AI Center Makassar Dukung GDGoC UNM dalam Study Jam #2 Pembuatan Aplikasi “Simple To-Do List”

AI Center Makassar mendukung pelaksanaan Study Jam #2 Mobile Development yang diselenggarakan GDGoC Universitas Negeri Makassar, dengan fokus pada pembelajaran pembuatan aplikasi Simple To-Do List menggunakan Flutter dan Dart guna meningkatkan keterampilan serta kesiapan talenta digital mahasiswa di era gig economy.

MenitIndonesia, Makassar — Telkom AI Center of Excellence Makassar (AI Center Makassar) mendukung pelaksanaan kegiatan Study Jam #2: Mobile Development yang diselenggarakan oleh Google Developer Groups on Campus (GDGoC) Universitas Negeri Makassar (UNM). Kegiatan ini berlangsung di AI Center Makassar dan mengusung tema “Create Simple To Do-List App”, dengan sasaran mahasiswa serta pemula yang ingin memulai dan mengembangkan keterampilan di bidang pengembangan aplikasi mobile.

Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini. Selain memperkenalkan dasar-dasar pengembangan aplikasi mobile, Study Jam #2 juga menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk memahami alur kerja pengembangan aplikasi secara menyeluruh, mulai dari ide hingga implementasi teknis. Melalui dukungan fasilitas dan ekosistem pembelajaran yang disediakan AI Center Makassar, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya talenta digital muda yang siap bersaing di era transformasi digital.

Pada sesi awal kegiatan, Sunarti M.R. selaku Business & Community Lead (BCL) Telkom AI Connect Makassar menyampaikan bahwa kegiatan seperti Study Jam memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan akademik dengan realitas dunia industri. Ia menekankan bahwa penguasaan keterampilan teknis perlu dibarengi dengan kesiapan membangun jejaring dan portofolio digital.

“Kami mendukung penuh kegiatan Study Jam seperti ini karena sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan skill talenta digital saat ini. Tidak cukup hanya bisa secara teknis, peserta juga perlu menyiapkan portofolio dan personal branding agar peluang kerja bisa datang dari mana saja,” ujar BCL Telkom AI Connect Makassar.

Dalam kesempatan tersebut, BCL juga mengajak peserta untuk bergabung dan aktif berbagi portofolio melalui AI Connect Platform serta LinkedIn. Menurutnya, hal ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi era gig economy, di mana peluang kerja, proyek, dan kolaborasi profesional tidak lagi terbatas oleh ruang dan wilayah.

“Sekarang kita sudah masuk ke era gig economy. Peluang kerja bisa datang dari berbagai arah, bahkan lintas negara. Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai membangun jejak digital dan memperlihatkan karya mereka sejak dini,” tambahnya.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi hands-on yang dibimbing secara langsung oleh Ahmad, perwakilan dari tim Research & Development GDGoC UNM. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk membangun aplikasi Simple To-Do List menggunakan Flutter dan Dart, mulai dari proses setup, pengembangan fitur inti aplikasi, hingga implementasi penyimpanan data lokal dan konsep dasar state management. Pendekatan praktik langsung ini memungkinkan peserta untuk memahami proses pengembangan aplikasi secara end-to-end.

Ahmad menjelaskan bahwa materi yang disampaikan dirancang agar mudah dipahami oleh pemula, namun tetap memberikan gambaran nyata tentang proses pengembangan aplikasi mobile yang sesungguhnya.

“Kami ingin peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga benar-benar bisa membuat aplikasi sederhana yang fungsional. Dari sini, mereka bisa melanjutkan eksplorasi dan mengembangkan aplikasi yang lebih kompleks ke depannya,” jelas Ahmad.

Dampak positif kegiatan ini juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satu peserta, Faiz, mahasiswa Universitas Negeri Makassar, mengaku kegiatan ini membantunya memahami alur pengembangan aplikasi mobile secara lebih terstruktur.

“Sebelumnya saya hanya tahu konsep dasar Flutter, tapi lewat Study Jam ini saya jadi paham alur pembuatannya dari awal sampai jadi aplikasi. Selain itu, insight tentang portofolio dan LinkedIn juga membuka wawasan saya soal persiapan karier,” ungkapnya.

Peserta lain, Alya, menilai kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga kepercayaan diri untuk mulai berkarya.

“Belajarnya langsung praktik, jadi lebih mudah dipahami. Output aplikasinya bisa langsung kami jadikan portofolio. Ini sangat membantu untuk persiapan masuk dunia kerja atau freelance,” katanya.

Melalui dukungan terhadap kegiatan ini, AI Center Makassar menegaskan perannya sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan akselerator talenta digital, khususnya bagi mahasiswa dan generasi muda di Makassar. Kolaborasi dengan komunitas seperti GDGoC UNM diharapkan dapat terus memperkuat ekosistem inovasi digital dan mendorong lahirnya talenta teknologi yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

 (Wawan)