Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto saat Membuka Rakernas XVIII APEKSI 2026 di Medan. (ist)
menitindonesia, MEDAN – Kota Makassar menjadi salah satu daerah yang mencuri perhatian dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Tahun 2026 di Medan, Sumatera Utara.
Sorotan itu muncul setelah capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Makassar masuk dalam jajaran daerah dengan kinerja pendapatan yang dinilai positif dalam forum yang dihadiri ratusan kepala daerah se-Indonesia tersebut.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, hadir langsung dalam pembukaan Rakernas XVIII APEKSI yang berlangsung di Grand City Hall, Jalan Balai Kota, Medan, Rabu (1/7) malam.
Kegiatan itu secara resmi dibuka Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto.
Dalam sambutannya, Bima Arya mengajak seluruh pemerintah kota untuk terus menghadirkan inovasi dan meninggalkan pola pembangunan yang bersifat konvensional.
Menurutnya, kota-kota di Indonesia kini menjadi motor penggerak transformasi pembangunan nasional melalui berbagai terobosan yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat kapasitas fiskal daerah.
“Hari ini saya melihat dengan bangga dan optimistis bagaimana kota-kota menjadi transformer dan survivor dengan berbagai inisiatif kepemimpinan yang luar biasa,” ujar Bima Arya.
Dalam pemaparan yang disampaikan pada Rakernas tersebut, Kota Makassar disebut sebagai salah satu daerah dengan capaian PAD yang menonjol. Realisasi PAD Makassar tercatat mencapai angka 194,67 persen dari target yang ditetapkan.
Capaian itu menjadi salah satu indikator keberhasilan daerah dalam mengoptimalkan potensi pendapatan di tengah tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah.
Bima Arya menegaskan praktik-praktik terbaik pembangunan tidak harus selalu dicari hingga ke luar negeri. Menurutnya, banyak daerah di Indonesia yang telah membuktikan keberhasilan melalui inovasi yang lahir dari kebutuhan dan karakteristik wilayah masing-masing.
“Saya merekomendasikan Bapak-Ibu untuk mempelajari secara detail inovasi-inovasi yang dilakukan daerah seperti Kota Malang dan Kota Pekanbaru,” katanya.
Selain mengoptimalkan PAD, Bima juga mendorong pemerintah kota memanfaatkan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) sebagai sumber pembiayaan alternatif pembangunan.
Skema tersebut dinilai mampu mempercepat pembangunan infrastruktur tanpa harus sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ia menyebut sejumlah kota seperti Semarang, Samarinda, dan Madiun telah berhasil menerapkan KPBU untuk mendukung percepatan pembangunan di daerah masing-masing.
Tak hanya itu, Wamendagri juga mengingatkan pentingnya membangun identitas daerah atau city branding yang kuat sebagai strategi meningkatkan daya saing kota.
Menurutnya, city branding bukan sekadar slogan atau pencitraan, melainkan representasi kondisi daerah saat ini, sejarah yang dimiliki, serta visi besar yang ingin diwujudkan pada masa mendatang.
“Branding bukan hanya pencitraan. Branding yang baik adalah citra hari ini, cerita masa lalu, dan cita-cita masa depan,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menilai Rakernas APEKSI menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antarpemerintah kota dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan perkotaan.
Menurut Munafri, APEKSI memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya kebijakan yang mampu menjaga kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat ketahanan kota di tengah perubahan yang terus berkembang.
“Asosiasi Pemerintah Kota memiliki peran penting dalam memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal, sekaligus menghadirkan pembangunan yang tangguh dan mampu menjawab berbagai dinamika yang terus berkembang,” ujarnya.
Politisi yang akrab disapa Appi itu menegaskan kehadiran para kepala daerah dalam Rakernas APEKSI bukan sekadar memenuhi agenda rutin organisasi.
Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi, berbagi praktik terbaik, serta merumuskan kebijakan pembangunan perkotaan yang adaptif, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.
“Melalui forum Rakernas APEKSI, berbagai isu strategis perkotaan dibahas bersama, mulai dari peningkatan pelayanan publik, penguatan ketahanan kota, transformasi digital pemerintahan, pengembangan ekonomi daerah hingga penguatan kolaborasi antarwilayah dalam mendukung program pembangunan nasional,” kata Appi.