Pelukan Erwin Aksa Kepada Supri dan Suasana Akrab Peserta Diapresiasi Aktifis dan Pengamat

Erwin Aksa berpelukan dengan Supriansa - keakraban yang susah diretas kepentingan politik jangka pendek.

Catatan : Andi Besse Nabila Saskia
(Memantau Arena Musda Golkar Sulsel)

Cerdas Politik di Musda GolkarPolitik itu cair dan dinamis. Setiap saat bisa berubah. Kadang dinamika politik tergantung dengan  perasaan. Nampak keakraban di arena Musda Golkar Sulsel, yang dihelat di The Sultan Hotel, Jakarta. Sekalipun di luar arena, suhu politik Golkar Sulsel, memanas.

menitindonesia.com, JAKARTA – Situasi Arena Musda Golkar demikian akrab. Tak ada perdebatan yang alot, meskipun antara kandidat sangat alot bernegosiasi. Semua peserta tenang-tenang saja.

Yang menarik perhatian, keakraban yang muncul antara Erwin Aksa dan Supriansa. Setiap bertemu, keduanya saling berpelukan. Semua mata menyorotnya.

Jauh hari sebelum Musda Golkar, Erwin Aksa memang dikenal bersahabat karib dengan Supri – begitu nama Supriansa biasa dipanggil. Banyak peristiwa politik di negeri ini dikerja oleh keduanya. Bahkan saat Supri memutuskan maju sebagai bakal calon Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel menggantikan Nurdin Halid, Erwin Aksa sibuk mengunggah surat diskresi ketua umum Airlangga Hartarto ke Group WhatsApp “Geng Makassar”.

Erwin ingin meyakinkan, bahwa sahabatnya itu mendapatkan diskresi ketua umum Golkar. Dengan bekal surat rekomendasi yang diteken Ketua Umum Airlangga Hartarto dan Sekjen  Lodewijk F Paulus, Supri menemui Panitia Musda, mengembalikan formulir bakal calon ketua Golkar Sulsel, akhir Juli, lalu.

Sejak itu, nyaris setiap saat Erwin Aksa menyemangati Supriansa agar selalu bersemangat dan yakin usahanya sampai. Kemesraan dua sahabat ini, nampak terang benderang di arena Musda. “Mereka tak mungkin saling menyakiti, toh sudah berjuang sama sejak lama,” ujar aktifis 98, Anno Suparno – yang juga hadir memantau Musda Golkar, di Jakarta,

Begitu juga tampak harmonisasi hubungan para pendukung. Misal Bupati Soppeng, Andi Kaswadi Razak. Meskipun berseberangan dengan Bupati Pangkep Syamsuddin Hamid, mereka menampakkan keharmonisan. Andi Kaswadi yang juga Ketua DPD II Golkar Soppeng, dikenal sebagai pendukung Supri di Musda Golkar.

Sedangkan Hamid juga adalah bakal calon ketua yang akan bersaing di Musda. Berseberangan, tapi tetap mesra. Bahkan, jika Syamsuddin Hamid tidak melenggang ke tahapan pemilihan, justru menurut Kaswadi menjadi potensi mendukung agar terjadi mufakat untuk pemegang diskresi ketua umum.

Kaswadi maupun Erwin Aksa, dikenal sebagai tokoh politik yang berkepribadian. Tak mudah baper karena politik. Bukan rahasia umum lagi, Erwin adalah salah satu tokoh yang mendorong Supri maju di Musda. “Jadi jika dia selalu berkomunikasi dan nampak mesra, itu wajar, karena mereka punya misi yang sama,” kata Anno, sahabat Erwin dan Supri.

Dari pemantauan di arena Musda, eskalasi kandidat memang mengalami banyak pergeseran. Diketahui surat dukungan kepada Supri sudah mencapai lebih dari 30 Persen. Kandidat yang juga memiliki surat dukungan lebih 30 persen adalah Hamka B Kady. Taufan Pawe dan Hamid, belum mencukupkan dukungannya 30 persen.

Taufan baru dipastikan didukung oleh Golkar Pare-Pare, Enrekang dan Wajo. Total tiga suara. Sedangkan Hamid, memastikan suara Golkar Pangkep dan suara Golkar Makassar. Jadi Taufan dan Hamid tidak memenuhi syarat untuk maju di Musda jika ditelisik dukungan dari pemiliki suara.

Pemerhati Demokrasi dan HAM, Hasbi Lodang, turut mengamati eskalasi politik regional Sulawesi Selatan. Hasbi bilang, Musda Golkar Sulsel kali ini sarat kepentingan. Selain mengontrol kursi terbesar di DPRD Sulsel, dinamika politik di internal Golkar juga sangat dinamis.

“Banyak kepentingan yang berputar, misalnya kepentingan untuk menjadi calon gubernur, belum lagi kepentingan ekonomi dan bisnis. Salah mengambil keputusan, bisa justru menjadi pertentangan di hari ke depan yang justru merugikan kepentingan mereka. Jadi mereka kalau pandai, mesti berkompromi, bukan berseteru,” ujar mantan komisaris BUMN ini.

Hasbi juga mengapresiasi ketokohan Nurdin Halid, yang menunjukkan sikap gentle dengan menyuruh adiknya Andi Kadir Halid mundur dari bursa calon ketua. Padahal menurut mantan demonstran ini, jika Kadir Halid ikut dalam bursa, peluangnya paling besar karena pengaruh Nurdin Halid masih kuat di Golkar Sulsel.

Pendapat Hasbi itu, juga sama dengan pandangan Pakar Hukum Tata Negara Universitas Hasanuddin Prof Dr. Aminuddin Ilmar, SH, MH, yang menilai Nurdin Halid sebagai salah satu tokoh Golkar yang tahu menempatkan posisi dalam setiap ajang politik. “Nurdin Halid ingin membuat Golkar sejuk, tanpa konflik. Dia tokoh,” ujar Professor Ilmar.

Terkait beredarnya jejak digital Taufan Pawe, Hasbi L juga mengatakan bahwa jejak digital yang menyeret nama Taufan soal dugaan suap dana DAK 40 Milyar Tahun 2016 itu, tak penting diperdebatkan di arena Musda, “Itu adalah urusan penegak hukum, tidak relevan dengan Musda Golkar. Asas praduga tak bersalah harus didahulukan. Tapi untuk menjadi pertimbangan ketua umum ke depan, itu penting tapi tidak untuk dijadikan perdebatan di dalam forum,” ujar Hasbi. (andiesse)



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini