25 Juli 1943: Hari Kejatuhan Mussolini, Titik Balik Sejarah Perang Dunia II

karikatur Benito Mussolini.
menitindonesia, JAKARTA – Tepat pada 25 Juli 1943, Italia mencatat momen bersejarah yang mengakhiri dua dekade kekuasaan diktator fasis Benito Mussolini. Pemimpin yang dikenal dengan julukan Il Duce itu secara mengejutkan digulingkan oleh Dewan Fasis Agung Italia dan ditangkap atas perintah Raja Vittorio Emanuele III. Peristiwa ini menjadi titik balik penting dalam Perang Dunia II, mengubah posisi Italia dalam peta aliansi global.
Penuh Kekuasaan, Runtuh dalam Sehari
Mussolini telah memimpin Italia sejak 1922 dan mendirikan negara fasis yang otoriter. Ia membungkam oposisi, mengontrol media, dan memproklamirkan dirinya sebagai pemimpin absolut. Namun pada 1943, perang yang ia ikuti bersama Nazi Jerman justru menyeret Italia ke dalam kehancuran militer dan ekonomi.
Kekalahan besar di Afrika Utara, pemboman sekutu atas kota-kota besar seperti Roma dan Milan, serta invasi Sekutu ke Sisilia pada 10 Juli 1943 membuat kepercayaan terhadap Mussolini ambruk, bahkan di dalam partainya sendiri.

BACA JUGA:
Diluncurkan 15 Juli 2006, Sejarah Singkat Twitter Menjadi X Setelah diakuisisi Elon Musk

Pada 24 Juli malam, Dewan Fasis Agung yang selama ini hanya menjadi “stempel” mengadakan rapat selama 10 jam. Hasilnya mengejutkan: 19 suara mendukung pencopotan Mussolini, hanya 7 menolak. Keesokan harinya, pada 25 Juli 1943, Mussolini dipanggil ke Istana Kerajaan oleh Raja Vittorio Emanuele III. Alih-alih mendapat dukungan, ia malah diberitahu bahwa ia telah dicopot dan ditangkap oleh pengawal kerajaan saat itu juga.
Posisi perdana menteri segera diambil alih oleh Marshal Pietro Badoglio, seorang jenderal senior, yang secara resmi mengumumkan bahwa Italia akan tetap berperang bersama Jerman, meski diam-diam membuka komunikasi dengan Sekutu untuk menyerah.
Kejatuhan Simbol Fasisme Eropa
Penggulingan Mussolini menandai akhir dari Fasisme sebagai ideologi negara di Italia, meskipun perjuangan belum selesai. Jerman segera bergerak menyelamatkan Mussolini pada September 1943 melalui operasi khusus, lalu mendirikan negara boneka “Republik Sosial Italia” di wilayah utara yang dikuasai Nazi. Namun kekuasaannya saat itu hanya simbolik.
Sementara itu, pemerintah Badoglio diam-diam menandatangani gencatan senjata dengan Sekutu pada 3 September 1943, yang diumumkan ke publik seminggu kemudian. Italia kemudian berbalik arah, menyatakan perang terhadap Jerman mantan sekutunya sendiri.
Reaksi Dunia: Duka di Berlin, Harapan di London dan Washington
Di Berlin, kabar kejatuhan Mussolini disambut dengan kemarahan Adolf Hitler. Ia merasa dikhianati oleh satu-satunya sekutu besar di Eropa. Sebaliknya, para pemimpin Sekutu seperti Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt menyambut kabar itu sebagai tanda keretakan nyata dalam poros fasis.
“Ini bukan akhir dari perang, tapi ini awal dari akhir,” ujar Churchill dalam pernyataan publik kala itu.
Dampak Domestik: Rakyat Rayakan Kejatuhan
Di kota-kota Italia, ribuan rakyat turun ke jalan merayakan kabar penggulingan Mussolini. Patung-patung fasis diruntuhkan, simbol-simbol partai dibakar, dan surat kabar menyambut era baru. Meski euforia melanda, Italia segera menghadapi babak sulit: perang saudara, pendudukan Jerman di utara, dan kelaparan yang melanda rakyat.
Akhir Tragis Mussolini
Kendati sempat berkuasa kembali secara simbolik di bawah Nazi Jerman, karier Mussolini benar-benar berakhir tragis. Pada April 1945, saat Sekutu dan partisan Italia semakin mendekat, Mussolini dan kekasihnya Clara Petacci mencoba melarikan diri ke Swiss, namun tertangkap oleh gerilyawan komunis Italia. Keduanya dieksekusi tanpa pengadilan pada 28 April 1945. Jenazah Mussolini digantung terbalik di Milan, sebagai pesan bahwa rakyat tak akan lagi tunduk pada tirani.