Hadiri Leadership Camp ASN Sulsel, Amran Tekankan Reformasi Pertanian

Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat memberi materi di kegiatan Ramadan Leader Camp Pemprov Sulsel. (ist)
menitindonesia, MAKASSAR — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kepemimpinan yang berani mengubah sistem menjadi kunci menjaga kedaulatan pangan sekaligus mendorong lompatan ekonomi nasional.
Hal itu disampaikan saat memberi arahan pada Leadership Camp ASN Sulawesi Selatan di Asrama Haji Sulsel, Kamis (26/2/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dan Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko.
Di hadapan ASN, Amran menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan integritas dan keberanian mengambil keputusan.
“Kalau kita hanya melakukan hal yang sama dan berharap hasil berbeda, itu tidak masuk akal. Kita harus berani ubah sistem, Indonesia bisa melompat,” tegasnya.

BACA JUGA:
Di RLC Pemprov Sulsel, Polda Tekankan Pencegahan Korupsi

Amran memaparkan reformasi tata kelola pupuk bersubsidi dengan memangkas 145 regulasi dan menyederhanakan jalur distribusi. Sistem yang sebelumnya panjang kini dipangkas lebih ringkas dengan melibatkan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia, dan Gapoktan atau pengecer sebagai ujung distribusi.
Menurutnya, langkah tersebut menurunkan biaya pupuk bersubsidi hingga 20 persen serta menambah volume 700 ribu ton tanpa tambahan anggaran. Pemerintah juga merencanakan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru guna memperkuat ketahanan pasokan nasional.
Selain reformasi pupuk, Amran menekankan pentingnya hilirisasi komoditas strategis agar Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah.
“Jangan ekspor mentah. Nilai tambahnya harus untuk rakyat,” ujarnya.
Ia mencontohkan potensi hilirisasi kelapa yang dinilai kian besar seiring pergeseran konsumsi global ke produk nabati. Nilai ekonominya disebut bisa mencapai Rp5.000 triliun.
Begitu pula komoditas gambir dan CPO. Indonesia menguasai sebagian besar bahan baku, namun pengolahan dan nilai tambah masih banyak dinikmati negara lain.
“Baru tiga komoditas saja kalau dihilirisasi bisa menghasilkan Rp15 ribu triliun,” klaimnya.
Amran menegaskan, transformasi pertanian bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi menyangkut kemandirian dan martabat bangsa di tengah persaingan global.
“Jangan hanya berdoa, tapi harus bertindak. Indonesia harus dipaksa maju,” pungkasnya.