Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., saat membuka IOMBS Congress 2025 di The Papandayan Hotel, Bandung. Dalam pidatonya, ia menegaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan keselamatan publik dalam terapi regeneratif.
Prof. Taruna Ikrar menegaskan komitmen BPOM menjaga keseimbangan antara inovasi dan keselamatan publik dalam terapi regeneratif. Indonesia kini naik kelas sebagai pemain global dalam bioterapi.
menitindonesia, BANDUNG — Suasana ruang utama IOMBS Congress 2025 di The Papandayan Hotel Bandung mendadak hening, Sabtu (24/10/2025). Di depan ratusan ilmuwan, dokter ortopedi, regulator kesehatan, dan pelaku industri bioteknologi, berdirilah sosok yang menjadi pusat perhatian: Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.
Sebagai ilmuwan dunia, ia kini memimpin lembaga strategis yang menjadi penjaga gerbang keamanan publik — Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI).
Dalam IOMBS Congress 2025, Taruna membuka simposium bertema “Stem Cell Regulation in Responding to Global Health Challenges: Clinical and Basic Perspectives.”
Suara Taruna terdengar tenang, namun di balik ketenangan itu, ada visi besar yang tengah ia tanamkan: Indonesia tak boleh sekadar jadi penonton dalam revolusi terapi modern.
“Inovasi tanpa regulasi adalah bahaya. Tapi regulasi tanpa inovasi adalah kemunduran,” ujar Taruna, tegas.
Kalimat itu menggema seperti mantra, menjadi arah baru dalam kebijakan kesehatan nasional. Taruna sadar, di tengah ledakan riset terapi sel punca dan terapi gen di dunia, Indonesia harus berlari — tapi dengan langkah yang hati-hati.
Revolusi yang Terukur
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia medis memasuki babak baru. Terapi regeneratif kini bukan lagi impian laboratorium, melainkan industri bernilai miliaran dolar. Pasar global Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs) diperkirakan menembus USD 22,48 miliar pada 2027, dan kawasan Asia Pasifik tumbuh paling agresif.
Indonesia tak ingin tertinggal. Di bawah komando Taruna Ikrar, BPOM mulai menata kerangka hukum dan pengawasan baru yang memadukan dua kutub: keamanan publik dan akselerasi inovasi.
Sejumlah regulasi kunci telah lahir: dari Clinical Trial Regulation, Guideline for ATMP Assessment, hingga sinkronisasi dengan standar WHO, EMA, ICH, dan FDA Amerika Serikat.
Kuncinya: reliance mechanism — sebuah strategi cerdas agar Indonesia bisa bergerak cepat mengikuti standar tertinggi global, tanpa kehilangan kedaulatan ilmiah.
Ratusan ilmuwan, dokter, dan pelaku industri bioteknologi hadir membahas arah baru terapi sel dan regulasi kesehatan global.
Kolaborasi Tiga Kaki: Akademisi, Industri, dan Pemerintah
Hasilnya mulai terasa. Model kolaborasi Triple Helix (Academia–Business–Government) yang diinisiasi BPOM kini melahirkan berbagai inovasi lokal: Secretom hasil sinergi UGM, Bifarma, BPOM, dan Kemenkes, Mesenchymal Stem Cell antara RSCM, Kimia Farma, dan Indofarma, serta Vaksin Merah Putih dan M72 untuk Tuberkulosis.
Langkah ini mengubah wajah Indonesia dari target pasar menjadi pemain bioterapi global yang diperhitungkan.
Namun Taruna tahu, di balik peluang besar, tersimpan risiko yang tak kalah besar.
Ledakan bisnis terapi regeneratif, bila tak diawasi ketat, bisa melahirkan spekulasi medis yang membahayakan publik.
“Kami ingin inovasi berkembang, tapi keselamatan pasien tetap nomor satu,” ujarnya.
Sains, Moralitas, dan Transparansi
Untuk menutup celah itu, BPOM meluncurkan skema Service-Based Therapy Research — pendekatan riset berbasis pelayanan, di mana setiap inovasi diuji dengan bukti ilmiah dan mekanisme kontrol ketat: Berbasis evidence-based research, Wajib izin BPOM untuk manipulasi sel tingkat lanjut, Pengawasan farmakovigilans berkelanjutan, dan Transparansi biaya sebagai bentuk perlindungan pasien.
Sebuah desain sistem yang tidak hanya menegakkan disiplin sains, tapi juga etika.
Regulasi yang Menghidupkan Inovasi
Di penghujung pidatonya, Taruna menutup dengan satu kalimat yang menjadi simbol arah baru BPOM: “Regulation is innovation — when innovation saves lives safely.”
Kalimat itu menjadi penanda babak baru Indonesia dalam peta riset dan terapi regeneratif dunia. Negeri ini kini tak lagi menjadi pengikut langkah negara lain, melainkan ikut menulis babnya sendiri — di bawah kepemimpinan seorang ilmuwan yang berpikir strategis dan bertindak visioner.
Dan di balik setiap keputusan ilmiah, ada satu kompas yang tak pernah ia lepaskan: keselamatan publik. (akbar endra)