Taruna Ikrar: UMKM Obat dan Makanan, Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Kepala BPOM Taruna Ikrar berfoto bersama pelaku UMKM binaan dalam program pola “orang tua angkat” sektor obat dan makanan, yang didorong sebagai fondasi penguatan UMKM agar naik kelas dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
  • Saat pertumbuhan ekonomi nasional dibidik menembus 8 persen, Kepala BPOM Taruna Ikrar memilih bertaruh pada UMKM obat dan makanan. Bukan datang menindak, melainkan membina dan menjadikan standar sebagai jalan naik kelas.
menitindonesia, SURABAYA — Di tengah ambisi Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi hingga delapan persen, perhatian sering tertuju pada investasi besar, industri padat modal, atau proyek infrastruktur raksasa. Namun, di Surabaya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., justru mengajak melihat ke arah yang lebih membumi: jutaan usaha kecil di sektor obat dan makanan.
BACA JUGA:
Di Hadapan Bloomberg, Taruna Ikrar Tegaskan Negara Harus Hadir Mengatur Apa yang Dimakan
Bagi Prof. Taruna, UMKM bukan pelengkap ekonomi nasional, melainkan mesin pertumbuhan yang selama ini bekerja senyap. Potensinya besar, tetapi kerap terhambat standar, regulasi, dan keterbatasan pengetahuan. Karena itu, negara tidak boleh hanya hadir di ujung pengawasan, melainkan sejak awal melalui pembinaan yang terstruktur.
Peresmian Coaching and Development Center UMKM Kosmetik Kosmesia di Surabaya, Minggu (18/1/2026), menjadi contoh bagaimana kolaborasi industri dan negara dapat membuka jalan UMKM naik kelas—bukan dengan penindakan, tetapi dengan pendampingan.
“UMKM adalah kekuatan ekonomi yang luar biasa. Tapi potensi sebesar apa pun tidak akan memberi dampak maksimal jika dibiarkan berjalan sendiri,” ujar Taruna.
Indonesia memiliki sekitar 18 juta UMKM, dengan 4,2 juta di antaranya bergerak di sektor obat dan makanan. Di balik angka itu tersimpan nilai ekonomi hampir Rp5.000 triliun. Namun, tanpa pemenuhan standar keamanan, mutu, dan regulasi, potensi tersebut justru bisa berubah menjadi risiko.
Taruna menegaskan, pembinaan melalui pelatihan, asistensi, dan edukasi harus menjadi pendekatan utama. Sebab, sebagian besar pelaku usaha bukan berniat melanggar aturan, melainkan terbatas oleh pengetahuan dan akses.
“Pendekatan edukasi jauh lebih efektif dibanding penindakan. Kalau UMKM dibina dengan benar, mereka bukan hanya patuh regulasi, tetapi juga mampu bersaing,” katanya.
BACA JUGA:
Pengusaha Sandiana Soemarko Bantu Pembangunan Kapela di Timor Tengah Selatan
Model orang tua angkat yang dijalankan PT Kosmetika Global Indonesia (Kosmesia) dinilai Taruna sebagai praktik baik. Perusahaan tersebut mendampingi UMKM dari hulu ke hilir—mulai dari pemahaman regulasi BPOM, peningkatan kualitas produksi, hingga kesiapan pasar.
“Bahkan ada UMKM binaan yang sudah naik kelas dan mendapat grade A. Ini bukti bahwa pembinaan yang konsisten menghasilkan dampak nyata,” ujarnya.
Mesin Pertumbuhan dari Akar
Taruna melihat UMKM sebagai fondasi ekonomi nasional yang kerap diremehkan. Di Indonesia terdapat sekitar 45 ribu industri besar dan 600 ribu industri menengah. Jika sebagian saja berperan sebagai orang tua angkat UMKM, efek bergandanya bisa sangat besar.

Picsart 26 01 19 10 56 34 733 11zon

“Bayangkan jika industri besar, industri menengah, pemerintah, dan BPOM bersinergi. Kontribusi ekonomi nasional bisa menembus Rp6.000 triliun per tahun. Ini akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi,” kata Taruna.
Bagi dia, mengejar pertumbuhan delapan persen bukan cuma soal angka makro, tapi juga memastikan UMKM mampu tumbuh sehat, patuh standar, dan berkelanjutan. Di titik itulah negara harus hadir sebagai fasilitator. Tak hanya menjadi regulator saja.
“Harapan saya, suatu saat BPOM tidak lagi sibuk dengan penindakan. Cukup melakukan pengawasan, karena semua pelaku usaha sudah memenuhi standar,” ujarnya.

Tanggung Jawab Industri

Owner Kosmesia Sandhy Purnamasari mengatakan perusahaannya telah membina lebih dari 400 UMKM kosmetik di berbagai daerah. Pendampingan itu tak hanya demi kepatuhan regulasi, juga untuk penciptaan ekosistem usaha yang mampu menyerap tenaga kerja.
“Tujuan kami selain mendukung program pemerintah, juga memastikan industri kosmetik Indonesia benar-benar berkualitas dan berdaya saing,” katanya.
Sementara itu, Founder Kosmesia Gilang Widya Pramana menegaskan bahwa pendirian pusat pembinaan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.
“Kami tidak ingin hanya berorientasi pada profit. UMKM kosmetik harus naik kelas, patuh regulasi, dan berkontribusi pada target pertumbuhan ekonomi nasional hingga delapan persen,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global dan persaingan industri yang kian ketat, pesan yang dibawa Taruna Ikrar terasa jelas: pertumbuhan ekonomi nasional tidak hanya ditentukan oleh proyek besar, tetapi oleh keberanian negara membina usaha kecil secara serius. Jika UMKM obat dan makanan tumbuh kuat dari akar, mesin ekonomi nasional pun akan bergerak lebih kencang. (AE)