menitindonesia, MAKASSAR — Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sulawesi Selatan pada November 2025 sebesar 4,45 persen. Angka ini naik 0,24 persen poin dibanding Agustus 2025 yang berada di level 4,21 persen.
Dalam laporan resmi yang dirilis awal Februari 2026, BPS menjelaskan bahwa TPT 4,45 persen berarti dari setiap 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar empat orang yang menganggur. Kondisi tersebut menunjukkan pasar kerja di Sulsel belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja yang tersedia.
Kepala BPS Sulsel, Aryanto, mengungkapkan jumlah angkatan kerja di Sulawesi Selatan pada November 2025 mencapai 4,92 juta orang.
“Dari jumlah itu, sebanyak 4,70 juta orang tercatat bekerja, sementara 218,79 ribu orang masih menganggur,” ujar Aryanto dalam keterangannya.
BPS juga mencatat jumlah pengangguran meningkat sekitar 9,84 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja justru turun sebesar 56,73 ribu orang.
Berdasarkan jenis kelamin, TPT perempuan tercatat lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada November 2025, TPT laki-laki sebesar 4,03 persen, sedangkan perempuan mencapai 5,10 persen.
“Jika dibandingkan Agustus 2025, TPT laki-laki turun 0,36 persen poin. Sebaliknya, TPT perempuan meningkat 1,17 persen poin,” jelasnya.
Dari sisi wilayah, pengangguran di perkotaan masih lebih tinggi dibanding perdesaan. TPT perkotaan tercatat sebesar 6,08 persen, sementara perdesaan berada di angka 2,84 persen.
Dilihat dari tingkat pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan TPT tertinggi, yakni 9,74 persen. Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah berasal dari lulusan SD ke bawah sebesar 1,88 persen.
“Distribusi pengangguran juga didominasi lulusan SMA. Pada November 2025, lulusan SMA menyumbang 33,26 persen dari total pengangguran di Sulawesi Selatan,” kata Aryanto.
Struktur ketenagakerjaan Sulsel masih didominasi sektor informal. Pada November 2025, sebanyak 2,77 juta orang atau 58,82 persen bekerja di sektor informal. Sementara sektor formal menyerap 1,94 juta orang atau 41,18 persen.
Dari sisi jam kerja, 63,60 persen penduduk bekerja penuh atau minimal 35 jam per minggu. Sisanya 36,40 persen tergolong pekerja tidak penuh, termasuk setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu.
Tingkat setengah pengangguran tercatat sebesar 6,92 persen, turun 1,01 persen poin dibanding Agustus 2025. Sementara pekerja paruh waktu mencapai 29,48 persen, dengan proporsi perempuan lebih tinggi yakni 38,44 persen, dibanding laki-laki 23,80 persen.
BPS mencatat sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sulsel.
“Pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 33,15 persen tenaga kerja, disusul perdagangan sebesar 18,48 persen, serta konstruksi sebesar 7,63 persen,” pungkas Aryanto.