Aktivis 98 Support Kabareskrim Ungkap Mafia Tambang di Kaltim, Syamsir Anchi: Abaikan Serangan Sambo Dkk

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto dan Aktivis 98 Syamsir Anchi. (Foto diedit: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Pentolan Aktivis 98 dan demonstran Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD) era tahun 1998 di Makassar, Syamsir Anchi, memberikan support moral kepada Kepala Bareskrim Polri, Komisaris Jenderal (Komjen) Agus Andrianto, agar tidak terpengaruh dengan ‘serangan’ yang dilakukan oleh mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo dan mantan Karo Paminal Propam Hendra Kurniawan.
Syamsir Anchi mengatakan, hampir semua orang di negeri ini mengetahui kejahatan yang telah dilakukan oleh Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan yang berkomplot membunuh dan menghalangi proses hukum pengungkapan kasus pembunuhan Brgadir Yoshua.
“Kita semua tahu siapa mereka. Pak Agus, jangan gentar melawan mafia di negeri ini. Rakyat percaya Anda polisi baik. Anda sangat tegas menjalankan perintah Presiden dan Kapolri mengusut tuntas kematian Brigadir Yoshua dan memenjarakan Ferdy Sambo Cs,” kata Syamsir Anchi melalui keterangannya, Senin (28/11/2022).
Seorang Ferdy Sambo saja, lanjut Anchi, yang saat itu memegang kendali kuat di Polri, bisa diproses secara hukum oleh Timsus dan Bareskrim Polri. Tentu saja, kata dia, hanya soal sepele bagi seorang Komjen Agus Andrianto untuk memberantas mafia tambang dan judi online.
Syamsir Anchi mengatakan, “Geng Bandit” yang bermain di tambang ilegal itu merasa terusik oleh sikap tegas dan tegak lurus Kabareskrim Komjen Agus Andrianto, sehingga mereka menyusun upaya menjatuhkan kepercayaan publik terhadap Komjen Agus Andrianto. Bahkan, Anchi menduga, Hendra sudah menyiapkan skenario pembunuhan karakter terhadap Komjen Agus jauh sebelum kasus Brigadir Yoshua terjadi.
“Tak hanya Komjen Agus, bisa jadi banyak jenderal polisi lainnya mereka ingin sandera agar keinginannya atau kepentingan para bandit itu mulus tak terusik. Cara yang digunakan, ya membuat fitnah, misalnya yang dilakukan terhadap Ismail Bolong itu, kan mafia itu tak mengenal dosa dan menghalalkan semua cara, ya namanya juga mafia,” ujarnya.
Direktur Pusat Informasi Lingkungan Hidup Indonesia (PILHI) itu, juga mengimbau agar Polri mengungkap dugaan kasus ilegal mining di Kalimantan Timur yang berpotensi merugikan negara hingga triliunan rupiah. Syamsir Anchi, juga mengingatkan, bahwa masih banyak kasus yang belum dibereskan, misalnya kasus dugaan ilegal mining yang dilakukan oleh PT BEP di Kaltim dengan modus pencucian uang.
“Kasus adanya dugaan ilegal mining PT BEP sudah dilaporkan oleh LSM ke Polri dan Kejaksaan. Sudah harus digerakkan, karena dari kasus ini, dugaan kerugian negara mencapai triliunan,” ungkap Syamsir.
Ia berharap, Bareskrim segera memanggil pimpinan PT BEP inisial ERW untuk diperiksa terkait dugaan ilegal mining dengan modus kepailitan dan money loundry. Apalagi, kata Anchi, kasus tersebut sudah ada laporan polisinya sehingga Polri sisah membuktikan apakah dugaan dan laporan LSM itu terdapat perbuatan melawan hukum yang membuat negara dirugikan.
“Harus ada kepastian hukum, agar masyarakat melihat bahwa Polri lebih kuat dari mafia, seperti saat melihat kasus pembunuhan Brigadir Yoshua, Polri bekerja tanpa pandang bulu, tuntas diusut dan Sambo ditangkap dan sekarang dalam proses mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum,” ujarnya. (roma)