengkalai – Setelah TPA Antang dan Halte Kapsul, Erwin Aksa tunjukan bukti kegagalan Program ‘Gendang Dua’.  Tempat sampah tersebut tak berfungsi lagi. Ia menganggap program Gendang Dua sia-sia dan tidak tepat sasaran, sehingga bersifat proyek yang memboroskan anggaran.
menitindonesia, MAKASSAR- Pengusaha Nasional, Erwin Aksa, menyayangkan kota sebesar Makassar tak memiliki program penataan kota yang jelas dan berkelanjutan, sehingga Makassar menjadi semakin jorok.
Secara pembangunan infrastruktur, kota Makassar sejak sepuluh tahun terakhir, tak menunjukan perkembangan yang signifikan.
Bahkan menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang konstruksi dan infrastruktur itu program Pemkot cenderung membangun tanpa perhitungan yang matang, dan akhirnya hanya terbengkalai.
Tanpa sengaja, salah satu program yang ditemukan Erwin mangkrak dan tak terurus lagi yakni proyek tempat sampah gendang dua yang berada di Jalan Haji Bau, Senin (19/10/2020).
Awalnya EA (akronim nama Ketua DPP Partai Golkar) itu rencananya meninjau Apartemen Lorong (Aparong) yang digagas Danny Pomanto di Jalan Teluk Bayur, Kelurahan Maccini Sombala, Tamalate.
“Tadi saya mencoba mencari yang namanya apartemen lorong, program dari Danny Pomanto yang katanya itu adalah program unggulan. Saya keliling mencari itu tapi tidak menemukan apartemen tersebut,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa Aparong yang digagasnya  sebenarnya sudah berjalan di kota-kota lain.
“Yang saya tahu dibeberapa kota itu yang namanya apartemen lorong itu istilahnya rusunawa kalau kita sewa, rusunami kalau kita miliki. Program-program ini sudah banyak terjadi di beberapa kota,” terangnya.
“Contohlah DKI, mereka sudah bangun ribuan rusunawa, bahkan sekarang rusunami dengan DP 0 persen. Tentunya kita juga berharap bahwa di kota Makassar juga ada tetapi di era Danny Pomanto menjadi wali kota saya tadi mencari dimana itu Rusun, dimana itu apartemen, saya tidak menemukannya,” sambungnya.
Setelah itu saat melintas di Jalan Haji Bau, ia melihat tempat sampah gendang dua yang tak lagi difungsikan.
Ia cukup prihatin lantaran proyek tempat sampah gendang dua itu diperadakan dengan menggunakan anggaran APBD namun manfaatnya tak dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Yang saya temukan malah ini gendang dua. Tapi gendang dua inikan APBD, saya dengar ada masalahnya, kita lihat berfungsi tidak? Yah tidak karena tidak ada kantong plastiknya,” katanya.
Tidak berfungsinya tempat sampah gendang dua ini, lanjut Erwin sebab diperadakan tanpa mempertimbangkan kualitasnya.
Tak hanya itu kekeliruannya, yang juga hadir yakni Pemkot Makassar di era Danny Pomanto hanya mengandalkan APBD tanpa menggandeng pihak swasta.
“Jadi kita lihat tadi ada sumbangan dari united tracktor (tempat sampah) nah itu yang bagus, kuat anti karat. Kalau yang ini dilihat modelnya saja sangat tidak layak. Jadi kita harapkan partisipasi dunia swasta ke depan, CSR-CSR untuk membangun tempat-tempat sampah,” paparnya.
Erwin menegaskan, banyaknya proyek mangkrak dan sia-sia, jelas menandakan bahwa pemerintah kota telah gagal.
“Saya kira tidak ada visi yang jelas dari Danny Pomanto. Tidak punya kemampuan untuk melibatkan swasta akhirnya menggunakan APBD, padahal APBD Makassar itu sangat sedikit, cuman Rp 4 Triliyun. Kasihan masyarakat, lebih baik mereka diberikan bantuan-bantuan agar bisa sejahtera dibanding membangun barang-barang seperti ini yang kemudian bermasalah,” ujar Erwin. (adezakariah)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini