BPS Catat Inflasi Sulsel 4,11 Persen, Harga Listrik hingga Beras Jadi Pemicu

Kantor Badan Pusat Statistik Sulsel
menitindonesia, MAKASSAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) Sulsel pada Januari 2026 mencapai 4,11 persen. Tekanan inflasi tersebut tidak merata di seluruh wilayah, dengan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mencatat inflasi tertinggi.
Berdasarkan data BPS Sulsel, inflasi di Sidrap mencapai 5,63 persen, menjadi yang tertinggi di Sulawesi Selatan. Angka tersebut disusul Kota Parepare sebesar 5,04 persen.
Selanjutnya, Kabupaten Wajo mencatat inflasi 4,17 persen, Kota Palopo 4,14 persen, Kabupaten Bulukumba 4,13 persen, dan Kabupaten Luwu Timur sebesar 4,30 persen. Di kawasan pesisir timur Sulsel, Kabupaten Bone (Watampone) juga mengalami tekanan inflasi cukup tinggi, yakni 4,33 persen.
Sementara itu, Kota Makassar sebagai ibu kota provinsi mencatat inflasi relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lain, yakni sebesar 3,82 persen.
Plt Kepala Bagian Umum BPS Sulsel, Khaerul Agus, menjelaskan inflasi tahunan tersebut dihitung berdasarkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2026 terhadap Januari 2025.

BACA JUGA:
BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi RI 5,04%, Lapangan Kerja Naik 1,9 Juta Orang

“Inflasi yoy Sulsel Januari 2026 sebesar 4,11 persen dipengaruhi oleh kenaikan harga di beberapa kelompok pengeluaran,” ujar Khaerul.
Ia menyebutkan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan inflasi mencapai 11,67 persen. Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,5 persen, transportasi 0,2 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,9 persen, pendidikan 0,83 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,52 persen.
BPS Sulsel juga mencatat inflasi bulanan (month to month/mtm) Januari 2026 sebesar 0,47 persen. Angka yang sama juga tercatat untuk inflasi year to date (ytd) hingga Januari 2026.
Menurut Khaerul, sejumlah komoditas memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan. Tarif listrik menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,46 persen, disusul emas perhiasan 1,19 persen, serta beras sebesar 0,24 persen.
Komoditas perikanan juga turut memberi andil, di antaranya ikan bandeng atau ikan bolu sebesar 0,13 persen, ikan layang atau benggol 0,12 persen, serta ikan cakalang atau ikan sisik 0,11 persen.
Selain itu, sigaret kretek mesin menyumbang 0,10 persen, telur ayam ras 0,10 persen, ikan teri 0,05 persen, sewa rumah 0,05 persen, serta udang basah sebesar 0,05 persen terhadap inflasi Sulawesi Selatan.