menitindonesia, MAKASSAR – Suasana haru menyelimuti Balaikota Makassar saat Moh. Ramdhan “Danny” Pomanto menggelar apel terakhirnya sebagai Walikota Makassar pada Rabu (19/2).
Para pegawai pemerintahan satu per satu menyalami pemimpin yang selama dua periode telah membawa perubahan besar bagi kota ini. Tangis pecah, seolah tak ingin berpisah dengan sosok yang telah mengangkat kesejahteraan mereka.
Ketua Komando Mahasiswa Merah Putih Sulsel, Bojan menyebut, Danny Pomanto sebagai walikota terbaik yang pernah dimiliki Makassar.
“Selama sembilan tahun memimpin, Pak Danny berhasil mengukir sejarah dengan meraih 420 penghargaan, termasuk penghargaan tertinggi dalam tata kelola pemerintahan daerah, Parasamya Purnakarya Nugraha, yang terakhir kali didapatkan Makassar di era Walikota Patompo,” katanya, Kamis (20/2/2025).
Menurutnya, pengakuan terhadap kepemimpinan Danny tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari dunia internasional.
BACA JUGA:
Supratman: Danny Wariskan Pemerintahan ke Wali Kota Appi Bersih dari Utang
Di bawah kepemimpinannya, Makassar pernah dinobatkan sebagai kota terbahagia di dunia peringkat 234, kota smart di dunia peringkat 115, kota global peringkat 454, dan kota sehat se-Asia Tenggara versi WHO.
“Bahkan, beberapa minggu sebelum masa jabatannya berakhir, Danny diundang ke Jepang bersama Walikota Chile untuk mempresentasikan program kota sehat bebas karbon, sebuah pencapaian yang membanggakan,” ungkapnya.
Tak hanya soal penghargaan, menurutnya, salah satu peninggalan terbesar Danny Pomanto adalah lonjakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang naik drastis dari Rp 500 miliar menjadi Rp 2 triliun.
Peningkatan ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bagaimana tata kelola pemerintahan yang baik mampu menggerakkan ekonomi daerah.
“Dampak dari kenaikan PAD ini sangat dirasakan oleh para pegawai pemerintahan. Pegawai honorer yang sebelumnya hanya menerima Rp 300 ribu kini mendapatkan Rp 1,5 juta plus insentif,” lanjutnya.
Honor Ketua RT/RW yang dulunya jauh dari kesejahteraan kini memperoleh Rp 2 juta per bulan. Pegawai kebersihan yang sebelumnya hanya digaji Rp 75 ribu kini menerima Rp 2,2 juta. Pejabat eselon 2 dan ASN di lingkup SKPD juga menikmati peningkatan kesejahteraan yang signifikan.
Menurut Bojan, hal yang paling luar biasa dari kepemimpinan Danny adalah kemampuannya mengubah mindset aparatur sipil negara untuk bekerja demi kepentingan masyarakat, bukan sekadar formalitas birokrasi.
“Pak Danny bukan hanya membangun kota, tetapi juga membangun kesejahteraan bagi orang-orang yang mengurusnya. Hal ini yang membedakannya dengan pemimpin lain,” paparnya.
Bagi Bojan dan banyak orang lainnya, Danny Pomanto bukan sekadar pemimpin, tetapi juga inspirasi bagi perubahan. Dedikasi dan inovasinya telah membawa Makassar ke level yang lebih tinggi, baik dalam skala nasional maupun internasional.
“Hari ini, Danny meninggalkan jabatannya dengan kepala tegak, meninggalkan warisan yang akan terus dikenang oleh masyarakat. “Terima kasih, Pak Danny Pomanto dan Ibu Indira Yusuf Ismail, atas dedikasi dan karya abadimu untuk Makassar. Sampai berjumpa di ruang pengabdian yang lain,” pungkas Bojan.