Bukan Soal Ranking, Prof Taruna Ikrar Tegaskan Kunci Kampus Kelas Dunia adalah Keberanian Bermimpi

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyampaikan kuliah umum di Universitas Andalas, Padang, menekankan pentingnya mimpi besar, keberanian berpikir berbeda, dan dampak nyata kampus di tengah disrupsi global, Jumat (6/2/2026).
  • Tanpa mimpi besar, perguruan tinggi hanya akan jadi penonton di tengah perubahan global. Pesan keras itu disampaikan Taruna Ikrar saat kuliah umum di Universitas Andalas, Padang, menyoroti tantangan kampus menghadapi disrupsi teknologi, krisis iklim, dan ancaman pandemi senyap.
menitindonesia, PADANG — Di tengah percepatan perubahan global yang dipicu kecerdasan buatan, disrupsi teknologi, krisis iklim, dan ancaman silent pandemic, perguruan tinggi dituntut tidak lagi hanya menjadi pusat pengajaran dan penelitian. Kampus perlu bertransformasi menjadi ruang lahirnya inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., dalam kuliah umum bertajuk From Campus to Society: Innovation and Creativity for a World Class University di Universitas Andalas, Padang, Jumat, (6/2/2026).
BACA JUGA:
Taruna Ikrar: Obat dan Makanan Palsu Jadi Ancaman Nasional, BPOM Perkuat Sistem Perang Terpadu
Di hadapan mahasiswa dan Rektor Unpad Dr. Efa Yoenadi, S.E., MPPM, para dekan dan dosen, Prof Taruna menekankan bahwa konsep world class university tidak boleh dipahami hanya sebagai urusan peringkat internasional. Menurutnya, universitas kelas dunia lahir dari keberanian berpikir berbeda, kebebasan akademik, serta kemampuan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menyinggung sejumlah universitas ternama dunia, seperti Harvard University dan beberapa kampus terkemuka di Amerika Serikat, sebagai contoh lingkungan akademik yang mendorong kreativitas dan pemikiran lintas disiplin. Bagi Prof Taruna, kemajuan kampus-kampus tersebut tidak semata ditentukan oleh fasilitas, melainkan oleh budaya berpikir terbuka dan keberanian mengambil risiko dalam dunia ilmu pengetahuan.
Dalam suasana yang hangat, Prof Taruna kemudian berbagi pengalaman pribadi saat pertama kali menempuh pendidikan di Universitas Niigata, Jepang. Ia menceritakan bagaimana harus beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi musim salju, serta mempelajari bahasa Jepang dari awal.
Pengalaman itu, menurutnya, membentuk ketangguhan mental dan keberanian keluar dari zona nyaman. Ia menyampaikan sebuah perumpamaan yang berulang kali ia tekankan. Di bawah tekanan, seseorang justru berpeluang tumbuh lebih kuat. Semakin besar tekanan yang dihadapi, semakin besar pula potensi energi untuk bangkit dan melangkah lebih tinggi.
Mimpi, lanjutnya, adalah sumber energi. Tanpa mimpi, tidak ada dorongan untuk melampaui keterbatasan. Karena itu, mahasiswa dan dosen diminta berani menempatkan mimpi besar—baik dalam riset, inovasi, maupun perjalanan akademik—sebagai bekal utama membangun masa depan.
Pesan reflektif tersebut berangkat dari tantangan global yang menurut Prof Taruna semakin kompleks. Dunia kini memasuki era Society 5.0, ketika kecerdasan buatan, teknologi digital, dan ilmu pengetahuan terhubung langsung dengan kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa sejak awal 2000-an, ia telah menaruh perhatian pada perkembangan kecerdasan buatan, khususnya dalam kaitannya dengan neurosains.
Perkembangan ilmu pengetahuan, menurutnya, membuka kemungkinan baru yang sebelumnya dianggap sulit dicapai, termasuk potensi manusia untuk memiliki usia hidup yang lebih panjang di masa depan. Namun, kemajuan tersebut berjalan seiring dengan berbagai risiko global.

Kolaborasi Akademisi–Bisnis–Pemerintah sebagai Jembatan Inovasi

Prof Taruna menyebut pandemi Covid-19 sebagai titik balik besar yang memaksa dunia, termasuk kampus, untuk beradaptasi secara cepat. Dari krisis tersebut, banyak inovasi lahir dalam waktu singkat. Namun, di balik pandemi yang terlihat, dunia juga menghadapi ancaman silent pandemic, yakni persoalan kesehatan global yang berkembang perlahan dan menelan korban dalam jumlah besar.
Tantangan lain datang dari perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Mikroplastik, menurut Prof Taruna, kini ditemukan masuk ke dalam tubuh manusia, bahkan ke aliran darah. Fakta-fakta tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi harus selalu berpihak pada keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan.
BACA JUGA:
Mendagri Pastikan Bantuan Rumah Rusak Pasca Bencana Sumatra Segera Disalurkan
Di titik inilah peran perguruan tinggi menjadi sangat penting. Prof Taruna menegaskan bahwa insan akademik dikenal karena kemampuannya berpikir melampaui kebiasaan. Pola pikir terbuka dan keberanian mencoba hal baru menjadi syarat untuk membangun universitas berkelas dunia. Kampus, tegasnya, harus menjadi ruang yang aman untuk berpikir dan berpendapat.
Ia juga mengisahkan bahwa penemu alat pacu jantung pernah mengalami penolakan serius di lingkungan akademik. Bagi Prof Taruna, kisah tersebut menunjukkan bahwa gagasan besar sering lahir dari keberanian melawan arus.
Dalam konteks Indonesia, ia menyinggung bahwa hingga kini belum ada ilmuwan nasional yang meraih Hadiah Nobel. Namun, ia mengingatkan bahwa program pemerataan pendidikan dasar melalui SD Inpres pada masa lalu justru menginspirasi negara lain yang kemudian berhasil melahirkan peraih Nobel. Pesannya jelas, Indonesia tidak kekurangan potensi, tetapi masih membutuhkan keberanian bermimpi besar dan membangun ekosistem ilmu pengetahuan secara konsisten.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Prof Taruna menempatkan kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah sebagai kunci percepatan inovasi. BPOM, kata dia, berupaya menjadi penghubung antara riset kampus dan kebutuhan masyarakat serta industri.
Hingga Januari 2026, BPOM telah menjalin 180 kerja sama dengan perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari 900 mahasiswa terlibat sebagai fasilitator dalam berbagai program pendampingan dan magang. Berbagai skema fasilitasi juga disiapkan, mulai dari konsultasi regulasi, standardisasi bahan baku, pendampingan uji pra-klinik dan klinik, hingga pertemuan antara peneliti dan pelaku usaha.
Dalam periode 2021 hingga 2025, BPOM mendukung 115 riset berbasis bahan alam, terdiri atas 24 studi klinik dan 91 studi pra-klinik. Sejumlah bahan baku pangan dan kosmetik juga berhasil distandardisasi untuk memperkuat fondasi inovasi nasional.
Pencapaian penting lain yang disampaikan Prof Taruna adalah keberhasilan BPOM meraih status WHO Listed Authority. Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang memperoleh pengakuan tersebut, sekaligus menempatkan BPOM sebagai otoritas rujukan internasional dalam pengawasan obat dan makanan.
Di hadapan mahasiswa Universitas Andalas, Prof Taruna menutup kuliah umumnya dengan pesan bahwa transformasi harus dimulai dari diri sendiri. Kampus, menurutnya, hanya akan berubah jika orang-orang di dalamnya berani berubah.
Riset mahasiswa, tugas akhir, dan proyek akademik perlu diarahkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari kampus ke masyarakat, dari Padang untuk dunia, Universitas Andalas diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam melahirkan inovasi yang berintegritas, berdaya saing, dan berpihak pada masa depan.