Bupati Maros Kawal Kasus TKI Tewas di Armenia, KBRI Kyiv Turut Bergerak

Bupati Maros, Chaidir Syam. (ist)
menitindonesia, MAROS — Pemerintah Kabupaten Maros bergerak mengawal penanganan kasus meninggalnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Valenth Alexie Tamboto (24), di Armenia.
Korban yang baru beberapa bulan bekerja di negara tersebut diduga menjadi korban pembunuhan dan saat ini kasusnya masih dalam penyelidikan aparat setempat.
Valenth merupakan warga Dusun Rimau, Desa Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe. Kabar meninggalnya pemuda itu mengejutkan keluarga dan masyarakat setempat karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan pemerintah daerah telah mengambil langkah cepat dengan mendampingi keluarga korban serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna memastikan proses penanganan berjalan maksimal.
Chaidir mengaku pertama kali mengetahui informasi tersebut dari media sosial dan sejumlah laporan yang diterimanya. Setelah itu, ia langsung menginstruksikan Dinas Tenaga Kerja Maros untuk menemui keluarga korban.

BACA JUGA:
64 Desa di Maros Diaudit, Kades Wajib Tuntaskan Temuan Jika Ingin Nyalon Lagi

“Kami baru mendapat informasi kemarin dari media sosial dan beberapa laporan. Kami sudah mengunjungi keluarga untuk memberikan semangat dan insyaallah mencari jalan keluarnya,” kata Chaidir, Selasa (21/7/2026).
Selain memberikan pendampingan kepada keluarga, Pemkab Maros juga berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Menurut Chaidir, kementerian telah menindaklanjuti laporan tersebut dan menjalin komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kyiv, Ukraina, yang membawahi urusan diplomatik Indonesia untuk Armenia.
“Update sampai sekarang sudah dilakukan tindak lanjut dari kementerian dan sudah melakukan komunikasi dengan KBRI Kyiv. Mudah-mudahan informasi dari KBRI bisa segera turun karena masih dalam tahap investigasi. Kementerian juga menyampaikan akan melaporkan perkembangan kepada kami,” ujarnya.
Chaidir menegaskan pihaknya akan terus mengawal proses tersebut hingga keluarga mendapatkan kepastian terkait penyebab kematian korban dan pemulangan jenazah ke Indonesia.
“Kami akan terus berusaha supaya doa keluarga adinda Valenth ini, agar jenazahnya bisa dipulangkan ke Indonesia, bisa kita wujudkan. Kita doakan bersama,” tuturnya.
Untuk memperkuat pengawalan kasus itu, Chaidir juga mengaku telah meminta bantuan Anggota DPR RI asal Sulawesi Selatan, Ashabul Kahfi, agar turut berkoordinasi dengan pihak terkait di tingkat pusat.
Kepala Desa Moncongloe Lappara, Sirajuddin, mengatakan keluarga korban telah menetap di wilayahnya sekitar empat hingga lima tahun terakhir. Valenth dikenal sebagai anak sulung dari tiga bersaudara.
Menurut Sirajuddin, korban baru sekitar tiga bulan bekerja di Armenia sebagai pekerja migran Indonesia. Sebelum itu, ia sempat bekerja di Filipina selama beberapa tahun.
Meski informasi yang beredar menyebut korban diduga menjadi korban pembunuhan, pemerintah desa hingga kini masih menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang.
“Kalau informasi yang beredar memang diduga pembunuhan. Tapi kami masih menunggu informasi resmi,” katanya.
Percakapan Terakhir Sebelum Kabar Duka
Adik korban, Arnold Tamboto, mengungkapkan dirinya masih sempat berkomunikasi dengan sang kakak melalui aplikasi Telegram pada dini hari sebelum kabar duka diterimanya.
Menurut Arnold, percakapan terakhir mereka berlangsung seperti biasa. Setelah itu, seluruh pesan yang dikirimnya tidak lagi mendapat balasan.
“Setelah tanya kabar tengah malam sudah putus kontak. Besok paginya saya chat lagi, tapi Telegram-nya masih centang satu. Siang saya chat lagi masih centang satu. Sore saya chat lagi masih centang satu. Terakhir saya chat sekitar jam tujuh malam juga masih centang satu,” ungkap Arnold.
Saat itu ia mengira kakaknya sedang beristirahat karena bertepatan dengan hari libur kerja. Namun malam harinya, sekitar pukul 23.30 Wita, ia menerima telepon dari pamannya yang menyampaikan kabar yang mengubah segalanya.
“‘Noe, kamu sudah siap dengar ini? Kakakmu meninggal.’ Saya langsung syok. Saya hanya diam setelah mendengar itu,” kenangnya.
Tak lama berselang, Arnold kembali menerima panggilan yang disambungkan dengan kekasih Valenth untuk memastikan kabar tersebut.
Arnold juga mengaku mendapat informasi bahwa salah satu orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut merupakan warga Makassar. Pria itu disebut-sebut sebagai teman sekamar korban sekaligus pihak yang merekrut Valenth bekerja di Armenia.
“Dia yang dicurigai sebagai otak pembunuhan ini. Dia yang meng-hire kakak saya, tapi dia juga sudah ditangkap,” ujarnya.
Meski demikian, informasi mengenai dugaan pelaku maupun motif pembunuhan tersebut masih berdasarkan keterangan yang diterima keluarga. Hingga kini, aparat penegak hukum di Armenia masih melakukan penyelidikan dan belum mengumumkan hasil resmi terkait penyebab kematian maupun pihak yang bertanggung jawab atas kasus tersebut.