Telkom Gandeng Yayasan Maleo Latih 250 Siswa Makassar Jadi Duta Anti-Bullying

SONY DSC

menitindonesia, Makassar PT Telkom Indonesia melalui unit Social Responsibility Center menggandeng Yayasan Maleo Talenta Cendekia untuk menggelar program “Well-being and AI Camp” di Makassar, Sulawesi Selatan. Program ini menyasar 10 SMA dengan melibatkan 250 siswa yang nantinya akan dikukuhkan sebagai Duta Anti-Bullying di sekolah masing-masing.

Manajer Economic Law & Governance Development Telkom Indonesia Unit Social Responsibility Center, Aline Zivana, mengatakan program ini lahir dari keprihatinan terhadap fenomena yang dialami Generasi Z, khususnya siswa jenjang sekolah menengah atas.

“Mereka sedang berada pada fase pencarian jati diri dan di saat yang sama dihadapkan pada perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence. Kondisi tersebut membuat sebagian dari mereka belum bijak dalam memanfaatkan teknologi,” ujar Aline.

Ia menyebut berbagai fenomena seperti FOMO terhadap konten digital, bullying, hingga cyberbullying menjadi latar belakang utama program ini digagas. Menurut Aline, pihaknya ingin sekolah memiliki ekosistem yang aman, nyaman, cerdas, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan AI, tanpa harus menjauh dari teknologi itu sendiri.

“Kami tidak ingin menjauh dari AI, tetapi justru merangkul teknologi tersebut. Kami ingin mengajarkan kepada Generasi Z agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan menjadi kreator dan problem solver,” katanya.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari dan dirancang sebagai tahap awal membangun kesadaran atau awareness. Pada hari pertama, peserta dibekali pemahaman mengenai dampak negatif perkembangan teknologi seperti cyberbullying dan FOMO. Hari kedua, siswa belajar AI prompting untuk membuat kampanye digital berupa poster maupun video. Pada hari ketiga, seluruh karya dipresentasikan dan disiarkan langsung melalui podcast serta live streaming agar dapat disaksikan masyarakat luas secara nasional.

Sebanyak 250 siswa peserta akan mengenakan pin khusus sebagai tanda pengukuhan Duta Anti-Bullying dan menjalankan program pendampingan lanjutan selama enam bulan. Selama periode tersebut, mereka bertugas mengajak teman-teman di sekolah untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental, berani melapor jika terjadi perundungan, serta mendampingi teman yang mengalami kesulitan.

Aline menambahkan, program ini merupakan kelanjutan dari pilot project yang sebelumnya dilaksanakan di Bukittinggi, Sumatera Barat, bersama lima SMA Negeri dengan sekitar 350 peserta. Makassar dipilih sebagai kota kedua karena dinilai menjadi salah satu gerbang kawasan timur Indonesia dengan potensi kasus cyberbullying yang perlu mendapat perhatian.

“Target utama yang ingin kami capai adalah meningkatnya skor well-being sekolah, menurunnya angka bullying, serta meningkatnya literasi digital, khususnya pemanfaatan AI secara positif,” ujarnya.

Ke depan, Telkom berencana memperluas program ini ke sejumlah kota lain seperti Lampung dan Semarang, mengingat isu bullying dinilai semakin memerlukan perhatian serius.

(YUKI)