Pilkada Gubernur Sulsel Molor ke Tahun 2024, Ahmad: Belum Ada Lawan NA

Gubernur Sulsel Prof Dr Ir HM Nurdin Abdullah, M.Agr bersama Presiden Joko Widodo. (Foto Ist)
NA didukung elit – Persiapan menuju Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan, bakal mengalami perpanjangan waktu. Presiden meminta semua Parpol di DPR RI tak perlu mengutak-atik jadwal Pilkada. “Lucu, UU Pilkada belum dilaksanakan sudah mau direvisi,” kata Joko Widodo.
menitindonesia, MAKASSAR – Keingingan Presiden Joko Widodo agar Pilkada dilaksanakan secara serantak pada Tahun 2024, berimplikasi politik pada agenda pemilihan gubernur Sulawesi Selatan yang direncanakan digelar pada tahun 2022 atau 2023.
Jokowi meminta agar perubahan UU Pilkada dikaji mendalam dan minta semua kekuatan politik, terutama parpol yang memiliki kursi di DPR, untuk mempertimbangkan betul soal perubahan UU Pilkada ini.
Jika Pilkada ditunda, maka konsekuensi logis yang akan terjadi, banyak pejabat sementara kepala daerah yang akan diangkat, termasuk pejabat sementara Gubernur Sulsel tahun 2023-2024, mendatang.
Nah, bagaimana peluang calon petahana jika Pilkada Gubernur nanti tertunda, sementara jabatan gubernur diisi oleh pejabat sementara?
Ahmad Mabbarani, aktivis warung kopi menilai peluang Prof Dr Ir HM Nurdin Abdullah masih sangat kuat meski jabatan gubernur pada tahun 2023 akan diisi oleh pejabat sementara hingga Pilkada Gubernur selesai  pada 2024.
Dia menambahkan, pada 2024, Prof NA (akronim nama Nurdin Abdullah) tidak pudar begitu saja meskipun Prof NA nanti tidak menjabat lagi gubernur pada saat hajatan Pilgub Sulsel 2024 digelar.
“Prestasi Prof NA membangun infrastruktur berefek pada popularitas dan elektoralnya pada saat Pilgub. Apalagi saat ini belum ada tokoh yang menonjol yang bisa dijagokan menantang NA, meskipun Pilgub ditunda ke tahun 2024,” ujar Ahmad Mabbarani, di Makassar, Minggu (31/1/2021).
Selain itu, dia juga menganggap, bahwa jabatan gubernur yang diisi oleh pejabat sementara di masa pemerintahan transisi nanti, adalah produk dari Presiden melalui Mendagri yang tentu sangat membuka ruang kepada NA. Menurutnya, Gubernur NA adalah salah satu gubernur yang sangat dipercaya oleh Presiden Joko Widodo.
Ahmad juga menyebut, pengaruh NA masih sangat kuat di pusaran lobby elite politik di pusat. Salah satu indikatornya, kata dia, yakni pada saat penentuan ketua Golkar Sulsel pada Musda Golkar di Jakarta, tahun lalu.
Menurut Ahmad Mabbarani, nama Taupan Pawe muncul dari bisikan istana sehingga Airlangga Hartarto memberikan diskresi kepada Taupan Pawe untuk menjadi Ketua Golkar Sulsel.
“Itu menandakan betapa dekatnya Prof NA dengan Presiden Joko Widodo. Itu artinya, selain pemerintahannya berprestasi, Prof NA juga mengakar dan disukai oleh masyarakat. Apalagi NA  disupport elite politik dan kekuasaan dari atas. Jadi dia mudah merengkuh jabatan gubernur dua periode,” kata Ahmad Mabbarani. (andi ade zakaria)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini