BBVet Maros Ungkap Peta Penyakit Hewan 2025, Sulsel Masih Jadi Episentrum

Kepala BBvet Maros, drh. Agustia. (Bkr)
menitindonesia, MAROS — Balai Besar Veteriner (BBV) Maros mencatat ratusan kasus penyakit hewan menular sepanjang tahun 2025. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium di delapan provinsi dan 104 kabupaten/kota, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjadi kasus paling dominan pada ternak.
Kepala BBV Maros, Agustia, mengungkapkan selama 2025 pihaknya menemukan 697 kasus positif PMK. Jumlah tersebut melonjak tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 155 kasus.
“Peningkatan ini salah satunya dipengaruhi oleh tingginya lalu lintas ternak yang diuji pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Agustia.
Selain PMK, BBV Maros juga masih menemukan enam kasus Penyakit Jembrana pada ternak sapi sepanjang 2025. Meski demikian, angka tersebut menurun signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 25 kasus.
Untuk penyakit Rabies, BBV Maros mencatat 69 kasus sepanjang 2025, turun dari 121 kasus pada tahun sebelumnya. Sementara kasus Avian Influenza atau flu burung pada unggas tercatat sebanyak 84 kasus, lebih rendah dibandingkan 96 kasus pada 2024.

BACA JUGA:
Pemprov Sulsel Matangkan Pekan Leadership Spiritual ASN Ber-AKHLAK, Libatkan 900 Peserta

“Angka tersebut merupakan akumulasi sepanjang tahun dan ditemukan secara bergantian di 104 kabupaten/kota wilayah kerja kami,” jelasnya.
Dari sisi sebaran wilayah, penyakit pada ternak sapi masih paling banyak ditemukan di Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bone.
“Sulawesi Selatan, terutama Bone, masih menjadi wilayah dengan sebaran tertinggi karena merupakan salah satu kantong ternak sapi,” ungkap Agustia.
Sementara itu, kasus flu burung ditemukan relatif merata di sejumlah wilayah, mulai dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga Sulawesi Tenggara. Untuk Rabies, sebaran kasus masih didominasi wilayah Toraja Utara dan Tana Toraja, yang memiliki populasi hewan penular rabies cukup tinggi.
Meski demikian, Agustia memastikan dinas peternakan setempat telah melakukan berbagai langkah pengendalian.
“Petugas di lapangan sudah melakukan vaksinasi massal dan pemberian obat-obatan untuk menekan angka Rabies,” katanya.
Secara umum, Agustia menyebut tren penyakit hewan menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Menurutnya, ada dua faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut, yakni respons cepat petugas lapangan dan kepatuhan terhadap rekomendasi teknis BBV Maros.
“Begitu hasil laboratorium keluar, ternak yang sakit langsung ditangani, sementara yang sehat segera divaksin. Ini efektif memutus rantai penularan,” jelasnya.
Menjelang bulan Ramadan, BBV Maros meminta dinas terkait meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap PMK dan Jembrana. Vaksinasi diminta lebih digencarkan untuk memastikan ternak memiliki kekebalan sebelum diperjualbelikan atau dilalulintaskan.
“Tujuannya agar ternak yang masuk pasar sudah memiliki imunitas yang cukup,” ujarnya.
Selain peran pemerintah, Agustia juga mengimbau peternak untuk menjaga kebersihan kandang dan ternak, terlebih di musim hujan yang berisiko meningkatkan penularan penyakit.
“Kunci kesehatan ternak ada pada kebersihan kandang dan kecukupan pakan,” tegasnya.
Sementara itu, salah seorang peternak sapi di Maros, Hudayana, mengaku program vaksinasi dan pendampingan petugas sangat membantu peternak.
“Ancaman PMK masih jadi kekhawatiran, apalagi saat musim hujan. Sekarang kami lebih disiplin jaga kebersihan dan ikut vaksinasi,” katanya.
Hudayana berharap pendampingan dari pemerintah terus berlanjut, terutama menjelang Ramadan saat lalu lintas dan perdagangan ternak meningkat.