Taruna Ikrar Ikut Berlari 5 Kilometer di Padang, Serukan Perlawanan terhadap ‘Silent Pandemi’ AMR

Kepala BPOM Taruna Ikrar berlari melintasi kawasan pantai Padang saat mengikuti AMR Fun Run 5 kilometer. Keterlibatan langsung ini menjadi simbol komitmen dalam melawan resistensi antimikroba yang kian mengancam kesehatan masyarakat.
  • Kepala BPOM Taruna Ikrar ikut berlari sejauh lima kilometer dalam rangkaian AMR Warrior Campaign di Padang, menegaskan bahwa melawan resistensi antimikroba membutuhkan keteladanan dan komitmen bersama.
menitindonesia, PADANG — Ancaman itu tidak terdengar bising, tidak pula memicu kepanikan massal. Namun dampaknya bekerja perlahan dan sistemik. Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) menjadi perhatian utama dalam Workshop dan Seminar AMR Warrior Campaign yang digelar di Padang, Sumatera Barat, Minggu (8/2/2026).
BACA JUGA:
Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU, Soroti Korupsi dan Kebocoran Kekayaan Negara
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menegaskan, AMR bukan persoalan yang akan datang di masa depan. “Ini bukan isu nanti. Ini krisis yang sedang kita hadapi sekarang,” ujarnya di hadapan dokter, apoteker, akademisi, birokrat, serta pegiat kesehatan yang hadir.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Taruna tidak hanya tampil sebagai pembicara. Ia juga ikut berlari sejauh lima kilometer bersama peserta dalam agenda AMR Fun Run. Di lintasan, Taruna tampak berlari dengan ritme stabil, sementara ajudannya, Made, terlihat mengikuti dari belakang. Kehadiran pimpinan lembaga negara setingkat menteri itu di tengah peserta, dimaknai sebagai pesan simbolik bahwa pengendalian AMR menuntut keterlibatan langsung.
AMR kerap disebutnya sebagai ‘silent pandemic’. Tidak meledak seperti pandemi Covid-19, tetapi perlahan menggerus efektivitas antibiotik yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pengobatan infeksi. Ketika antibiotik kehilangan daya, infeksi yang sebelumnya mudah diatasi kembali membawa risiko serius.
Data World Health Organization menunjukkan, pada 2019 AMR secara langsung menyebabkan sekitar 1,27 juta kematian dan berkontribusi terhadap hampir 5 juta kematian secara global. Jika tidak dikendalikan, angka kematian akibat AMR diproyeksikan dapat mencapai 10 juta jiwa per tahun pada 2050.
Menurut Taruna, dampak resistensi antimikroba tidak berhenti pada aspek kesehatan. “AMR juga berdampak pada ekonomi, menurunkan produktivitas, dan pada akhirnya bisa mengganggu ketahanan nasional,” katanya.
Picsart 26 02 08 14 16 41 913
Kepala BPOM Taruna Ikrar ikut berlari bersama peserta dalam AMR Fun Run sejauh lima kilometer di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (7/2/2026), sebagai bagian dari kampanye peningkatan kesadaran publik terhadap bahaya resistensi antimikroba.

Antibiotik, Tantangan Sistemik, dan Ancaman Era Pasca-Antibiotik

Di Indonesia, tantangan AMR berkaitan erat dengan pola penggunaan antibiotik yang belum rasional. Obat yang seharusnya diberikan secara ketat berdasarkan indikasi medis masih kerap diperlakukan sebagai solusi instan untuk berbagai keluhan.
Secara nasional, sekitar 63,75 persen antibiotik masih diserahkan tanpa resep dokter. Kehadiran apoteker dalam pelayanan kefarmasian baru mencapai sekitar 55,88 persen. Di Sumatera Barat, situasinya lebih berat. Penyerahan antibiotik tanpa resep dilaporkan melampaui 90 persen, sementara kehadiran apoteker masih berada di kisaran 31 persen.
BACA JUGA:
Pembangunan Hunian Korban Bencana di Aceh dan Sumbar Terus Dikebut
Taruna menekankan, data tersebut tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu. “Ini adalah cermin bersama. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pengendalian AMR masih menghadapi tantangan struktural, kultural, dan sistemik,” ujarnya.
Dampak penggunaan antibiotik yang tidak rasional sudah nyata. Kegagalan terapi meningkat, lama rawat inap bertambah, dan biaya kesehatan melonjak. Lebih jauh, dunia menghadapi ancaman memasuki era post-antibiotic, ketika infeksi ringan kembali menjadi penyakit berbahaya.
AMR, lanjut Taruna, bukan persoalan satu sektor. Masalah ini berada di persimpangan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Karena itu, pendekatan One Health menjadi kunci. Penggunaan antibiotik berlebihan, baik pada manusia maupun hewan, meninggalkan residu di lingkungan dan mempercepat munculnya bakteri kebal.
Dalam konteks tersebut, BPOM memegang peran strategis, mulai dari memastikan mutu, keamanan, dan khasiat obat antimikroba sejak tahap registrasi, hingga pengawasan peredaran serta edukasi penggunaan antibiotik yang tepat.
AMR Warrior Campaign di Padang dirancang sebagai upaya membangun kesadaran kolektif. Kampanye ini menempatkan antibiotik bukan sebagai komoditas biasa, melainkan sebagai sumber daya medis yang efektivitasnya harus dijaga.
“Antimikroba bukan hanya untuk kita hari ini,” kata Taruna. “Ia harus tetap efektif untuk generasi yang akan datang.”
Melalui kegiatan ini, BPOM berharap lahir rekomendasi yang konkret sekaligus mencetak AMR Champions—agen perubahan di fasilitas kesehatan, institusi pendidikan, dan komunitas masyarakat. Dari Padang, pesan itu ditegaskan: melawan resistensi antimikroba dimulai dari kebijakan, tetapi ditentukan oleh keputusan sehari-hari dalam menggunakan antibiotik secara bijak. (AE)