Taruna Ikrar Alarm Darurat Ketahanan Obat

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, memimpin dialog bersama pelaku industri farmasi dan Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Aula Bhinneka Tunggal Ika, BPOM RI, Jakarta, Rabu (6/5/2026). Dalam forum tersebut, BPOM menegaskan pentingnya penguatan ketahanan obat nasional untuk menghadapi dampak geopolitik global terhadap stabilitas harga dan akses obat di Indonesia.
  • Geopolitik global mengguncang rantai pasok farmasi. BPOM mengumpulkan industri obat nasional untuk menyiapkan langkah mitigasi menjaga stabilitas harga dan akses obat masyarakat.
menitindonesia, JAKARTA — Di tengah eskalasi geopolitik global yang mengguncang rantai pasok dunia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengambil langkah strategis dengan mempertemukan regulator dan pelaku industri farmasi nasional dalam satu forum dialog terbuka.
Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menegaskan bahwa ketahanan obat nasional tidak lagi semata-mata dipandang sebagai isu industri kesehatan, melainkan telah menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi dan kedaulatan bangsa.
BACA JUGA:
Prabowo Setujui Rekomendasi KPRP, Polri Tetap Langsung di Bawah Presiden
Pernyataan itu disampaikan Taruna dalam kegiatan Dialog Kepala BPOM dengan Pelaku Usaha Industri Farmasi dan Pedagang Besar Farmasi (PBF) bertajuk “Menjaga Ketahanan Obat Nasional sebagai Respons Kesiapsiagaan Dampak Geopolitik Global terhadap Stabilitas Harga dan Akses Obat di Indonesia” yang digelar di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kantor BPOM RI, Jakarta, Rabu (6/5/2026)
Forum tersebut dihadiri pimpinan industri farmasi nasional, Pedagang Besar Farmasi (PBF), jajaran Deputi BPOM I William Adi teja dan jajaran Kedeputian Bidang Pengawasan Obat BPOM, serta Pakar Ahli Sediaan Farmasi Rita Endang, serta pejabat pengawas farmasi dan makanan di lingkungan BPOM.
Dalam forum yang berlangsung serius namun konstruktif itu, BPOM membuka ruang komunikasi dua arah dengan pelaku usaha untuk membaca secara langsung dampak geopolitik global terhadap sektor farmasi nasional, sekaligus menyusun langkah mitigasi bersama.
“Ketahanan obat adalah bagian dari ketahanan kesehatan, resiliensi ekonomi, dan kedaulatan bangsa. Karena itu, menjaga ketersediaan dan akses masyarakat terhadap obat menjadi tanggung jawab bersama,” kata Taruna.
Menurutnya, tekanan global saat ini bukan ancaman yang bisa dipandang ringan. Konflik di kawasan strategis dunia, khususnya Timur Tengah, telah memicu gangguan rantai pasok internasional, lonjakan biaya logistik, serta kenaikan harga berbagai bahan baku farmasi dan komponen pendukung industri obat.
Indonesia, kata dia, masih menghadapi kerentanan struktural karena sekitar 94 persen bahan baku farmasi nasional masih bergantung pada impor.

Picsart 26 05 07 02 18 05 890 11zon

Konsolidasi Nasional Hadapi Krisis Global

“Setiap disrupsi global akan langsung mempengaruhi kesinambungan produksi dan ketersediaan obat di dalam negeri. Inilah yang harus kita antisipasi bersama sejak sekarang,” ujarnya.
BACA JUGA:
Reformasi Polri Masuk Babak Baru, 6 Poin Disetujui Presiden Prabowo
Dalam paparannya, Prof Taruna menekankan pentingnya transformasi industri farmasi nasional menuju sistem yang lebih mandiri, adaptif, dan berdaya tahan tinggi terhadap gejolak global.
Ia mendorong industri farmasi memperkuat diversifikasi sumber bahan baku, meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat manajemen stok, hingga mengembangkan bahan baku lokal sebagai strategi jangka panjang menuju kemandirian farmasi nasional.
Sementara itu, Pedagang Besar Farmasi (PBF) diminta mengambil peran lebih aktif dalam menjaga kesinambungan distribusi dan sistem peringatan dini nasional.
“Kolaborasi adalah kunci. Pemerintah dan pelaku usaha harus membangun keterbukaan data dan sinergi kuat agar masyarakat tetap memperoleh akses obat yang aman, bermutu, dan terjangkau,” tutur Taruna.
BPOM, lanjutnya, juga menyiapkan sejumlah langkah mitigasi regulatori yang tetap menjaga aspek keamanan, mutu, dan khasiat obat, termasuk percepatan proses persetujuan perubahan sumber bahan baku dan penguatan monitoring stok nasional.
Bagi BPOM, forum dialog tersebut bukan sekadar agenda koordinasi rutin, melainkan momentum konsolidasi nasional menghadapi ancaman global yang nyata.
“Momentum krisis global harus menjadi titik balik untuk membangun industri farmasi Indonesia yang lebih mandiri, inovatif, dan memiliki daya saing global,” kata Taruna.
Di akhir forum, BPOM dan pelaku industri sepakat memperkuat koordinasi serta mempercepat langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan obat bagi masyarakat Indonesia.
Meta Description SEO:
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar memperingatkan ancaman geopolitik global terhadap ketahanan obat nasional dalam dialog bersama industri farmasi dan Pedagang Besar Farmasi di Jakarta.
Tag SEO Google News:
Taruna Ikrar, BPOM, ketahanan obat nasional, industri farmasi, geopolitik global, harga obat, akses obat, rantai pasok farmasi, Pedagang Besar Farmasi, bahan baku farmasi, BPOM RI, farmasi Indonesia