Meski sangat berbahatya, sejumlah siswa melintas di jembatan Pakere yang rubuh. (Bkr)
menitindonesia, MAROS – Kabar baik bagi warga Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Setelah roboh sejak November 2025 dan memaksa masyarakat memutar hingga beberapa kilometer, pembangunan kembali Jembatan Pakere atau Jembatan Haji Bohari kini resmi memasuki tahap tender.
Jembatan yang berada di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa, itu merupakan akses utama penghubung Desa Tanete dan Desa Bontotallasa. Selama hampir delapan bulan terakhir, aktivitas warga terganggu akibat putusnya jalur vital tersebut.
Warga dari Desa Tanete yang hendak menuju pusat Kota Maros terpaksa menggunakan jalur alternatif melalui Jalan Poros Bantimurung dengan jarak hampir tujuh kilometer. Sementara jalur lainnya harus ditempuh melalui wilayah Ammarang, Kecamatan Tanralili, dengan jarak sekitar sembilan kilometer.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan seluruh persyaratan administrasi untuk pembangunan jembatan telah diselesaikan, termasuk proses hibah lahan warga yang terdampak proyek.
Menurut Chaidir, salah satu kendala yang sempat dihadapi adalah status kepemilikan lahan di salah satu ujung jembatan yang masih milik masyarakat. Namun persoalan tersebut kini telah tuntas melalui mekanisme hibah kepada pemerintah daerah.
“Seluruh administrasi sudah selesai, termasuk hibah lahan. Saat ini proses pembangunan sudah masuk tahap tender,” kata Chaidir.
Selain penyelesaian administrasi, Pemkab Maros juga melakukan penyesuaian Rencana Anggaran Biaya (RAB) akibat kenaikan harga material konstruksi. Meski demikian, nilai anggaran tahap pertama tetap dipertahankan sebesar Rp3 miliar.
Chaidir menegaskan penyesuaian hanya dilakukan pada aspek teknis pekerjaan tanpa mengurangi kualitas konstruksi yang akan dibangun.
“Penyesuaian hanya dilakukan pada volume pekerjaan dan beberapa komponen teknis yang perlu dievaluasi, tanpa mengurangi kualitas bangunan,” ujarnya.
Pemkab Maros menargetkan proses tender dapat segera rampung sehingga pekerjaan fisik mulai berjalan sekitar dua bulan ke depan atau pada September 2026.
Pembangunan Jembatan Haji Bohari akan dilaksanakan secara bertahap melalui skema tahun jamak (multi-years). Pada tahap awal, pekerjaan difokuskan pada pembangunan struktur bawah, termasuk pemasangan tiang pancang dan fondasi di kedua sisi jembatan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTRPP Maros, Muhammad Alif Husnaeni, menjelaskan anggaran Rp3 miliar yang dialokasikan tahun ini memang diprioritaskan untuk pembangunan fondasi sebagai penopang utama konstruksi.
“Anggaran tahun ini fokus pada pembangunan struktur bawah jembatan, termasuk pekerjaan fondasi dan tiang pancang,” jelasnya.
Ia menambahkan, proyek Jembatan Haji Bohari menjadi salah satu prioritas utama pemerintah daerah karena memiliki peran strategis dalam mendukung mobilitas warga dan aktivitas ekonomi masyarakat di Kecamatan Simbang.
Secara keseluruhan, pembangunan jembatan tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar. Nilai itu masih berpotensi bertambah apabila terjadi kenaikan harga material konstruksi pada tahun-tahun mendatang.
Pemerintah Kabupaten Maros menargetkan pembangunan Jembatan Haji Bohari dapat rampung pada 2027. Namun realisasi penyelesaian proyek tetap bergantung pada kemampuan keuangan daerah dalam mengalokasikan anggaran lanjutan.
Jika rampung sesuai target, jembatan ini akan mengakhiri kesulitan warga yang selama berbulan-bulan harus memutar jauh untuk beraktivitas dan kembali membuka akses utama penghubung antarwilayah di Kecamatan Simbang.