Taruna Ikrar Raih Penghargaan Tertinggi GPFI, Kepemimpinan BPOM Dinilai Visioner dan Adaptif

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar menunjukkan penghargaan Anugerah Kepemimpinan Visioner Pengawasan Obat dan Makanan 2026 di Jakarta. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas komitmennya dalam memperkuat pengawasan serta mendorong inovasi di sektor obat dan makanan demi perlindungan masyarakat.
  • Penghargaan dari industri farmasi ini menegaskan peran strategis BPOM dalam menjaga keamanan obat dan makanan di tengah pesatnya inovasi kesehatan.
menitindonesia, JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI kembali mendapat pengakuan dari pemangku kepentingan industri. Kepala BPOM, Prof Taruna Ikrar, dianugerahi penghargaan Kepemimpinan Visioner Pengawasan Obat dan Makanan oleh Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI).
Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi tertinggi GPFI atas arah kepemimpinan BPOM yang dinilai mampu menjawab tantangan zaman, terutama dalam menghadapi perkembangan industri farmasi dan pangan yang semakin kompleks. Penyerahan dilakukan langsung oleh Ketua Umum GPFI, Tirto Kusnadi, usai talkshow di Studio tvOne, Rabu (15/4/2025).
BACA JUGA:
Dari Rusia, Prabowo Terbang ke Prancis, Bahas Alutsista hingga Energi dengan Macron
“Di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar, BPOM mengalami penguatan peran sebagai lembaga pengawas yang tidak hanya menjalankan fungsi kontrol, tetapi juga mendorong inovasi melalui pendekatan berbasis sains dan kolaborasi,” kata Tirto Kusnadi.

Picsart 26 04 15 20 14 17 542 11zon e1776258995314

Kolaborasi Industri dan Penguatan Perlindungan Konsumen

Transformasi pendekatan BPOM terlihat dari semakin terbukanya ruang dialog antara regulator dan pelaku industri. GPFI menilai, komunikasi yang terbangun selama ini telah menciptakan keseimbangan antara percepatan inovasi dan jaminan keamanan produk bagi masyarakat.
Dalam konteks global, perkembangan teknologi kesehatan—mulai dari bioteknologi hingga obat presisi—menuntut regulator bergerak cepat tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Kepemimpinan Taruna Ikrar dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut melalui kebijakan yang adaptif dan responsif.
BACA JUGA:
Di Forum KKSK, Taruna Ikrar Desak Percepatan Regulasi, BPOM Bongkar Mandeknya Obat Bahan Alam hingga Penyalahgunaan N2O
Meski demikian, tantangan pengawasan tetap besar. Peredaran obat ilegal, pengawasan distribusi pangan, hingga peningkatan literasi masyarakat menjadi agenda yang terus diperkuat BPOM.
Bagi Taruna Ikrar, menjaga kepercayaan publik menjadi prioritas utama. Transparansi, integritas, dan kecepatan respons menjadi fondasi dalam memastikan setiap kebijakan pengawasan berpihak pada keselamatan masyarakat.
“Penghargaan dari GPFI ini, menjadi dorongan untuk BPOM terus meningkatkan kinerja pengawasan di masa mendatang,” ujar Taruna Ikrar.