BINUS Hadirkan Perpustakaan Digital Offline di Pelosok Sulsel, 7.000 Materi Belajar Bisa Diakses Tanpa Sinyal

Tim dari BINUS University bersama Yayasan Pendidikan Lontara Hijau saat mengunjungi salah satu sekolah terpencil di wilayah Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. (ist)
menitindonesia, MAROS – Keterbatasan akses internet masih menjadi hambatan besar bagi sekolah-sekolah di wilayah pelosok Indonesia untuk menikmati pembelajaran berbasis digital.
Menjawab persoalan tersebut, BINUS University menghadirkan PusGita (Perpustakaan Digital Offline) versi 6.0, sebuah inovasi yang memungkinkan ribuan materi pembelajaran diakses tanpa koneksi internet.
Program yang berlangsung pada 3–7 Agustus 2026 itu dilaksanakan di Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Lontara Hijau sebagai mitra pelaksana di lapangan.
PusGita merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat BINUS University yang difokuskan untuk memperluas akses pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Melalui teknologi perpustakaan digital offline, sekolah yang selama ini terkendala jaringan internet tetap dapat memanfaatkan pembelajaran digital secara optimal.

BACA JUGA:
Lepas Peserta Jambore Nasional, Bupati Maros Bagikan Uang Saku Rp 500 Ribu

Perangkat PusGita menyimpan lebih dari 7.000 konten pembelajaran, mulai dari e-book, video edukasi, materi pelajaran jenjang SD hingga SMA, ensiklopedia, hingga buku cerita yang mengajarkan nilai karakter dan budi pekerti. Seluruh koleksi dapat diakses tanpa kuota internet maupun jaringan seluler.
Di Sulawesi Selatan, program ini menyasar tiga desa yang selama ini menghadapi tantangan akses pendidikan digital, yakni Desa Bonto Manurung di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Desa Nepo di Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, serta Desa Lembang Mesakada di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.
Bagi sekolah-sekolah yang berada di kawasan kaki gunung, kehadiran PusGita menjadi angin segar. Kini para siswa dapat mengakses ribuan buku dan materi pembelajaran digital kapan saja tanpa harus bergantung pada kualitas jaringan internet.
PIC BINUS University, Olifia Rombot, mengatakan PusGita merupakan bentuk komitmen kampus dalam menghadirkan pemerataan akses pendidikan melalui inovasi teknologi yang mudah dimanfaatkan masyarakat.
“Pendidikan yang berkualitas seharusnya dapat diakses oleh setiap anak Indonesia tanpa dibatasi kondisi geografis maupun keterbatasan infrastruktur. Melalui PusGita, kami ingin menghadirkan solusi sederhana yang mampu memberikan dampak besar bagi dunia pendidikan,” ujar Olifia.
Menurutnya, kehadiran perpustakaan digital offline diharapkan mampu meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta membuka kesempatan yang lebih besar bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Direktur Yayasan Pendidikan Lontara Hijau, Yohanes Benediktus, menilai PusGita menjadi harapan baru bagi sekolah-sekolah di kawasan terpencil yang selama ini kesulitan memperoleh sumber belajar digital.
“Anak-anak di sekolah kaki gunung memiliki semangat belajar yang luar biasa, tetapi masih dibatasi akses internet. PusGita menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia pengetahuan tanpa harus bergantung pada jaringan internet,” katanya.
Ia berharap kehadiran program tersebut mampu menghadirkan kesempatan belajar yang lebih setara bagi anak-anak di pelosok.
Sejak dikembangkan BINUS University, PusGita telah didistribusikan ke lebih dari 80 desa di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Di Sulawesi Selatan, implementasi program didampingi Yayasan Pendidikan Lontara Hijau agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan melalui pendampingan kepada sekolah, guru, dan masyarakat.
Melalui program ini, BINUS University berharap akses terhadap sumber belajar digital semakin merata, budaya literasi semakin tumbuh, serta anak-anak di daerah terpencil memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensi mereka.
“Ketika jaringan internet belum mampu menjangkau ruang-ruang kelas di pelosok, PusGita hadir membawa ribuan buku dan pengetahuan tanpa memerlukan sinyal. Karena setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan belajar yang sama, di mana pun mereka berada,” tutup Yohanes.