Diluncurkan 15 Juli 2006, Sejarah Singkat Twitter Menjadi X Setelah diakuisisi Elon Musk

Logo Twitter dan X
menitindonesia, JAKARTA – Dari sebuah platform microblogging sederhana tempat orang berbagi pesan singkat, Twitter telah menjelma menjadi sesuatu yang jauh berbeda. Kini, dunia mengenalnya dengan nama baru: X.
Transformasi ini menandai babak baru dari perjalanan panjang media sosial yang pernah merevolusi komunikasi digital global.
Twitter pertama kali diluncurkan ke publik pada 15 Juli 2006 oleh Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan Williams. Saat itu, gagasan sederhananya adalah menciptakan layanan berbagi status pendek berbasis teks, dibatasi 140 karakter mirip SMS.
Nama “Twitter” sendiri dipilih karena menggambarkan suara burung kecil yang berceloteh, sesuai dengan format pesan singkat yang disebut “tweet”.

BACA JUGA:
Peristiwa Bersejarah Hari Ini: Pelayaran Vasco da Gama Menuju India yang Mengubah Dunia

Tak butuh waktu lama, Twitter meledak di ranah digital. Penggunaannya dalam ajang SXSW 2007 membuatnya mendunia, lalu platform ini semakin dikenal saat menjadi alat komunikasi utama dalam berbagai peristiwa penting, seperti Arab Spring, pemilu AS, dan tragedi dunia lainnya. Twitter pun menjelma menjadi pusat percakapan global dan panggung para tokoh publik.
Namun, perubahan besar datang pada Oktober 2022, ketika miliarder teknologi Elon Musk resmi mengakuisisi Twitter dengan nilai fantastis: USD 44 miliar. Sejak saat itu, wajah Twitter perlahan berubah secara sistem, kebijakan, bahkan identitas.

BACA JUGA:
Dari Wallacea hingga Kolonialisme: Sejarah, Identitas, dan Asal-usul Nama Sulawesi

Puncaknya terjadi pada 23 Juli 2023, ketika Musk secara resmi mengganti nama Twitter menjadi X, dan menghapus ikon burung biru yang selama ini menjadi lambang ikonik platform tersebut.
Logo baru yang minimalis huruf “X” bergaya monokrom, menandai berakhirnya era “kicauan” dan masuknya era baru yang lebih ambisius.
“Twitter adalah masa lalu. X adalah masa depan,” ungkap Musk kala itu dalam unggahan singkatnya.
Perubahan nama ini bukan sekadar rebranding visual. Musk membayangkan X sebagai “aplikasi segalanya”, layaknya WeChat di Tiongkok yang akan menggabungkan media sosial, layanan keuangan, komunikasi, belanja, bahkan kecerdasan buatan dalam satu platform.
Konsep ini menghidupkan kembali visi Musk sejak era awalnya di X.com, cikal bakal dari PayPal.
Perubahan ini menuai reaksi beragam. Sebagian pengguna lama menganggap hilangnya nama dan logo Twitter sebagai kehilangan identitas digital, namun sebagian lainnya menyambut visi baru yang lebih futuristik.
Seiring waktu, fitur-fitur baru seperti layanan pembayaran peer-to-peer, integrasi AI, dan peningkatan monetisasi konten mulai diluncurkan untuk memperkuat arah baru platform ini.
Dari sekadar layanan berbagi status menjadi platform multifungsi berbasis teknologi, perjalanan Twitter menuju X mencerminkan bagaimana industri digital terus berevolusi cepat, radikal, dan tak jarang kontroversial.
Kini, di bawah nama baru dan misi baru, dunia menanti: apakah X benar-benar akan menjadi wajah baru internet global?