Kisah Nyata Orang Tua Miskin Asal Gorontalo: Gagal Tamat SD hingga Lahirkan Empat Anak Sukses

Latif Bialangi bersama Istri dan anak-anaknya.
menitindonesia, GORONTALO — Namanya, Latif Bialangi. Pria paruh baya asal Gorontalo yang sehari harinya berprofesi sebagai pedagang kaki lima.
Sejak kecil nyaris tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ibunya meninggal dunia ketika usianya baru berumur 3 tahun.
Ia pun dirawat dan dibesarkan oleh bapaknya dan hidup menumpang di rumah kerabat.
Masa kecil yang sangat menyedihkan ini harus Ia lalui. Hidup dalam kemiskinan membuatnya tidak bisa menamatkan diri di sekolah dasar (SD).
Terkadang, Ia harus menahan lapar seharian karena bapaknya tidak punya uang membeli makanan. Tetapi Latif tidak berkecil hati. Ia tetap semangat menjalani hidup.
Menginjak masa remaja, Latif merantau ke Kota Manado. Di sana Ia bekerja sebagai buruh petik cengkeh.
Meski punya cita-cita sekolah tinggi, Latif harus mengubur impiannya. Setelah sekian tahun berkerja, Latif berhasil mengumpulkan gajinya yang akhirnya Ia pulang ke kampung halamannya dan memulai usaha jualan di sudut kantor pemerintahan Kabupaten Gorontalo.
Seiring berjalan waktu, tak terasa 38 tahun lamanya Ia berjualan. Namun siapa sangka, pria yang dahulunya miskin di kampung ini berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana.
Ia bersama sang Istri, Patria Wolinelo dengan penuh kesabaran membesarkan empat anaknya yang kini telah sukses menggapai cita-citanya masing-masing. Kesabarannya selama ini berbuah manis.
Anak sulungnya yang bernama Rahmat Bialangi kini menjadi pengusaha muda dan menjabat ketua Himpunan Pengusaha Muda Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan.
Anak kedua, Herlina Bialangi berhasil menjadi ASN Bidan di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Sedangkan anak ketiga, Sri Wulan Bialangi, diterima berkerja di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hasri Ainun Habibie (RSUD Ainun), Provinsi Gorontalo.
Sementara anak bungsunya, Reski Ade Putra Bialangi berhasil menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar, yang yudisiumnya dilaksanakan, Kamis (20/7/2023).
Kisah perjalanan hidup Latif ini sangat menginspirasi.
Hidup itu ibarat roda yang berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Syukur dan sabar dalam kunci dalam kehidupan. (*)