Diskusi strategis implementasi ATMP di Indonesia mempertemukan unsur akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan masa depan. Kolaborasi menjadi kunci menghadirkan terapi maju yang aman, efektif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dijadwalkan menjadi narasumber utama dalam forum ATMP di Jakarta, membahas masa depan stem cell, terapi gen, dan regulasi kesehatan modern di Indonesia.
menitindonesia, JAKARTA — Masa depan layanan kesehatan tidak lagi hanya berbicara tentang obat konvensional, tindakan operasi, atau terapi simptomatik yang berfokus meredakan gejala. Dunia kedokteran kini bergerak menuju era baru: pengobatan regeneratif, terapi presisi, dan pemanfaatan teknologi biomedis mutakhir yang berupaya memperbaiki kerusakan jaringan dari akarnya.
Tema besar itulah yang mengemuka dalam forum Implementasi ATMP di Indonesia melalui Kolaborasi Academic, Business, Government, and Community di Theater Class 208, i3L, Pulomas, Jakarta Timur, Senin (27/4/2026). Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi kesehatan, pelaku usaha, serta unsur regulator untuk membahas kesiapan Indonesia memasuki lanskap terapi maju.
ATMP atau Advanced Therapy Medicinal Products merujuk pada kelompok terapi modern seperti terapi sel, terapi gen, serta rekayasa jaringan. Di banyak negara maju, pendekatan ini dipandang sebagai salah satu tonggak penting transformasi kesehatan abad ke-21. Harapannya bukan lagi hanya menekan gejala penyakit, melainkan memperbaiki fungsi organ dan kualitas hidup pasien.
Dalam sesi awal forum, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan tampil sebagai salah satu narasumber utama. Ia dikenal sebagai akademisi senior dari Universitas Sriwijaya dengan latar belakang dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi. Kombinasi pengalaman klinis, riset, dan kepemimpinan membuat pandangannya relevan dalam isu terapi maju berbasis sains.
Prof Radiyati menyoroti perkembangan riset terkait penyakit degeneratif kronis seperti Osteoarthritis. Penyakit yang kerap dianggap persoalan penuaan itu kini dipahami jauh lebih kompleks, melibatkan peradangan, gangguan metabolik, hingga kerusakan struktur sendi. Karena itu, pendekatan terapinya dituntut lebih personal dan berbasis bukti ilmiah.
Sesi berikutnya dijadwalkan menghadirkan Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., sebagai narasumber utama. Kehadiran Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia dinilai penting karena pengembangan ATMP tidak hanya bertumpu pada riset, tetapi juga membutuhkan kerangka regulasi yang adaptif, akuntabel, dan mampu menjaga keselamatan pasien.
Dalam konteks terapi maju seperti Stem cell, secretome, maupun produk bioteknologi lain, regulator memegang peran sentral untuk memastikan inovasi dapat berkembang tanpa mengabaikan standar keamanan, mutu, dan efektivitas. Karena itu, forum ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan kepentingan ilmiah, industri, dan kebijakan publik.
Indonesia memiliki modal awal yang tidak kecil: perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan, talenta peneliti muda, serta pasar domestik yang luas. Namun, modal itu memerlukan jembatan berupa kebijakan adaptif, pendanaan riset berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor yang nyata. Tanpa itu, inovasi akan berhenti sebagai publikasi ilmiah semata.
Forum di Jakarta ini memberi sinyal bahwa pembicaraan mengenai terapi masa depan tidak lagi berada di ruang terbatas kalangan akademik. Ia mulai masuk ke meja kebijakan, dunia usaha, dan ruang publik. Pertanyaannya kini bukan apakah Indonesia siap mengikuti perkembangan itu, melainkan seberapa cepat negara ini mampu menyiapkan tata kelola yang tepat.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi kesehatan selalu bermuara pada satu hal: harapan pasien. Dan harapan itu hanya akan tumbuh jika ilmu pengetahuan, industri, dan negara berjalan searah