
Jejak Digital Taufan Terunggah – Arah dukungan calon ketua di Musda Golkar Sulsel mengerucut pada dua nama kandidat, Supriansa atau Taufan Pawe. Proses politik di luar arena makin seru. Nego kandidat masih alot. Airlangga Hartarto berpesan, agar pemilihan ketua dilakukan secara mufakat.
menitindonesia.com, JAKARTA – Kalau tak ada aral melintang, pemilihan Ketua DPD I Golkar Sulsel pada Musda ke X Golkar yang digelar di The Sultan Hotel Jakarta, ditentukan malam ini, Jumat (7/8). Dari arena Musda, santer terdengar, jika dua kandidat yang menguat, yakni Anggota DPR RI Komisi III Supriansa dan Walikota Parepare H. Taufan Pawe.
Semula, Taufan Pawe tidak dihitung karena dia hanya mendapatkan dua surat dukungan, yakni dukungan DPD II Golkar Parepare dan dukungan DPD II Golkar Wajo. Namun, eskalasi berubah, karena adanya lobby yang menarik dukungan Hamka B Kady ke Taufan Pawe.
Apakah Hamka yang semula mewakili faksi status quo dan Syamsuddin Hamid yang juga didukung Golkar Pangkep dan Golkar Makassar itu, tidak masuk gelanggang sehingga terjadi head to head antara Supriansa vs Taufan Pawe?
Jika Hamka dan Hamid tidak masuk gelanggang, maka arah penentuan kandidat akan tertuju pada dua figur: Supriansa atau Taufan Pawe. Dari pemantauan di arena Musda, dilaporkan dukungan terhadap Supri – begitu nama Supriansa biasa dipanggil – terbilang paling solid. Apalagi adanya keputusan DPP Golkar mengembalikan hak suara Plt ketua- ketua Golkar di Sulsel yang dipecat sebelum Musda. Empat suara Plt Ketua DPD II yang dipulihkan, tegas mendukung Supri yang memegang surat diskresi Ketua Umum Airlangga Hartarto.
Suara DPD II yang dipulihkan yakni DPD II Takalar dikembalikan ke Rangga, Suara DPD II Gowa dikembalikan ke Plt Ketua Hoist Bachtiar, Suara DPD II Sinjai dikembalikan ke Plt Ketua Iskandar Zulkarnaen Latif dan suara DPD II Kota Palopo dikembalikan ke Plt Ketua Armin Mustamin Toputiri. Ke empatnya bergabung ke Supriansa.
Saat membuka Musda kemarin, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Roem Kono, memberikan isyarat pesan ketua umum Airlangga. Roem Kono, bilang harapan ketua umum agar Musda X Golkar Sulsel memilih ketua DPD secara mufakat.
Artinya skenario “menggunting dalam lipatan” jika terjadi head to head yang dimainkan oleh Taufan, sulit untuk dijalankan karena DPP bekerja maksimal agar diskresi yang diberikan ke Supri selesai di Musda melalui mufakat.
Jauh sebelum Musda, Taufan juga kelihatan kasak-kusuk mengejar dukungan DPP melalui kaki tangannya. Tapi upayanya kandas, karena diskresi ketua umum justru diberikan kepada Supri.
“Ketua Umum DPP Golkar, Airlangga Hartarto, telah mempertimbangkan dengan matang figur yang tepat pengganti Nurdin Halid di Golkar Sulsel,” ujar Andi Kaswadi Razak, Ketua Golkar Soppeng yang juga jabat Bupati Soppeng.
Sebelum Musda dibuka, beredar jejak digital Taufan Pawe yang dishare kembali melalui smartphone oleh peserta Musda.
Beberapa waktu lalu, nama Taufan terseret dalam kasus dugaan suap proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) di Kota Pare-Pare senilai Rp. 40 Miliar.
Kasus dugaan suap DAK di Pare-Pare ini, disoroti oleh Anti Coruption Commitee (ACC) Sulawesi. Direktur ACC Kadir Wakanobun, mendorong kepolisian dan kejaksaan menyelidiki kasus tersebut. Kasus ini mencuat menjadi sorotan publik Januari 2020.
Apakah adanya jejak digital Taufan itu yang menjadi pertimbangan Airlangga Hartarto sehingga berharap agar pemilihan Ketua DPD di Musda Golkar Sulsel itu dilakukan secara mufakat?
“Itulah politik. Jejak digital kadang hadir menjadi kerikil. Apapun itu, Taufan Pawe belum pernah diperiksa dan kasus dugaan suap itu belum masuk ke ranah hukum. Jejak digital tidak selamanya benar, tapi harus dipertimbangkan,” ujar Suryadi, kader Golkar di Sulsel yang menjadi peserta penggembira Musda Golkar, di Jakarta.
Drama penentuan pengganti Nurdin Halid, baru bisa diputuskan malam nanti. Tergantung irama politik dalam Musda nanti, apakah dilakukan voting atau aklamasi. Peserta Musda yang menentukan. (andiesse)













